Penulis
10 bulan lalu · 534 view · 6 min baca · Budaya 83926_26671.jpg
bonobostudio.hr

Gejala Simulakra dan Hiperrealitas di Balik Viralitas Hoaks

Kehebohan akibat hoax kembali menyeruak ruang publik saat beredar sebuah foto kondisi wajah Ratna Sarumpaet, seorang aktivis sosial yang lebam berat dengan sejumlah keterangan yang menginformasikan peristiwa pemukulan yang dialami dirinya di sebuah lokasi di Bandung. Publik dibingungkan oleh sejumlah meme dan berita yang simpang siur, dan sejumlah orang penting di kalangan partai maupun non partai mulai membuat pernyataan keprihatinan dan menuntut pelaku diusut dan dihukum.

Sengkarut informasi terus berlanjut di media sosial antara pihak yang pro dan pihak yang kontra. Publik hampir diyakinkan dengan berita pemukulan tersebut, hingga kemudian datang klarifikasi, baik dari pihak kepolisian maupun dari pribadi Ratna Sarumpaet sendiri bahwa apa yang dialaminya bukanlah sebuah tindakan pemukulan melainkan dirinya sedang menjalani operasi plastik. Ratna Sarumpaet pun mengakui telah melakukan hoax terhadap apa yang dialaminya.

Hoax telah menjadi sebuah fenomena sosial dan kultural yang menggelisahkan karena publik semakin kesulitan membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi. Dalam kasus Ratna Sarumpaet, keterlibatan sejumlah tokoh yang mengungkapkan keprihatinan dan solidaritasnya membuktikan betapa semakin sulit membedakan fakta dan fiksi di tengah peredaran hoax yang semakin masif melalui jejaring media sosial yang mampu mengemas sebuah informasi dengan begitu meyakinkan.

Ruang kesadaran publik yang dibentuk melalui sejumlah informasi yang disebarluaskan melalui media sosial dan media massa online hampir terus-.enerus dibombardir dengan sejumlah berita bohong (hoaks), mulai dari manipulasi kebijakan pemerintah, paranoia perihal bencana alam, pendiskreditan figur politik, distorsi informasi perihal obat-obatan yang dikonsumsi masyarakat, dan masih banyak hoaks lainnya yang membingungkan masyarakat untuk memverifikasi kebenarannya.

Celakanya, semakin banyak masyarakat yang semakin mempercayai fiksi sebagai fakta dalam viralitas hoaks karena semua berita disampaikan dengan mencatut nama orang atau instansi yang ternama dan menggunakan susunan argumen yang meyakinkan. Indikasi ini dapat terlihat manakala dalam grup-grup media sosial semacam WhatsApp atau Facebook, seseorang kerap mereduplikasi sebuah konten bermuatan hoaxks tanpa cross-check bahkan memberikan sejumlah komentar yang membenarkan konten hoaks yang diviralkannya.

Persepsi masyarakat dapat terbaca saat memberikan komentar-komentar dalam sebuah percakapan dan diskusi di media sosial di mana pernyataan yang mereka keluarkan lebih merepresentasikan dan menggemakan konten hoaks tertentu yang telah beredar secara luas.


Tidak mengherankan jika sejumlah ilmuwan sosial mengistilahkan fenomena ini sebagai bagian dari Post Truth Era atau Era Pasca Kebenaran. Bahkan Oxford Dictionaries, salah satu kamus online terkemuka di dunia telah memasukkan istilah ini menjadi istilah baru pada tahun 2016 dan didefinisikan sebagai “istilah yang berhubungan dengan atau mewakili situasi-situasi di mana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta-fakta yang objektif”. Kebenaran objektif semakin tidak penting dipertahankan.

Kita semakin sulit membedakan mana fakta dan mana fiksi saat hoax beredar. Rezim hoax yang menguasai kesadaran publik hingga pada suatu titik benar-benar telah meyakinkan publik tertentu bahwa fiksi-fiksi yang mereka terima telah menjadi sebuah fakta yang sesungguhnya.

Fenomena ini mengingatkan pada konsep yang diusung oleh Sosiolog Prancis aliran Postmodernis bernama Jean Baudrilard dengan istilah Simulacra dan Hipperreality. Baudrilard dikenal sebagai teoritisi yang pemikirannya dianggap oleh lawan-lawan pemikirannya sebagai “teror” karena menggoncangkan tatanan berpikir yang stabil. 

Bahkan dikatakan oleh Meagan Morris dalam Hipperreality: Asleep at the When? Sebagai berikut: “...Ia telah secara progresif dan sengaja meninggalkan aturan riset sistematik, argumen cermat, formulasi tesis, kritik dengan cita rasa gaya pencatatan pribadi (dan tamasya) tentang dunia...” (M. Imam Azis (editor), Galaksi Simulacra: Esai-Esai Jean Baudrilard, 2014:2)

Istilah simulacra atau simulacrum sendiri berasal dari bahasa Latin di Abad 16 Ms yaitu simulare yang artinya “gambar”, “representasi”, “pura-pura”. Istilah ini diambil alih oleh Baudrilard untuk menjelaskan perihal konsep kebudayaan di mana yang nyata, riil dan yang tidak nyata telah bertumpang tindih oleh pengaruh perkembangan teknologi, khususnya televisi. Simulasi telah menjadi realitas bahkan hiperrelitas karena ketidakmampuan masyarakat membedakannya dengan realitas asli.

Dalam salah satu bukunya yang menjadi magnum opus yang berjudul Simulations (1983), dikatakan “kita hidup di zaman simulasi”. Baudrillard mendeskripsikan karakter khas kebudayaan masyarakat Barat dewasa ini. Menurutnya, kebudayaan Barat dewasa ini adalah sebuah representasi dari dunia simulasi, yakni dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak, tanpa referensi relasional yang jelas. 

Hubungan ini melibatkan tanda riil (fakta) yang tercipta melalui proses produksi, serta tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi. Sebagaimana dikatakan George Ritzer, “Proses simulasi mengarah pada penciptaan simulacra atau reproduksi objek atau peristiwa. Dengan meleburnya pembedaan antara tanda dengan kenyataan, semakin sulit untuk mengatakan mana yang nyata dan mana hal-hal yang mensimulasikan yang nyata” (Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern, 2012:1087). 

Karena layar televisi menjadi penanda modernitas di tahun 1980-an, maka, bagi Baudrilard, televisi telah meleburkan kehidupan ke dalam televisi dan sekaligus meleburkan televisi dalam kehidupan.

Dalam kebudayaan simulasi, kedua tanda tersebut saling bertumpang tindih membentuk satu kesatuan. Tidak dapat lagi dikenali mana yang asli, yang riil, dan mana yang palsu, yang semu. Semuanya menjadi bagian realitas yang dijalani dan dihidupi masyarakat Barat dewasa ini. 

Kesatuan inilah yang disebut Baudrillard sebagai gejala simulacra atau simulacrum, sebuah dunia yang terbangun dari pertemuan nilai, fakta, tanda, citra dan kode. Realitas tak lagi punya referensi, kecuali simulacra itu sendiri, sebagaimana dikatakan Baudrilard dalam salah satu esainya, “So it is with simulation, insofar as it is opposed to representation. Representation starts from the principle that the sign and the real are equivalent (even if this equivalence is Utopian, it is a fundamental ax~om). Conversely, simulation starts from the Utopia of this principle of equivalence, from the radical negation of the sign as value, from the sign as reversion and death sentence of every reference. Whereas representation tries to absorb simulation by interpreting it as false representation, simulation envelops the whole edifice of representation as itself a simulacrum


(Begitu pula dengan simulasi, sejauh ini ia menentang representasi. Representasi dimulai dari prinsip bahwa tanda dan yang sebenarnya adalah setara (bahkan jika kesetaraan itu sebua Utopia, dia tetap merupakan kapak mendasar). Sebaliknya, simulasi dimulai dari Utopia dari prinsip kesetaraan ini, dari negasi radikal tanda sebagai nilai, dari tanda sebagai pengembalian dan kematian kalimat dari setiap referensi. Sementara representasi mencoba untuk melakukan simulasi dengan menginterpretasikannya sebagai representasi yang salah, sebaliknya simulasi justru melingkupi keseluruhan representasi sebagai suatu simulacrum – Simulacra and Simulation dalam Jean Baudrilard: Selected Writings, 1988:170).

Istilah hiperreality atau hiperrealitas telah digemakan pertama kali oleh Marshal Mc Luhan pada tahun 1960-an. Dalam bukunya, Understanding Media: The Extensions of Man, Luhan meramalkan perihal peralihan dari era teknologi mekanik ke era teknologi listrik di Barat yang akan membawa sejumlah peralihan pula pada fungsi teknologi sebagai perpanjangan tangan manusia yang semula menjadi perpanjangan badan dalam sistem ruang menjadi perpanjangan sistem saraf. Melalui perpanjangan sistem saraf inilah manusia menjadi terhubung dalam sebuah global village (desa global). Pernyataannya dibuat saat teknologi komputer dan internet belum berkembang. 

Di era Baudrilard, yaitu tahun 1980-an di mana perkembangan teknologi informasi khususnya komputer dan televisi semakin pesat, maka Baudrilard mengembangkan wawasan teoritisnya bahwa teknologi di Barat bukan hanya memperpanjang badan atau sistem saraf manusia, namun sebagaimana dikatakan Yasraf Amir Piliang, “bahkan lebih fantastis lagi mampu menghasilkan duplikat manusia; mampu menyulap fantasi, halusinasi, ilusi ataua science-fiction menjadi nyata; mampu mereproduksi masa lalu dan nostalgia; mampu melipat-lipat dunia sehingga tak lebih dari sebuah layar kaca, flash disc atau memory bank” (Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampui Batas-Batas Kebudayaan, 2011:160-161). 

Piliang melanjutkan pernyataannya, “Bagi Baudrilard, penciptaan dunia kebudayaan dewasa ini mengikuti satu model produksi yang disebutnya simulasi – penciptaan model-model nyata yang tanpa asal usul atau realitas: hiper-realitas. Melalui model simulasi, manusia dijebak di dalam satu ruang, yang disadarinya sebagai nyata, meskipun sesungguhnya semu atau khayalan belaka”.

Gejala simulakra dan hiperrealitas kita dapati juga dalam fenomena hoaks yang semakin mendirigenisasi kesadaran publik hingga menggiringnya pada titik ketidakmampuan lagi membedakan mana fakta dan fiksi bahkan memperlakukan fiksi sebagai fakta.

Tidak ada jalan keluar terbaik untuk keluar dari gejala simulakra dan hiperrealitas dari kekuasaan rezim hoaks selain tidak begitu saja larut dalam arus massa yang semakin anonim dengan tidak tergesa-gesa untuk menerima setiap informasi dan begitu saja bereaksi serta memviralkannya. Sikap skeptik (tidak mudah percaya) bisa menjadi kultur baru untuk mengantisipasi kita menjadi korban hoaks ataupun menjadi salah satu penyebarluas hoaks.


Artikel Terkait