Waktu itu langit tampak biru. Angin bertiup cukup kencang. Tak ada awan yang bergelayut manja. Waktu menunjukkan sekitar pukul 08.00 pagi, matahari pun tak lagi malu-malu untuk muncul menerangi sebuah desa di lereng Gunung Sakya (Ungaran) yang sedang menggelar festival seni dan budaya dengan tajuk “Kenteng Fest 2019”.

Saya berjalan kaki menikmati segarnya udara gunung menuju Agrowisata Desa Kenteng tempat diselenggarakannya acara tersebut. Sebagai pamong sebuah sanggar seni dan budaya, tentu saya tak akan melewatkan undangan untuk menyaksikan acara ini.

Untuk menjadi ruang publik, Agrowisata Desa Kenteng memang cukup nyaman. Saat kaki saya mulai menapak untuk yang pertama kalinya pada areal ini, mata saya langsung dimanjakan dengan layang-layang yang membubung tinggi pada langit yang cerah, meliuk ke sana-kemari dengan aneka rupa dan warna, bermain-main dengan terpaan Sang Bayu, bebas terbang bersama burung-burung di langit biru.

Pengunjung masih tampak sepi. Saya pun membuka kembali undangan yang saya terima dan memastikan waktu dimulainya acara. Dan benar saja, ternyata saya datang terlalu awal karena dalam undangan tersebut tertera pukul 10.00 WIB. Namun saya sungguh tidak menyesal, karena saya dapat lebih leluasa menikmati beragam kuliner desa yang disajikan.

Festival yang diselenggarakan pada tanggal 18-19 Agustus 2019 ini memang sekaligus untuk memperingati HUT RI ke-74. 

Di hari pertama, festival layang-layang memang telah memeriahkan festival seni dan budaya ini. Hampir semua dusun turut berpartisipasi, baik untuk kategori sangkutan maupun kreativitas pembuatannya. Bahkan komunitas layang-layang dari Magelang pun turut serta berpartisipasi membubungkan layang-layang naga sepanjang 100 meternya.

Meskipun di dalamnya ada perlombaan atau kompetisi (sayembara), tetapi kemeriahan dan kebersamaan dari warga desa ini benar-benar telah menunjukkan bahwa acara ini memang layak dikatakan sebagai sebuah festival (pesta rakyat). 

Festival sendiri berasal dari kata festa (bahasa latin) dan pesta (dalam bahasa Indonesia) yang berarti pesta besar atau sebuah acara yang meriah dalam rangka memperingati sesuatu yang bisa juga dikatakan sebagai pesta rakyat, dan bukan sebuah perlombaan/kompetisi.

Festival Kuliner Ndeso

Tepat berada di areal Agrowisata Desa Kenteng, tak hanya layang-layang benang panjang saja yang memanjakan mata saya, beragam aneka kuliner khas desa ini pun juga telah memanjakan lidah saya yang lama tak menjumpai sajian lengkap makanan tradisional dalam satu tempat seperti ini.

Saya mencicipi sate ayam dan lontong buatan ibu-ibu salah satu dusun dari desa ini, sebelum menikmati bubur opak yang disajikan dari dusun lainnya. Dengan piring dari anyaman bambu beralaskan daun pisang dan kerupuk dari pati singkong yang disebut opak, bubur opak pun juga telah memikat hati saya. 

Bubur dari nasi yang gurih dan lembut ini tampak meluber di atas kerupuk opak bersama dengan rebusan sayur dan juga saus kacang (pecel) yang tak hanya menyempurnakan penampilannya saja, tapi juga kenikmatan rasanya. 

Dawet cendol, rujak lotis, rujak gobet, bubur kacang hijau, pecel daun pakis, nasi jagung, gethuk, kopi produksi lokal, tahu serasi khas desa ini, gorengan gembrot, jajanan pasar dan banyak lagi yang tersaji dalam festival kuliner makanan tradisional desa ini. 

Masing-masing dusun ternyata memang cukup kreatif dalam memilih menu makanan yang ditampilkan dan juga bagaimana cara menyajikannya. Keramahan warga penyaji dalam menyambut pengunjung pun patut mendapatkan dua jempol.

Seluruh komponen masyarakat desa Kenteng di hari kedua festival ini tampak berduyun-duyun menuju areal Agrowisata Desa Kenteng menyaksikan dan berpartisipasi dalam acara tersebut. Bahkan perwakilan dari dusun-dusun di desa tersebut tampak antusias mengikuti seluruh agenda festival, baik festival layang-layang di hari pertama maupun festival kuliner dan festival gunungan serta gebyar tari massal di puncak acara di hari kedua dengan karnaval (pawai) menuju lokasi.

Karnaval atau pawai yang mengetengahkan bermacam corak busana yang sangat menarik dan kreatif pun memang turut memeriahkan festival ini. Dengan iringan beragam alat, musik mulai dari alat musik tradisional seperti gamelan dan juga drumblek, peserta karnaval pun terlihat antusias menunjukkan beragam hasil kreasi dan padu padan corak busananya. Mulai dari busana daur ulang dengan bahan dasar plastik bekas, daun dan ranting kering, anyaman bambu hingga padu padan corak dari kain. 

Irama musik dari drumblek pun terdengar riuh namun masih terdengar harmoni mengiringi para peserta karnaval dengan ragam rupa dan busana ini. Ada yang mengenakan pakaian adat berbagai suku, pakaian tokoh wayang, tokoh agama, dan banyak lagi. 

Pemilihan tema busana atau kostum yang ditampilkan pun memang cukup beragam dan menunjukkan bahwa sejatinya kita memang kaya dengan keragaman seni dan budaya.

Festival Gunungan

Hanyalah rasa syukur yang terucap saat memandang indahnya karya Tuhan Yang Maha Esa. Di sebuah lapangan tempat saya duduk di antara para undangan lainnya, panorama indah dari Gunung Sakya terhampar megah di bawah langit biru yang cerah. Benar-benar sangat indah hingga saya pun tak bisa berkata apa-apa lagi saat mata saya memandang lepas jauh ke arah Gunung Sakya.

Di bawah terik mentari yang mulai menyengat, para peserta karnaval pun tampak membawa gunungan dari dusunnya masing-masing. 

Festival gunungan ini memang sungguh merupakan ide yang sangat menarik dalam sebuah festival seperti ini, karena dapat membangun kekompakan bagi seluruh warga untuk bersama-sama berkreasi membuat gunungan dari hasil bumi.

Gunungan dari masing-masing dusun pun satu per satu akhirnya berdatangan. Hampir semuanya berisi hasil bumi yang ditata sedemikian rupa mulai dari padi, bunga, sayur-sayuran dan buah-buahan. 

Warna-warni dari gunungan-gunungan tersebut sungguh tampak memikat. Namun mata saya malah tertuju pada satu gunungan yang menampilkan hasil bumi dengan hanya satu jenis saja yakni padi yang disusun memuncak dan membuatnya berbeda dengan yang lainnya. 

Mungkin karena hanya nuansa warna cokelat saja yang mendominasi dari bawah hingga ke puncaklah, yang membuatnya menjadi spesial di antara gunungan-gunungan lainnya yang berwarna-warni dengan nuansa yang hampir sama.

Kenteng Fest 2019 hari itu telah menunjukkan bahwa seni dan budaya mampu menunjukkan empati sosial, kreativitas serta mengokohkan semangat persatuan dan kesatuan warga. Maka, ketika terjadi insiden protes dari beberapa dusun kepada pihak penyelenggara karena mengubah jalur penempatan salah satu dusun yang datang terakhir tanpa pemberitahuan sebelumnya, warga pun dapat segera berbesar hati ketika pihak panitia berbesar hati pula untuk meminta maaf, hingga rangkaian acara secara keseluruhan akhirnya dapat dilanjutkan.

Merupakan momen yang tepat di dalam rangkaian acara festival seni dan budaya seperti ini sekaligus diluncurkannya pula sebuah program Desa Sadar Badan Pemberi Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJSKT) karena hampir seluruh warga desa berada di satu tempat yang sama dengan atmosfer sebuah pesta rakyat.

Seluruh perangkat desa, ketua RT, ketua RW dan juga Linmas telah turut serta dalam program BPJSKT tersebut. Diharapkan pedagang, pengusaha, peternak, petani dan sejumlah pekerja sektor informal juga dapat ikut serta dalam program ini. 

Sosialisasi pada momen semacam ini memang patut diapresiasi. Karena melalui seni dan budaya, kesenjangan sosial maupun ekonomi dapat ditiadakan karena dapat lebur dalam satu energi yang sama.

Gebyar Tari Massal

Tari massal persembahan dari ibu-ibu seluruh desa pun tak kalah memikat dalam rangkaian acara ini. Seluruh ibu-ibu perwakilan dusun di desa ini pun serentak turut berpartisipasi. Gerak gemulai di bawah terik mentari tak menyurutkan semangat mereka. 

Ini benar-benar merupakan pesta rakyat yang membanggakan. Mereka dapat tersenyum lepas dan bisa melepaskan penat dari rutinitas sehari-hari. Menari dengan indah dan memulihkan kembali energi positifnya untuk dibawa pulang ke rumah.

Karena sejatinya sebuah festival bukanlah sebuah perlombaan/kompetisi, maka meskipun ada penilaian sepatut dan sepantasnyalah kita dapat memaknai festival ini sebagai sebuah geliat seni dan budaya yang mulai berkembang di desa ini. 

Seperti seni yang berasal dari  bahasa Sansekerta, yakni sani yang berarti persembahan, maka gunungan yang merupakan simbol dari kehidupan ini sangatlah tepat menjadi bagian dari sebuah festival seni dan budaya. 

Bersama-sama dengan tari massal ibu-ibu yang di dalamnya terdapat gerakan manembah (menyembah), maka sangatlah sinergi bila festival ini memang semata-mata dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai bentuk rasa syukur yang tak terhingga  atas kemerdekaan bangsa kita.

Festival seni dan budaya di sebuah desa di lereng Gunung Sakya memang telah berlalu. Namun, aroma sedapnya bubur opak dan sayuran yang melengkapinya masih menyisakan kenangan indah yang belum bisa ditinggalkan oleh sang waktu menuju hari berikutnya.

Kenteng Fest 2019 adalah sebuah festival seni dan budaya yang pertama kali diselenggarakan di desa ini. Pengalaman pertama tentu dapat membuka berbagai kemungkinan. Peningkatan kualitas manajemen maupun kemasan pertunjukan seni dan budayanya tentu dapat disempurnakan dengan mengambil pengalaman dari yang pertama.

Saya berharap dapat menyaksikan kembali di masa mendatang. Dengan berjalan kaki menghirup segarnya udara pegunungan dan kembali  memandang panorama indahnya Gunung Sakya yang terhampar di bawah langit biru yang cerah.