“Kedamaian suasana rumah, menjadi impian pemilik rumah yang bersangkutan. Sebagaimana halnya Gusdurian Muda Malang, sebagai generasi millenial yang beragama memiliki impian Indonesia damai yang berbonus demografi bangsa Indonesia. Dengan merawat, dan menjaga kemanusiaan tersematkan salam deklarasi narasi perdamaian Indonesia”

Generasi muda merupakan salah satu segmen sosial tertinggi yang menjadi anggota pendukung dan rekruitmen kelompok Islam radikal. Beragam mahasiswa lintas agama se Malang Raya, bergerak, penuh wajah tanda tanya, serta rasa peduli untuk berkontribusi kemanusiaan sebagai aksi narasi perdamaian Indonesia.

Kegiatan kemanusiaan yang diselenggarakan oleh gusdurian muda Malang, atas dasar maraknya isu hoax dan ujaran kebencian yang sengaja dipaparkan pada generasi millenial. Bentuk gerakan radikalisme yang berupa verbal , tindakan, hingga sosial tidak bisa dipisahkan dengan peran generasi millenial, yang menyebabkan berkembangnya radikalisme di kalangan generasi muda, ujar Audito Aji Anugrah selaku ketua GARUDA Malang.(Audito/20/08)

Baca Literasi : Perkembangan dan pengelompokan Generasi Howe & straus,W, Millenials rising: the next great generation, New York:Vintage

Perkembangan adanya islam radikal di kalangan pemuda di latar belakangi oleh beragam motif. Menurut Saifuddin bahwa faktor idiologi merupakan penyebab terjadinya perkembangan radikalisme dikalangan mahasiswa. (Saifudin:2011).

Salah satu motif yang melatar belakangi penulis untuk ikut serta dalam aksi kemanusian ini menyelaraskan dan mengisi kesenjangan dalam masyarakat dalam beragama, sehingga terbangunnya segmen masyarakat baik agamadan agamawan dalam menjalin kasih silaturakhim.

Baca Literasi: Agama dan kekerasan Haqqul yakin

Ulasan renyah solusi dan cara menghadapi radikalisme, di paparkan oleh Pak tatok –begitulah Pendeta Kristanto Budi Prabowo dipanggil. Selain budayawan dan dosen di sekolah tinggi teologi Malang, beliau merupakan bagian dari presidium Gusdurian Jawa Timur. Sehingga peran dalam narasi perdamaian yang di tuturkan beliau membawa pengaruh besar sebagai agamawan dalam beragama, terutama di hadapan mahasiswa lintas agama se Malang Raya.

Sebagai agamawan Tatok menawarkan tiga fragmen kajian pokok, yakni memahami sesuatu yang sudah ada di depan mata, beraktifitas sebagai aktualisasi diri atau untuk melengkapi kesenjangan di masyarakat serta refleksi diri untuk menjawab tantangan generasi millenial.

Ketiga fragmen ini saling bersinergi, untuk membangun narasi perdamaian melalui kearifan lokal sekitar. Melalui kearifan lokal yang paling sederhana yakni “Menghargai”, melatih untuk bisa memahami nilai yang terjadi secara kontekstual dan tidak mudah mendogmatis. Nilai saling menghargai menggugah untuk bangkitnya rasa kemanusiaan di tengah polemic konflik beragama di masyarakat (Tatok/20/08).

Dalam teori filsafat Thomas kunt mengenai “nilai”, diambil dari proses asumsi-asumsi dan realitas kehidupan. Namun yang terjadi di masyarakat umumnya, menerima informasi berasal dari isi yang sudah dipotong-potong, sehingga banyak kekerasan bertebaran terutama di dunia sosial media.

Di era revolusi 4.0, generasi millenial memiliki beragam tantangan, hal ini di siapkan sedinimungkin, agar bonus demografi Negara, melalui pembangunan sumber daya manusia benar-benar bisa di raih oleh bangsa Indonesia. Pdt. tatok  juga memaparkan bahwa tantangan generasi millenial saat ini terletak pada intelektualitas, apresiasi dan ide semu.

Berangkat dari intelektualitas, keilmuan dan status kerja lebih di dominasi oleh kawula muda. Melalui revolusi mental, sebagaimana dalam inpres No 12 tahun 2016 yang mengangkat nilai integritas, etos kerja, gotong royong dan saling mengghargai, bisa membantu untuk menumbuhkan intelektualitas kawula muda terutama mahasiswa. Intelektualitas yang matang, memberikan suara hati untuk terpanggil dalam gerakan kemanusiaan beragama tanpa syarat.

Baca Literasi : Undang Undang Instruktur Presiden No 12 Tahun 2016 Gerakan Revolusi Mental

Sikap apresiasi yang kurang di miliki oleh kawula muda misalnya, dalam berkendara suka nonyol-nonyol ada lampu merah berburu untuk di serobot, memberikan wujud mentalitas yang selalu ingin di depan, kurang bisa menghargai orang lain bahkan diri sendiri.

Selain Kearifan lokal “Menghargai”, bisa selalu menerapkan sikap ojo gampang gumunan, bersikap sederhana. Mengapa tidak kita sederhana dengan yang ada dari pada menonjolkan? terutama menghindari sikap dengan menyematkan kata “Paling” pada diri kita, jika sikap ini masih menempel lekat, maka fenomena yang terjadi saling kompetitif, tutur pak tatok dengan tegas. Dengan landasan demikian, akan meminimalisir aksi beragama tanpa adanya landasan kemanusiaan(Tatok/20/08).

Fenomena yang tidak kalah penting di kalangan kawula muda, terjadinya asumsi ide semu, misalnya generasi muda saat ini banyak yang melihat suatu peristiwa bukan dari sumber aslinya, misalnya melihat keindahan gunung semeru melalui camera Handphone, melihat wanita cantik dari media sosialnya, dll.

Dengan demikian fenomena yang terjadi, krisis mengenali diri sendiri dan orang lain. Asumsi semu ini menghiasi beragam sosial media, sehingga banyak terjadi bullying, saling menghujat, dan akhirnya terprovokasi dengan tulisan yang belum diketahui akar permasalahan yang sebenarnya.

Deklarasi Salam Damai

salam Damai dari sikap yang sering intoleran atau radikalisme dengan memaparkan amanah bersama terutama kawula muda untuk mengkaji kembali dan mengaplikasikan dalam keseharian nilai idiologi pancasila, dan menumbuhkan  kesadaran kontekstual, sehingga mencetak generasi insan kamil sebagai penduduk Indonesia yang memiliki agama dan peran sebagai agamawan.

Dhofir mengulas makna insan kamil dengan ajakan simple, manusia sebelum mempelajari ilmu ketuhanan, seharusnya membangun dan mempelajari ilmu kemanusiaan, sehingga teori behavioristik itu bisa diaplikasikan sebagaimana dalam buku memanusiakan manusia itu bukan mitos (Moch.Mahpur,dkk:2018).

Salam damai tersebut tidak jauh berbeda dengan konsep perdamaian abadi karya seorang ahli filsafat Immanuel kant yang berbunyi Zum ewigen Frieden(menuju perdamaian abadi,1795).(Masykur:2013)

Baca Literasi: Teori Immanuel Kant menuju perdamaian abadi

Sebagai generasi millenial, GARUDA Malang ikut mengkampanyekan salam damai, untuk menumbuhkan kemanusiaan di tengah-tengah polemik keberagamaan di Indonesia. Terutama sembilan nilai gusdurian dengan beragam aktivitas, misalnya tidak memperkeruh suasana didunia media sosial, membuat vlog, Web, IG Cyber community yang bertema kedamaian,  membuat dan mengajak aksi kemanusiaan yang di prakarsai oleh kawula muda, adapun sembilan nilai gusdurian sebagai berikut::

  • Ketauhidan yang bersifat illahi diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, misalnya melakukan pemberdayaan masyarakat di suatu daerah.
  • Kemanusiaan, kemuliaan yang ada dalam diri manusia mengharuskkan sikap untuk saling menghargai dan menghormati, dengan demikian memuliakan manusia berarti memuliakan yang menciptakannya, begitu pula sebaliknya.
  • Keadilan, tidak sendirinya hadir dalam realitas kemanusiaan dan karenanya harus diperjuangkan. Perlindungan dan pembelaan pada kelompok masyarakat yang diperlukan tidak adil, merupakan tanggung jawab moral kemanusiaan.
  • Kesetaraan, meniscayakan adanya perlakuan yang adil, hubungan yang sederajat, ketidaan diskriminasi dan subordinasi, serta marjinalisasi dalam masyarakat, misalnya nilai kesetaraan di daerah pinggiran atau kelompok minoritas.
  • Pembebasan, bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk menegakkan kesetaraan dan keadilan untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk belenggu, misalnya mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka.
  •  Kesederhanaan bersumber dari jalan pikiran substansial, sikap dan perilaku hidup yang wajar dan patut. Kesederhanaan perlawanan atas sikap berlebihan, materialistic, dan koruptif.
  • Persaudaraan bersumber dari prinsip-rinsip penghargaan atas kemanusiaan,keadilan, kesetaraan, dan semangat menggerakan kebaikan. Persaudaraan menjadi dasar untuk memajukan peradaban.
  • Keksatriaan, bersumber dari keberanian untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih.
  • Kearifan Lokal Indonesia di antaranya berwujud dasar Negara Pancasila, konstitusi UUD 1945, prinsuip bhineka tunggal ika, dan seluruh kebudayaan Nusantara yang beradab. Menggerakan kearifan lokal dan menjadikan sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.

Puncak aksi narasi perdamaian, seluruh peserta membacakan bersama-sama deklarasi dan menyatakan narasi perdamaian, adapun salah satu poin isi “Deklarasi Anti Radikalisme Generasi Millenial Gusdurian Muda Kota Malang Dan Generasi Muda Bangsa”, adalah sebagai berikut ini:

Sebagai bangsa yang merdeka, kita telah mendeklarasikan untuk menolak segala bentuk tindakan yang meruntuhkan nilai pancasila, kearifan lokal, dan Indonesia.

Adapun harapan dari narasi perdamaian ini memberikan semangat untuk saling menghargai, toleransi, dan sederhana antar sesama terutama antar lintas beragama.

Selain itu, dengan membangun mentalitas generasi millenial kawula muda, ikut serta membangun sumber daya manusia untuk menyiapkan bonus demografi bangsa Indonesia tahun 2030 yang akan datang. Gerakan sejenis, dengan sekali dayung beberapa pulau terlampaui akan terus di gerakkan oleh GARUDA Malang dan Generasi Muda bangsa Indonesia.

Tentu harapan dari kawula muda ini menarik hati para agama dan agamawan terjun langsung dalam kemanusian secara langsung untuk menikmati kenyamanan di rumah kita bersama Indonesia.(YW/kdr)