Setiap daerah memiliki khazanah identitas lokal yang perlu untuk diketahui dan dipahami. Seperti halnya keberadaan kebudayaan di lingkungan daerah, memiliki arti penting bagi pertahanan kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kelompok.

Perlu untuk direnungkan bagi generasi muda yang baru menginjakkan pemikiran dan tindakannya di daerahnya. Bahwa setiap daerah memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, terutama untuk bertahan hidup di lingkungannya.

Sistem maupun perilaku kemanusiaan yang ada di daerah, lokalitas, bisa dilacak dari kajian kehidupan sebelumnya, atau yang sudah pernah terjadi. Perekonomian, perpolitikan, kebudayaan, kesenian, kesejarahan, dan lain sebagainya.

Pangkal dari kehidupan tidak lain dikarenakan ada peradaban manusia dan lingkungan sebelumnya. Segala apa yang sudah terjadi, tergantung pada tujuan dan kemanfaatan pada peristiwa itu sendiri. Pada dasarnya faktor terbentuknya kearifan lokal, tidak lain adanya dinamika perilaku manusia dengan lingkungan ketika membangun maupun bertahan terhadap peradaban yang sedang dijalaninya.

Sebagaimana diketahui, dijalani, dan dimengerti, terlahir dari suasana kehidupan dan lingkungan. Semua manusia, makhluk yang bernyawa pada dasarnya hidup dari kearifan yang terdapat pada diri dan lingkungan. Akal pikiran dan tindakan yang baik, terlahir dari kearifan pada diri yang baik pula, untuk mewujudkan kehidupan yang beradab. Belum banyak disadari, bahwasanya kehidupan manusia melahirkan kearifan lokal yang bernuansa hidup dan sakral religi.

Dari sinilah setidaknya setiap generasi muda mampu mengenali tanah kelahirannya, sebagaimana tujuan mulia untuk bisa membangun peradaban berikutnya dengan baik. Pendokumentasian jejak-jejak sejarah lokal khususnya, mampu dijadikan bahan ilmu pengetahuan antar generasi. Dengan dasar ingin mengembangkan kehidupan berperadaban di lingkungan masyarakat, paling tidak belajar dari sejarah dan budaya.

Pada tulisan paradigma-paradigma sosiologi, Abdul Aziz (2004) menuliskan bahwa gagasan mengenai makna pentingnya paradigma (Paradigms) dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu kealaman, dipopulerkan oleh Thomas S. Kuhn melalui karyanya The Structure of Scintific Revolutions (1970). Pada dasarnya, karya ini merupakan penulisan dan pemahaman tentang sejarah ilmu pengetahuan dengan menggunakan pendekatan yang relatif berbeda dari umumnya penulisan sejarah. 

Perjalanan kehidupan manusia pada suatu daerah tidak bisa dilepaskan peranan penting keberadaan sejarah dan budaya. Apa yang terjadi pada kehidupan masyarakat!menjadi tolok ukur mengenali peradaban yang ada di daerah tersebut. Menarasikan sejarah dan budaya yang masih bisa dijumpai, maka tidak ada salahnya penarasian tersebut dilakukan demi menyongsong ilmu pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Dalam pengertian sekilas di atas, bahwasanya kehidupan manusia memang tidak jauh dari ragam budaya yang dilahirkan dan jejak sejarah yang ditinggalkan. Sebagaimana diketahui, namun tanpa disadari, bahwa nuansa kehidupan manusia sering kali mempererat kehidupannya dengan budaya dan religi. Daerah yang selama ini ada, dan terus berkembang, senantiasa tidak jauh dari aspek sejarah, religi dan budaya.

Secara realistis, kehidupan manusia dan lingkungan menghasilkan etika dan estetika dalam menjalani proses hidup. Inilah prospek kajian demi kajian yang mampu menghadirkan nuansa kearifan lokal antar generasi, sehingga geliat mengenal daerah kelahiran semakin terbuka luas.

Geliat Mengenal Daerah

Untuk mampu mengenali potensi kedaerahan dibutuhkan serangkaian alat ilmu pengetahuan, agar nantinya bisa lebih dekat memahami dan mempelajari potensi daerahnya. Sebagai manusia beradab, tentu khazanah ilmu pengetahuan patut untuk dimilikinya, baik ilmu sejarah, ilmu budaya, ilmu politik, ilmu seni, dan lain sebagainya. Saling berhubungan antarwawasan pengetahuan, akan menjadi bagian utama mengenali potensi kedaerahan.

Maskoeri Jasin (2012) dalam bukunya berjudul Ilmu Alamiah Dasar memaparkan bahwa manusia mempunyai naluri seperti tumbuhan dan hewan, tetapi juga mempunyai akal budi, sehingga rasa ingin tahu itu tidak tetap sepanjang zaman. Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang. 

Rasa ingin tahu manusia tidak pernah dapat dipuaskan. Apabila suatu masalah dapat dipecahkan, akan timbul masalah lain yang menunggu pemecahannya. Manusia bertanya terus setelah tahu "apa", maka ingin tahu "bagaimana" dan "mengapa". Manusia mampu menggunakan pengetahuan yang telah lama diperoleh untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru menjadi pengetahuan yang lebih baru.

Salah satu dimensi yang paling penting bagi manusia, dari pada dengan makhluk lainnya adalah memiliki wawasan ilmu pengetahuan. Apalagi geliat untuk mengenali daerah kelahirannya, berbagai potensi pengetahuan di lingkungan daerah mampu dijadikan bahan pembangunan peradaban kemanusiaan kedepannya. Potensi yang ada di daerah kelahiran memiliki khazanah peradaban yang luhur dan mencapai pada aspek tatanan hidup kemanusiaan dan lingkungan.

Sebelum beranjak lebih jauh ke depan untuk menjalani proses hidup, generasi muda mampu memandang perjalanan para pendahulunya sebagai tolok ukur perjalanan ke depan. Dimensi-dimensi ilmu pengetahuan telah menjadi pola pikir dan perilaku untuk melangkah menata tatanan hidup yang lebih mulia. Di sinilah pentingnya peranan penguasaan ilmu pengetahuan bagi manusia (Generasi Muda), agar tidak dianggap tidak tahu apa-apa.

Conny R. Semiawan menuliskan dalam buku Filsafat Ilmu Pengetahuan karangan Prof. Dr. H. Jalaluddin, bahwa sebenarnya kreativitas yang dimiliki manusia bersamaan dengan lahirnya manusia itu sendiri. Sejak lahir manusia sudah memperlihatkan kecenderungan mengaktualkan dirinya yang mencakup kemampuan kreatif (Jalaluddin, 2013). Peran penting pembangunan peradaban kedepannya oleh generasi muda untuk mampu geliat mengenali potensi yang berada di daerah kelahirannya.

Nurcholish Madjid memandang ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan peradaban sebagai "tiga serangkai". Ilmu pengetahuan dan pengajaran adalah alami dalam peradaban manusia. Dari kegiatan berpikir tumbuh ilmu pengetahuan dan industri. 

Kegiatan berpikir ini sendiri didorong oleh alami manusia, dan lingkungan alamnya, yaitu dorongan untuk mendapatkan apa yang dituntut oleh alam. Akal sendiri berkecenderungan untuk memperoleh penemuan-penemuan yang tidak dipunyai sebelumnya. Oleh sebab itu, ia pun mempelajari kembali orang-orang terdahulu dalam hal ilmu pengetahuan, atau menambahnya dengan pengetahuan atau penemuan (Nurcholish Masdjid, 1984).

Peranan dan wawasan pengetahuan perlu untuk dimiliki demi mempelajari serta memahami khazanah kedaerahan yang menjadi tempat kelahiran kita. Antara keinginan hidup lebih baik dari pada hari kemarin, atau hanya memang cukup jalan ditempat dalam menajalani kehidupan. Ada waktu tersendiri untuk bisa membangun kehidupan kemanusiaan dan lingkungan yang lebih beradab.