6 bulan lalu · 94 view · 3 menit baca · Filsafat 70447_54072.jpg
http://chriscutrone.platypus1917.org/?p=2456

Gejala Dilirium Dalam Tubuh Sosialis

Dilirium merupakan pleonasi untuk menerangkan keadaan bingung akut yang disebabkan secara organis penurunan fungsi mental seseorang. Gejala ini mengandaikan ragam tingkat keparahan penyakit yang disesuaikan oleh permasalahan yang sedang berlangsung. Biasanya gejala dilirium ini terlihat melalui disorganisasi prilaku, defisit kognitif, perubahan gairah, serta fitur psikotik, seperti halusinasi dan delusi.

Seperti dilirium, tubuh biologis para sosialis mengalami gejala disorganisasi, defisit metodelogi, penurunan gairah pengorginisiran, ilutif dan delutif. Para sosialis masih terjebak pada utopia lingkar diskusi, eksklusifitas struktural, fragmentasi ideologis dan perdebatan agenda politik progresif  oleh sebagian organ kiri yang masih berjarak dengan realitas.

Membesarnya kelompok politik oligarki yang disponsori oleh bisnis multinasional, memberi sinyal tibanya kekuatan modal, privatisasi kekayaan, dan politik kartel yang diinvestasikan melalui pertumbuhan demokratisasi. Konsekuensinya, penggusuran dan perampasan ruang hidup masif terjadi demi bisnis dibidang ekstraktif, akumulasi private property oleh para pemodal, dan hegemoni kepentingan elektoral elite, yang bukan kepentingan rakyat berdampak pada dipersempitnya ruang politik demokrasi deliberatif warga negara.


Di Venezuela, pada masa kepemimpinan Presiden Hugo Chavez, berhasil mentrasformasikan desain politik oligarkis menjadi suatu kekuatan terorganisir yang berbasis konstruksi akar teoritis sosialisme. Chavez membawa Venezuela menuju sosialisme yang dibangun melalui trajektori politik populisme, tentu dengan dilengkapinya penggunaan fasilitas metodelogi marxian yang mendalam.

Pengertian politik populisme diinspirasi oleh teoritisi Marxis asal Argentina Ernesto Laclau dalam karyanya Politics and Ideology in Marxist Theory. Ia membahas terminologi populisme dalam kerangka analisis Marxis Gramscian. Melalui pendekatan analisis diskursus, Laclau memahami populisme sebagai gerakan politik multi-kelas dan supra-kelas yang hadir dalam momen politik rapuhnya hegemonik kekuatan politik dominan sehingga memberi peluang munculnya struktur kesempatan politik baru bagi gerakan politik akar rumput yang dipimpin oleh pemimpin kharismatik untuk mengartikulasikan wacana radikal anti-oligarki.

kondisi kita saat ini ditandai oleh keadaan spesifik oligarkis yang dipenuhi keterancaman, terasing, jenuh, dan tanpa arti. Banyak intelektual maupun aktivis kiri sarat akan perasaan absurditas, kebosanan, muak, dan tanpa arti. Sialnya, kalangan kiri yang tak tahan menahan ketertekanan justru keluar dan memutuskan diri berpihak pada politik kekuasaan oligarkis.


Ide menyoal determinisme politik sosialisme lenyap bersamaan dengan hilangnya keyakinan akan kepemilikan bersama. Hilangnya upaya untuk memperjuangkan pengorganisasian pola produksi melalui kuasa negara demi kesetaraan dan penghapusan kemiskinan. Hilangnya harapan tentang pendistribusian keadilan yang maksimal pada sektor ekonomi rakyat demi tercapainya kesamaan kelas, harmonisasi, dan kasih sayang. Serta abainya ontologi sosial: tatanan masyarakat yang etis.

Sebaliknya. Pembiaran terhadap penguasaan alat produksi dalam kuantitas besar oleh segelintiran orang yang juga disponsori oleh negara. Penghisapan para pekerja melalui kolaborasi pemodal dan stakeholder. Semakin berjaraknya klasifikasi vertikal kelas sosial dan membesarnya kondisi injustice akibat antagonisme kelas. Abainya kontrol pemerintah terhadap faktor produksi kapitalisme yang agresif. Berpindahnya supremasi politik negara ke supremasi politik kartel aktor non-negara. Meluasnya kompetisi demi surplus value, menyempitnya nilai dasar kegunaan mekanisme produksi.

Gangguan dilirium pada tubuh sosilis yang mengakibatkan kebingungan parah, berkurangnya kesadran terhadap lingkungan sekitar, perubahan fungsi otak, kesulitan berfikir jernih, gelisah, linglung, lesu dan gangguan konsentrasi. hanya mungkin disembuhkan bila para sosialis mampu menjaga nafas panjang wacana agar tidak tertutup pragmatisme, menyediakan nutrisi aktivisme dengan mendekati pusat-pusat penderitaan, soliditas dan solidaritas antar sosialis untuk keluar dari gangguan gen egois dan setelahnya tiba pada gen altruis, menghindari hegemoni oligarkis, menerapkan kebiasaan sehat dengan memperbanyak refleksi, menciptakan suasana yang tenang dan stabil dalam organisme organisasional, dan menghindari pesimisme distopis menyoal sosialisme dengan memastikan bahwa keterbebasan masyarakat dari injakan sepatu oligarkis hanya mungkin ditempuh melalui jalan sosialisme.

Dalam kondisi lemahnya gerakan politik kepartaian di Indonesia yang memperjuangkan agenda politik kerakyatan, demokrasi diakuisisi oleh demagogi oligarkis partai-partai. Maka, kekuatan sosialisme harus memenangkan proposal kerakyatan melalui serangkaian agenda politik progresif yang terlegitimasi.

Seperti populisme Hugo Chavez di Venezuela, kalangan gerakan akar rumput progresif dari mahasiswa, buruh, petani. Perempuan, mereka yang tersisih dan terpinggirkan karena rasisme serta rakyat miskin kota harus bersatu menyingkirkan kekuatan oligarki yang menyelundup masuk dalam struktur krusial negara. Dengan kata lain, Membangun partisipasi aktif politik-ekonomi alternatif yang otonom sebagai budaya tanding atas kekuasaan oligarkis.

Pada dasarnya, para sosialis kehilangan ultim rumusan rovolusioner. Pada intinya, para sosialis mengalami dilirium temprorer. Pada akhirnya, politik oligarkis kekuasaan memenangkan pertandingan.


Artikel Terkait