3 minggu lalu · 1972 view · 3 min baca menit baca · Budaya 74129_89052.jpg
Nurul Qomar

Gelar Akademik Tidak Menjamin Intelektualitasmu

Seharian saya jadi sakit perut karena tertawa terbahak-bahak melihat twit dari Gus Nadirsyah Hosen yang mengomentari twit seorang warganet yang mempertanyakan kapabilitasnya saat membahas sidang Mahkamah Konstitusi. Pengguna media sosial itu mempertanyakan kok bisa-bisanya Gus Nadir mengomentari sidang MK padahal bukan seorang ahli hukum.

Gus Nadir pun menjawab dengan enteng, 

"Entar kalau saya jawab gini dibilang sombong: saya S1, S2, dan S3 itu kuliah dobel dlm waktu bersamaan hingga dpt 2 gelar Ph.D di bidang yg berbeda. Untung saya gak tulis kayak gitu."

Jawaban Gus Nadir itulah yang membuat reaksi beragam dan lucu-lucu dari warganet. Rata-rata menganjurkan Gus Nadir untuk mencantumkan semua titel atau gelarnya. Kalau perlu, titel Ph.D-nya ditulis berulang-ulang gitu. 

Pernyataan warganet itu pun sontak dikomentari dengan jawaban kocak dari seorang warganet lain, "Wah jangan-jangan yang naik haji berkali-kali, nanti iri lagi, karena kepingin gelar hajinya juga ditulis berulang-ulang." Sungguh komentar yang membuat saya tergelak bahkan tertawa terbahak-bahak seharian.

Lalu pertanyaan saya, sebegitu pentingkah penulisan titel dan gelar akademik di Indonesia, hingga Gus Nadir yang jelas-jelas memang berlatar belakang pendidikan hukum sampai diragukan kapabilitasnya? 


Padahal, jika warganet tersebut mau lebih rajin mencari data, di Wikipedia misalnya, di sana tertulis jelas bahwa Gus Nadir memang benar-benar berlatar belakang pendidikan hukum selain profesinya sebagai Kiai. 

Di Wikipedia tertulis bahwa Gus Nadir adalah lulusan Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah dan bergelar Master of Law dari University of Northern Territory. Selain itu, Gus Nadir adalah seorang Associate Professor dari Fakultas Hukum sebuah Universitas di Australia.

Dulu, sewaktu anak saya duduk di Sekolah Menengah Pertama, saya juga memiliki pengalaman yang hampir mirip dengan Gus Nadir, karena tidak mencantumkan gelar pada biodata orang tua/wali siswa. 

Saat itu, semua orang tua dipanggil ke sekolah karena akan diadakan Test IQ dan Test TOEFL yang dikoordinasi pihak sekolah. Saat saya maju ke depan dan mendapat giliran mendaftar, tiba-tiba ibu guru wali kelas bertanya, "Mama Ari mengerti test TOEFL, kan? Kalau tidak, nanti saya terangkan."

Saya sempat tersenyum kecut saat itu sambil menjawab, "Ya ngertilah, bu. Waktu saya ngambil S2, kan, ada test TOEFL-nya." 

Seketika itu juga wajah ibu wali kelas memerah karena malu, karena dia mengatakan itu di depan seluruh orang tua, dan cuma saya yang ditanya tentang mengerti atau tidaknya saya pada test TOEFL. Lalu dia segera menjawab, "Kok gelarnya tidak ditulis di nama Mama Ari? Saya pikir mama Ari lulusan SMP atau SMA." Gubrakkk....

Pengalaman tersebut jadi sangat membekas di hati, dan membuat saya berpikir bahwa ternyata titel dan gelar itu, menurut sebagian besar masyarakat Indonesia, merupakan suatu alat untuk menunjukkan intelektualitas atau kepandaian. 

Titel atau gelar di Indonesia seolah menjadikan seseorang yang memakainya menjadi "bangsawan intelektualitas". Hal tersebut yang menjadikan sebagian orang Indonesia berburu titel atau gelar dengan segala cara agar, jika orang membaca namanya, terlihat lebih representatif dan pasti dianggap sebagai orang pintar.

Inilah juga yang terkadang membuat masyarakat di Indonesia melakukan segala cara untuk mendapatkan titel atau gelar, bahkan dengan cara tidak halal, misalnya membeli gelar. Tidak penting dia punya kemampuan yang mumpuni atau tidak, yang penting, titel atau gelar telah menghiasi namanya, dan dia langsung dianggap "bukan orang sembarangan".

Seperti pagi ini, saya dikejutkan oleh kasus pelawak Nurul Qomar yang ditahan Polres Brebes karena memalsukan ijazah S2 dan S3-nya ketika ingin mendaftar sebagai Rektor Universitas Muhadi Setiabudi Brebes. 

Dari kasus Qomar ini, terlihat tendensi bahwa apa pun akan dilakukan seseorang demi sebuah gelar atau ijazah, bahkan memalsukan ijazah sekalipun. Hal itu semua dilakukan agar terlihat intelek di mata orang Indonesia.


Di Indonesia, selain agar terlihat "intelek", titel atau gelar akademik juga terkadang dianggap sebagai lambang prestasi orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak. Dulu, sewaktu saya menikah, undangan saya sampai dicetak ulang karena ibu saya menangis meraung-raung akibat saya dan calon suami tidak mencantumkan titel di undangan. 

Sambil menangis, ibu saya berkata, "Sudah capek-capek mamakmu ini, membiayaimu kuliah, gak kau cantumin titelmu." Sampai sekarang, jika ingat peristiwa itu, pasti saya tertawa; saking lucunya.

Itulah sekelumit kisah lucu tentang titel atau gelar yang begitu diagung-agungkan di Indonesia. Mungkin kebiasaan orang Indonesia mengagung-agungkan gelar tersebut disebabkan karena budaya feodalisme yang memang mengakar di Indonesia, akibat dulu di setiap daerah di Indonesia terdapat kerajaan-kerajaan yang pastinya menggunakan gelar kebangsawanan.

Titel atau gelar, digunakan atau tidaknya dalam mempercantik nama, adalah hak. Tapi seyogianya dibarengi oleh kemampuan yang mumpuni di bidang yang ditekuni. Nama yang  terhias oleh gelar yang cantik harus sepadan dengan kemampuan yang juga harus cantik.

Kalau saya sendiri sih lebih suka dengan gelar "Wkwkwk" dibelakang nama saya. Grace Sihotang, Wkwkwk., karena saya paling suka melucu dan  tertawa.

Artikel Terkait