Petaka koronavirus yang masih betah tinggal di sekitar kita telah menelan banyak korban, ada yang sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga, tetapi ada juga yang makin rapuh hingga akhirnya harus pergi untuk selamanya.

Dalam khasanah kebahasaan kita, orang-orang yang tak lagi berbagi udara dengan kita itu kerap disemati gelar “almarhum”. Istilah ini berasal dari bahasa Arab yang diserap secara apa adanya ke dalam bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia seri kelima (KBBI V) mengartikan “almarhum” sebagai “orang yang dirahmati Allah”. Pemaknaan ini bersumber dari kata dasar “almarhum”, yakni ra-him. KBBI V juga menambahkan akhiran “-ah” (menjadi almarhumah) untuk sebutan kepada jenazah perempuan.

Di lapangan, penggunaan “almarhum/-ah” ternyata menuai sejumlah masalah, tiga di antaranya adalah: pertama, pergeseran pemaknaan. Jika dirunut ke kata dasarnya, ra-him berarti “kasih” atau “mengasihi”, karenanya “almarhum” bermakna “orang yang dikasihi”. Itu sebabnya, secara kebahasaan, gelar atau sebutan ini boleh ditujukan ke siapa saja, tak harus kepada orang yang sudah tak lagi bernyawa. Kepada mantan Anda yang kini tampak lebih bahagia pun –sebab ia mungkin mendapat rahmat dari Allah, gelar ini boleh disematkan.

“Apa kabar, almarhum mantan?”

Heem, kok nganu, ya.

Nah, soal bolehnya menggunakan sebutan almarhum kepada siapa pun seperti di atas ternyata justru menyulut persoalan kedua, yakni; siapa yang tahu seseorang sudah dikasihi Allah? Bukankah hanya Allah saja yang tahu siapa yang dikasihi-Nya? Siapalah kita untuk tahu rahasia besar itu. Urusan bentuk dan ukuran alis saja masih belum selesai jadi bahan perdebatan, apalagi urusan kasih dan ampunan dari Tuhan. Beraaat!

Karenanya, meski tak bermasalah secara kebahasaan, penggunaan istilah ini masih kerap mengundang perdebatan.

Nah, soal ketiga adalah terkait dengan privilese penggunaan istilah ini. Masyarakat sudah kadung mengira bahwa istilah “almarhum” hanya pas disematkan kepada orang yang beragama Islam; dan entah bagaimana, KBBI ternyata setuju pula dengan anggapan aneh ini. Kamus besar yang ternyata nggak besar-besar amat itu menambahkan keterangan “(sebutan kepada orang Islam yang sudah meninggal)” untuk penggunaan kata “almarhum”.

Hal ini tentu bermasalah sebab alasan kebahasaan tak seharusnya membatasi penggunaan kata atau istilah tertentu untuk hal-hal yang tak tentu. Membatasi penggunaan “almarhum” hanya untuk orang Islam saja tentu terasa sangat janggal, terutama karena kita tak pernah tahu keimanan seseorang. Bisa saja seseorang tampak sebagai orang Islam tapi ternyata tidak, atau sebaliknya, tampak bukan Islam tapi ternyata begitu dikasihi Tuhan.

Masih ingat, kan, sindiran menohok dari Muhammad Abduh (1849—1905) yang bilang, “I went to the West and saw Islam, but no Muslims; I got back to the East and saw Muslims, but not Islam”?

(Saya berkunjung ke Barat dan melihat (keberadaan) Islam, tapi tak melihat muslim; Saya kembali ke Timur dan melihat muslim, tapi tak melihat Islam).

Lagi-lagi, satu-satunya sosok yang benar-benar tahu apakah seseorang beneran Islam atau tidak hanyalah Allah Swt. Kita hanya mengira-ngira, sambil berharap perkiraan itu benar adanya.

Meski begitu, sejumlah kalangan menyebut penggunaan istilah “almarhum” lebih dimaksudkan sebagai doa, bukan klaim. Karenanya, sebutan “almarhum” dimaksudkan sebagai doa agar orang yang meninggal mendapat ampunan dan kasih dari Allah Swt.

Mati Dua Kali

Soalan di atas sebaiknya diletakkan sebagai dinamika kebahasaan semata; karena jawaban untuk tiap persoalan tersebut selalu berpulang ke masing-masing dari kita, para penggunanya. Saya ingin mengajak Anda untuk melihat soal lain dari penggunaan istilah ini yang sudah jelas salah kaprah di masyarakat kita. Kesalahan ini begitu keji hingga membuat orang yang sudah mati, mati lagi; alias mati dua kali.

Perhatikan contoh kalimat berikut: Turut berduka cita atas meninggalnya almarhum Sugono Gini.

Ehem, jadi gini…

Jika “almarhum” disepakati sebagai gelar untuk orang yang sudah meninggal, penggunaan kata “meninggalnya” tentu tak lagi diperlukan. Sebabnya jelas, si Sugono Gini sudah almarhum, ia sudah meninggal dunia. Orang yang sudah mati tak akan bisa mati lagi.

Contoh kalimat di atas sama ruwetnya dengan kalimat berikut: Dia adalah jomlo yang setia, tak pernah selingkuh, tak pernah pula berbuat kasar pada pasangan.

Haloooo,,, ngajak berantem, nih!

Karenanya, cukup gunakan kalimat berikut: “Turut berduka cita atas meninggalnya Sugono Gini” atau “Turut berduka cita untuk almarhum Sugono Gini”.

Tak perlu kita buat seseorang mati hingga dua kali hanya karena kita masih belepotan menggunakan bahasa sendiri.

Satu-satunya hal yang membuat seseorang mati dua kali adalah terhapusnya ia dari memori: “I mean, they say you die twice. One time when you stop breathing and a second time, a bit later on, when somebody says your name for the last time.” (Banksy).

“Maksudku, mereka bilang kamu mati dua kali. Pertama saat kamu berhenti bernapas dan kedua, beberapa saat kemudian, ketika orang menyebut namamu untuk terakhir kalinya”.

Pahlawan Tak Berakhir di Kuburan

Hal lain yang perlu diperhatikan –dan ini penting—terkait penggunaan istilah “almarhum” adalah fakta bahwa istilah ini kerap kali dihilangkan penyebutannya dari orang-orang yang meskipun telah mati, tetapi begitu berarti bagi kita, yakni orang-orang yang kita yakini masih terus ada meski nyawa telah minggat dari raganya.

Orang-orang ini kita yakini tak mati, melainkan hanya pergi sebentar untuk kemudian membersamai kita lagi. Entah kapan, mungkin tak lama lagi.

Dalam bahasa Jawa misalnya, orang-orang yang sudah meninggal dikumpulkan di pesarean atau kuburan. Tetapi orang Jawa tak menganggap mereka sudah mati. Pesarean berasal dari kata sare yang berarti “tidur”. Karenanya, orang Jawa tetap rajin berkunjung ke pesarean untuk saling ‘bertukar kabar’. Mereka datang bersama anggota keluarga yang tersisa, membersihkan area pesarean, membacakan doa, beberapa orang juga masih menyirami pekuburan itu dengan air, sementara di rumah, orang-orang Jawa masih menyediakan makanan dan minuman kesukaan sang mendiang yang disuguhkan di hari kematian mereka, entah untuk tujuan apa. Yang jelas, orang-orang yang begitu berarti tak pernah dianggap mati.

Demikian pula dengan pahlawan, mereka tak pernah dianggap mati. Coba lihat, orang-orang enteng saja menyebut nama-nama seperti Sukarno, Bung Hatta, Gus Dur, dst. tanpa merasa perlu menyematkan “almarhum” di depannya. Orang-orang ini tak pernah dianggap mati. Para pahlawan itu tak berakhir di kuburan.

Jika Anda punya pahlawan, atau orang-orang yang Anda anggap begitu berarti, cukup sebut namanya. Gelar “almarhum” bukan untuk mereka.