Sebuah berita berjudul, Het Probleem der Jeugdwerkloosheid. Opleiding van Inheemsche intellectueelen tot landbouwers: Een plan van Keboemen’s regent (Masalah Pengangguran Kalangan Muda: Pelatihan Intelektual Pribumi untuk Kalangan Tani: Sebuah Rencana Bupati Keboemen) dimuat surat kabar De Locomotief (10 Mei 1937).

Ada dua hal menarik dari pembacaan surat kabar yang melaporkan kondisi pembengkakan jumlah pengangguran dari kalangan orang muda pribumi di Kebumen pada tahun 1937 yang mencapai angka 4000 orang. Tahun 1937 adalah tahun kedua pemerintahan Arung Binang VIII (R.A.A. Sosro Hadiwidjojo) pasca Kabupaten Karanganyar digabungkan dengan Kebumen pada awal 1936.

Dalam berita ini muncul istilah "intelektual pribumi yang menganggur" (Inheemsche intellectueele werkloozen). Jika merujuk pengertian masa kini melalui kamus, istilah intelektual merujuk pada orang yang cerdas atau pandai. Sementara pada masa itu istilah intelektual disamakan dengan semua orang yang sudah mengenyam pendidikan H.I.S. sampai selesai dan menerima Pendidikan Dasar Barat (Westersch Lager Onderwijs), dialah yang disebut intelektual (sebagaimana disitir oleh surat kabar di atas).

Terhadap kenyataan banyaknya para intelektual terdidik pribumi yang menganggur, bupati Kebumen mencanangkan adanya pelatihan kepada para intelektual muda agar menjadi "pekerja terampil" (vakarbeiders) dan “menjadi majikan kecil" (klein-werkgever) di desanya setelah mendapatkan pelatihan.

Hal menarik kedua terkait dengan keberadaan sebuah industri tenun (weef industrie) di Kebumen. Tidak diperoleh keterangan siapa pemiliknya (orang Belanda, Jawa atau Tionghoa). Dikatakan dalam surat kabar tersebut“Keboemen memiliki industri tenun yang cukup besar yang terbuka untuk perluasan”. Pelatihan intelektual muda yang menganggur yang dicanangkan bupati terkait dengan keberadaan industri tenun yang cukup berkembang di Kebumen.

Tahun 1930-an merupakan tahun yang kelam bagi sendi-sendi kehidupan ekonomi dunia termasuk di wilayah Hindia Belanda, termasuk kabupaten Kebumen. Krisis ekonomi dunia atau yang lebih dikenal dengan istilah malaise telah memporak-porandakan sendi-sendi perekonomian swasta.

Seorang menulis artikel dengan judul Kostbare Monumenten (Monumen yang Bernilai) yang menceritakan laporan perjalanannya ke Jawa Tengah bagian Selatan baik dari Purworejo, Kebumen dan Karanganyar bahkan sampai ke Purwokerto di Karesidenan Banyumas pada tahun 1935. Dia menggambarkan kondisi struktur perekonomian saat itu, “Ini adalah monumen modern kita tentang modal yang hancur dan pekerjaan yang sia-sia, harapan yang mengecewakan” (Algeemen Handelsblad voor Nederlandsch Indie, 3 Agustus 1935)

Bahkan penghapusan sejumlah kabupaten di Jawa pada tahun 1933 (Kutoarjo, Kraksaan dan Sampang) dan 1935 (Batang, Karanganyar, Purwokerto) menjadi bukti bagaimana krisis ekonomi membuat pemerintahan Hindia Belanda harus beradaptasi dan mengambil kebijakan sulit (Teguh Hindarto, Resesi Ekonomi Dunia Yang Menghantarkan Penghapusan Kabupaten di Jawa - https://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2021/02/resesi-ekonomi-dunia-yang-menghantarkan.html)

Akhir Desember 1935, Kabupaten Karanganyar (bersama Batang dan Purwokerto) dihapuskan demi penghematan anggaran pemerintah akibat krisis ekonomi dan digabungkan dengan kabupaten Kebumen awal tahun 1936 (Teguh Hindarto, Chusni Ansori, Sociological Perspective on the Elimination of Karanganyar Regency as an Impact of the 1930s Economic Depression, Jurnal Simulacra, Vol 3, Juni 2020). Seluruh laporan berita mengenai kelesuan industri di atas harus diletakkan dalam konteks tersebut.

Setahun kemudian muncul sebuah berita mengenai perkembangan pabrik tenun di Kebumen dengan judul, Weef Industrie Keboemen (Industri Tenun Kebumen) di mana industri yang telah berjalan cukup lama ini akhirnya pada tahun 1938 terancam bangkrut dan mulai dibantu dengan intervensi pemerintah agar tetap dapat berjalan (Bredasche Courant, 29 April 1938).

Bahkan industri genting milik pribumi yang terkenal yaitu Haji Aboengamar yang telah berjaya sejak tahun 1900-an tidak luput mengalami terpaan krisis ekonomi. Dalam sebuah artikel yang cukup panjang dengan judul, Bedrijfsleven in Keboemen: De Pannen-Industrie met Ondergang Bedreigd (Kehidupan Bisnis di Keboemen: Industri Genting Terancam oleh Kehancuran) yang dimuat oleh harian Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indiee (15 Mei 1937) menuliskan sbb, Dari puluhan jenis industri yang ada di Kabupaten Keboemen, industri genteng merupakan satu-satunya yang menyerap tenaga kerja ribuan orang, yang kematiannya sepertinya tak terelakkan dalam waktu dekat.

Padahal penduduk di wilayah di mana Aboengamar mendirikan perusahannya telah membakar genteng dari generasi ke generasi dan telah menjadi industri yang diwariskan dari orang tua ke anak bahkan seorang tukang yang paling kecil pun memiliki keterampilan yang hebat. Jika sebelum tahun 1937 perusahaan Aboengamar bisa menyetorkan 12 juta genteng ke Ciamis, maka pada tahun ini mereka hanya bisa mengirimkan 9 juta saja.

Namun di mana terjadi krisis yang meruntuhkan struktur ekonomi maka di sisi lain kadang melahirkan peluang usaha lain yang tumbuh. Pada tahun 1939 terlacak dalam sebuah surat kabar mengenai keberadaan sebuah unit usaha industri dengan nama Bagelensche Blik en Zink yang dimiliki Raden Soedjono.

Dengan 25 pekerja, industri ini menyuplai kebutuhan penyediaan cangkir khusus untuk penyadapan karet. Selain itu membuat kendi dan ember, sebagaimana dilaporkan harian Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie (11 Mei 1939). Dikatakan dalam surat kabar tersebut, Pada kuartal pertama tahun ini, 198.000 cangkir dan sekitar 900 ember dan kendi telah dikirimkan ke berbagai perusahaan, melalui jasa kereta api. Pengiriman bukan hanya lingkup Jawa Tengah melainkan hingga Banyuwangi.

Melalui pelacakan sejumlah berita yang bersifat fragmentaris dalam surat kabar ini kita bisa melihat pergeseran kebutuhan dari pertanian kepada industri di Kebumen. Terbukti dari bertumbuhnya unit-unit usaha non pertanian yang membutuhkan sejumlah keahlian tertentu yang diperlukan pasar industri.

Seiring bertumbuhnya industri, terdapat pula sejumlah persoalan yang terjadi di Kebumen. Baik diakibatkan karena faktor eksternal yaitu krisis ekonomi dunia maupun internal yaitu jumlah penggangguran yang cukup membengkak padahal mereka memiliki status terdidik.

Melalui berita-berita surat kabar di atas kita mendapatkan sejumlah keterangan perihal bagaimana strategi yang dilakukan oleh bupati Kebumen pada tahun 1937 menyikapi sejumlah pembengkakan angka pengangguran dari kalangan terdidik yaitu dengan melakukan sejumlah pelatihan tenaga muda terdidik.

Persoalan di era teknologi informasi saat ini tentu lebih kompleks dibandingkan era kolonial. Dibutuhkan sejumlah kebijakan strategis yang bersifat preventif tinimbang sekadar kuratif dan reaktif. Melalui pelacakan historis dinamika perekonomian kota di era kolonial kiranya dapat memberikan gambaran sejauh mana kota telah berkembang (khususnya Kebumen) dan melakukan respon adaptif terhadap sejumlah persoalan keekonomian.