Sebagai tempat publik, warung kopi boleh diakses dan dimanfaatkan keberadaannya oleh siapa pun, tanpa terkecuali. Mulai dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, sampai mereka yang sudah mulai menua. Warung kopi juga tidak melarang orang datang hanya karena tidak punya uang, apalagi jomblo yang tidak karuan di mana pasangannya berada. Warung kopi dengan tangan terbuka menerima saya, kamu, dia, dan mereka tanpa tapi dan nanti.

Di Tulungagung, kota kelahiran saya, warung kopi bisa didapati dengan mudah. Hampir di tiap sudut desa, asal tempatnya teduh, sudah bisa disulap menjadi warung kopi.

Perihal lokasi yang strategis tidak menjadi pertimbangan pokok. Karena ada beberapa warung kopi yang lokasinya jauh dari keramaian publik, di tengah sawah, atau di pinggir sungai yang justru lebih ramai jika dibandingkan dengan warung kopi yang berdiri di pusat kota atau dekat jalan besar dengan riuh kendaran berlalu-lalang.

Saya pernah melakukan riset kecil-kecilan soal warung kopi ini dengan melakukan keliling di tujuh kecamatan (Rejotangan, Ngunut, Kalidawir, Sumbergempol, Kedungwaru, Kauman, dan Boyolangu) dan melintasi puluhan desa di Tulungagung, hasilnya saya bisa menyimpulkan (secara kasar) bahwa di tiap desa minimal ada lima warung kopi. Dan ampuhnya, tiap warung kopi memiliki pelanggannya masing-masing meskipun menu yang dijual sama saja, tidak ada yang spesial.

Hasil riset kecil-kecilan di atas juga bisa ditafsiri bahwa tidak penting apa yang dimakan dan diminum, selama tempat yang ditawarkan memberi ruang yang nyaman untuk berekspresi.

Kenapa demikian? Karena di beberapa warung kopi yang saya nilai instagramable, punya pelayanan yang baik dan ramah, malah cenderung sepi pengunjung. Dalam rentang satu jam, hanya satu dua yang datang.

Berbeda misalnya dengan warung kopi yang tidak menerapkan standar pelayanan baku. Padahal secara tempat juga (mohon maaf) kurang bersih, pelayanannya kadang kurang ramah. Apalagi view yang bisa dipotret untuk dijadikan status di media sosial tidak ada sama sekali, kecuali secangkir kopi dan sebatang rokok. Tapi pengunjungnya tidak kapok, malah justru ketagihan untuk datang lagi.

Contoh yang mudah ditemukan untuk kasus ini adalah warung kopi Waris dan Mak Tin. Dua warung kopi legendaris yang namanya akrab di banyak telinga. Tidak hanya masyarakat Tulungagung sendiri, tapi juga orang-orang dari luar daerah akan menyempatkan ke sana jika kebetulan ada perlu di Tulungagung. 

Agus Ali Imron Al Akhyar di dalam bukunya bertajuk Mengunjungi Simbol-Simbol Sejarah Lokal Tulungagung mengatakan bahwa keberadaan warung kopi Waris dan Mak Tin juga turut berkontribusi dalam membentuk kebudayaan masyakarat Tulungagung (Yogyakarta: Mirra Buana Media, 2020, hlm. 144).

Kendati nama dua warung kopi ini sudah meroket, namun tempat dan pelayanannya jauh jika dibandingkan dengan warung kopi yang menerapkan aturan baku. Tapi ya itu tadi, tiap hari dua warung kopi ini tidak pernah kehabisan pengunjung.

Respon agak beda saya dapatkan ketika riset kecil-kecilan ini saya lempar ke ruang diskusi bersama seorang teman, sebut saja namanya Bento, mahasiswa akhir di salah satu kampus di Malang. Ia malah merunut tafsir saya di atas dalam konteks sosial. Katanya, “Oh kalau seperti itu, mungkin masyarakat kita (Tulungagung) masih berada di garis menengah ke bawah.”

Ia mendasarkan ucapan itu pada kebiasaan orang Tulungagung yang memilih warung kopi di pinggiran, tentunya dengan harga miring. “Ada semacam pertimbangan kalau (mereka) hendak ke warung kopi yang agak keren. Ya mudahnya, daripada lima belas ribu untuk secangkir kopi, mending digunakan untuk makan nasi gorenglah”, lanjutnya diiringi senyum nyengir di bibirnya.

Mendengar penjelasan itu, saya tidak serta merta mengamininya. Karena begini, bisa jadi orang yang memilih warung kopi di pinggiran justru orang-orang kaya, berpengaruh, dan memiliki kepentingan. Sehingga pemilihan warung kopi di tempat yang ramai orang malah mencurigakan. Apalagi jika musim politik sedang naik, warung kopi di pinggiran bahkan di tengah sawah menjadi markas yang aman dari pengintaian para pesaing.

Atau bisa juga karena fasilitas lain, misalnya wifi yang disediakan oleh warung kopi di pinggiran cenderung lebih stabil. Digunakan untuk mengunduh game, menonton streaming YouTube, dan bermain game tidak lelet. Ini juga menjadi pertimbangan tersendiri dalam menentukan warung kopi mana yang akan dikunjungi untuk menghabiskan waktu berjam-jam.

Satu hal lagi yang saya amati mulai diadakan di beberapa warung kopi di Tulungagung adalah tempat ibadah shalat. Pernah dengan iseng saya tanya pada pemilik warung kopi di belakang kampus IAIN Tulungagung soal disediakannya tempat salat. Ia menjawab, “Ya kalau ngopi jangan lupa shalat mas. Nongkrong boleh, tapi salatnya bolong jangan.”

Jangan membayangkan tempat salatnya panjang kali lebar, ada kipas angin, dan karpet yang wangi. Kadang malah hanya cukup digunakan untuk satu orang, lainnya harus ngantri. Kalau pun toh tempatnya agak lebar, cukup untuk empat-enam orang, menunaikan salatnya tidak perlu didahului dengan azan dan iqomah.

Memang adanya tempat ibadah salat di warung kopi ini bisa menjadi indikasi komitmen dari pengelola untuk memanjakan pengunjung. Kalau mau shalat tidak harus pulang atau ke masjid meninggalkan area warung kopi.

Namun jika ditilik dari sisi penjualan, kata pemiliknya menguntungkan. “Soalnya mereka bisa berlama-lama mas. Bayangkan jika mereka shalatnya ke masjid, pasti sedikit sekali prosentasenya akan kembali lagi ke sini. Kalau shalat dhuhur sama asar di sini, ya minimal mereka akan pesan makan dan minum dua kali”, ucapnya menjelaskan.

Dalam hati saya hanya bergumam lirih, agama kembali menjadi instrumen untuk mendapatkan keuntungan. Substansinya sama dengan politisi atau mereka yang mencari legitimasi agama. Bedanya hanya tempatnya, yang ini warung kopi sedangkan tempat mereka tertutup dan ber-AC.