Kekhawatiran negara-negara didunia mulai tahun 2022 mulai beralih dari sebelumnya Covid-19 yang menjadi pandemi hampir di seluruh dunia, menjadi meningkatnya gejolak ekonomi.

Covid-19 yang mulai terkendali dalam jangka waktu 2 tahun merupakan angin segar untuk meningkatkan kembali pertumbuhan ekonomi. Saat Covid-19 terjadi, seluruh dunia mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi dan finansial.
Hal tersebut terjadi karena pembatasan kegiatan dan aktivitas yang dibatasi guna menghentikan penyebaran Covid-19.

Ketika kegiatan dan aktivitas dibatasi, maka mengakibatkan permintaan (demand) menjadi turun. Saat permintaan turun, maka produsen akan mengurangi jumlah produksinya (supply). Akibat dari produksi menurun, maka omset otomatis juga akan ikut menurun.

Sementara para pengusaha/produsen memiliki beban (cost) untuk menanggung biaya seperti biaya modal, sewa gudang, maupun gaji karyawan yang harus tetap dibayarkan walau menurunnya omset. Mau tidak mau para pengusaha UMKM, menengah maupun besar harus memiliki strategi agar usahanya tetap dapat bertahan.

Kondisi ini mengakibatkan pemerintah di seluruh negara harus turun tangan agar dapat tetap menjaga perekonomian di negaranya. Salah satu cara turun tangan pemerintah adalah dengan melakukan kebijakan moneter berupa quantitative easing (injeksi likuiditas).

Quantitative easing adalah stimulus ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah untuk menambah jumlah uang yang beredar dengan cara membeli aset keuangan dari institusi swasta atau bank komersial maupun surat berharga jangka panjang milik pemerintah di pasar terbuka. 

Dengan membeli aset keuangan dari institusi swasta maupun milik pemerintah dipasar terbuka, mengakibatkan meningkatnya supply uang di masyarakat. Dengan meningkatnya jumlah uang yang beredar, maka akan berakibat menurunnya suku bunga. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah konsumtifitas masyarakat. Dan pada akhirnya roda perekonomian terus dapat berputar dan dijaga kestabilannya.

Namun, quantitative easing bukanlah sebuah kebijakan ekonomi tanpa memiliki risiko. Quantitative easing yang terlalu berlebih akan berdampak kepada inflasi, hyper inflasi atau bahkan stagflasi. Selain itu quantitative easing juga akan mengakibatkan instrumen investasi seperti obligasi dan deposito tidak lagi menarik bagi masyarakat maupun investor. Yang dikarenakan menurunnya jumlah suku bunga.

Oleh sebab itu beralihlah para investor ke instrumen lainnya, berupa cryptocurrency seperti Bitcoin dan teman-temannya. Hal ini mengakibatkan meningkatnya market cap mata uang digital (cryptocurrency) pada saat pandemi hingga mencapai All Time High Bitcoin yang hampir menyentuh 1 Milyar Rupiah.

Lalu, apa hubungannya dengan gejolak ekonomi setelah Covid-19 ?

Quantitative easing yang dilakukan oleh pemerintah di tiap negara pastinya cepat atau lambat akan dihentikan (tappering), guna meredam inflasi atas meningkatnya jumlah uang yang beredar.

Hal tersebut dapat kita lihat pada Agustus 2021 melalui rapatnya The Fed (Bank Central Amerika), Jerrome Powell yang merupakan ketua dari The Fed mengumumkan akan melakukan tappering dengan waktu yang dekat.

Keputusan ini menjadi langkah awal dari The Fed untuk menarik kembali sejumlah bantuan yang telah diberikan kepada pasar dan ekonomi negaranya sepanjang pandemi Covid-19.

Dengan dilakukannya tappering ini, maka secara berangsur-angsur akan meningkatkan kembali suku bunga acuan dan berdampak pada meningkatnya suku bunga kredit.

Hal ini tentunya akan baik-baik saja bila perekonomian sudah berjalan stabil atau bertumbuh. Namun, pada kenyataannya kondisi supply chain dan logistik atas komoditas dan bahan pokok belum berjalan normal setelah pandemi covid-19. 

Kondisi ini mengakibatkan meningkatnya harga-harga bahan pokok yang cenderung meningkat karena mulai meningkatnya permintaan (demand), tetapi jumlah produksi (supply) yang tidak dapat mengejar pertumbuhan dari permintaan.

Mengapa demikian? karena untuk meningkatkan produksi itu tidak mudah. Produsen memerlukan waktu dalam meningkatkan produksi seperti perluasan tempat, investasi mesin, tenaga kerja bahkan modal.

Inilah yang mengakibatkan adanya gangguan di supply chain dan permasalahan dalam logistik, sehingga terjadi meningkatnya harga-harga komoditi yang berimbas ke bahan pokok.

Di luar dari permasalahan di atas, terdapat permasalahan lain yang mungkin tidak pernah diduga sebelumnya, yaitu perang Rusia dan Ukraina. Kenapa hal ini menjadi sebuah masalah juga? 

Karena Rusia sangat berperan dalam komoditas Minyak dan Gas di dunia. Saat ini 40% gas alam di Eropa sangatlah bergantung terhadap Rusia. Perang Rusia dan Ukraina yang terjadi pastinya akan mengganggu supply chain dan logistik komoditas Rusia ke negara-negara yang merupakan konsumennya.

Lalu bagaimana dengan Ukraina? Ukraina merupakan salah satu produsen minyak biji bunga matahari terbesar di dunia, yang selama ini dipergunakan oleh negara-negara Eropa untuk memasak. 

Ketika pasokan minyak biji bunga matahari ini menjadi masalah, mereka mulai mencari minyak sawit kembali. Dengan demikian permintaan atas minyak sawit meningkat. Tentunya dalam kondisi normal, hal ini menjadi Commodity Boom.

Sayangnya produksi minyak sawit di tahun 2020 sempat menurun dikarenakan Covid-19. Oleh sebab itu meningkatnya harga minyak sawit di dalam negeri yang dikarenakan sulitnya memenuhi permintaan.

Untuk itulah salah satunya Pemerintah melarang ekspor minyak sawit agar kebutuhan dalam negeri sendiri dapat tercukupi dan harga minyak sawit dapat dijaga kestabilannya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan gejolak ekonomi yang terjadi di tahun 2022 ini sangatlah banyak keterkaitannya efek dari Covid -19 kepada kebijakan moneter, supply chain dan logistik serta dampak dari perang Rusia dan Ukraina.