Gerai McDonald's harus pergi dari Gedung Sarinah sempat trending topic di Twitter. Kenapa McDonald's harus pergi? Ya karena tempat tersebut mau direnovasi. Tetapi kenapa pamitnya tutup secara permanen, apakah memang disuruh pergi, padahal bisa kembali kalau gedung sudah selesai renovasi? Kalau mau.

Kementerian BUMN dan Kementerian Koperasi dan UKM memang sebelumnya sudah berencana mengubah konsep gedung Sarinah. Gedung Sarinah akan dijadikan mall khusus untuk produk-produk usaha mikro, kecil, dan menengah lokal Indonesia. McDonald’s jelas tidak termasuk bagian dari rencana tersebut.

Beberapa warganet sempat sedih karena McDonald's Sarinah tempat kenangan kini pamit untuk tutup permanen. McDonald's Sarinah digunakan sebagai tempat janjian untuk ketemuan atau sebagai patokan posisi bagi beberapa warganet yang tinggal di sekitar Gedung Sarinah.

Sejarah McDonald's Sarinah

McDonald’s dibuka di Sarinah Thamrin pada 14 Februari 1991. Ia menjadi restoran McDonald’s pertama di Indonesia. Gerai McDonald's Sarinah sempat tutup dan digantikan Toni Jack’s Indonesia pada 1 Oktober 2009.

Sayangnya, Toni Jack’s tidak berusia panjang. Awal tahun 2011, Toni Jack’s gulung tikar. Manajemen Sarinah kemudian melakukan tender untuk penyewaan gerai di bekas Toni Jack’s tersebut dan akhirnya dimenangkan oleh McDonald's.

Tepat pada 14 Februari 2011, atau 20 tahun sejak masuk pertama kali ke Indonesia, McDonald's kembali hadir di Sarinah. Bedanya, kini statusnya bukan lagi gerai pertama, melainkan gerai ke-112. (2020,Tirto.ID)

Hingga saat ini, McDonald's Indonesia telah memiliki kurang lebih 200 gerai di berbagai penjuru Indonesia. Total karyawannya mencapai 14 ribu. Manajemen memastikan karyawan McDonald's Sarinah tidak akan di-PHK, melainkan dipindahkan ke gerai lain.

Kembalinya Fungsi Gedung Sarinah

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan Presiden Jokowi sudah memerintahkan agar Sarinah diubah menjadi 'showroom' bagi produk-produk UMKM. Sementara Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan akan melakukan pembenahan tanpa menghilangkan nilai sejarah dari Sarinah. (2020, Tirto.ID)

Presiden Pertama RI. Ir. Soekarno mempunyai inspirasi negeri ini harus mempunyai satu tempat yang bisa memamerkan budaya, produk, dan kekayaan bangsa Indonesia. Maka dibangunlah Gedung Mall Sarinah, gedung pertama pencakar langit dan mall tertua di Indonesia.

Tak salah juga Kementerian BUMN dan Kementerian Koperasi UKM punya rencana untuk mengubah konsep gedung Sarinah. Karena memang itu adalah awal dari tujuan didirikannya Gedung Sarinah. Yang berfungsi untuk mall produk-produk lokal dan mikro, jelas McDonald's tak akan masuk bagian itu.

Terinspirasinya Presiden Jokowi kepada Bung Karno

Negara ini merasa tidak punya tempat yang bisa menggambarkan ini Indonesia. Kita harus punya satu, di mana tamu luar negeri bisa melihat ini budaya kita, produk kita, dan semua tentang negara Indonesia.

Presiden Jokowi mungkin resah dengan Indonesia yang sudah kehilangan keindonesiaannya, bahkan tidak bisa memamerkan kekayaannya, simbol produk asal Indonesia. Kita harus mencintai produk-produk Indonesia.

Bahkan salah satu tujuan dibangun Mall Sarinah juga sebagai data harga penyeimbang, misalnya di Mall Sarinah harga lima puluh ribu rupiah maka harga di pasaran tidak boleh lebih tinggi daripada harga di Mall Sarinah.

Beruntunglah Presiden Jokowi terinspirasi oleh Bung Karno. Beliau yang memelihara mimpi-mimpi besar Soekarno. Mulai dari keinginan menjadikan Indonesia mandiri dan maju, sampai ke hal yang kecil seperti mengembalikan Sarinah.

Jokowi memang bukan anak biologis Soekarno, dia adalah anak ideologisnya. Kelak, ketika renovasi selesai, para tamu luar negeri akan selalu dibawa ke Sarinah, dipamerkan kekayaan Indonesia dengan penuh kebanggaan.

Keinginan Bung Karno Membangun Departemen Store Sarinah

Ketika Sidang Kabinet Dwikora di Bogor pada 15 Januari 1966, Bung Karno meminta agar Sarinah menjadi ekonomi sosialis. Tidak ada satu negara sosialis yang tidak punya department store, Distribusi Legal. Menurut Bung Karno, datang Ke Hanoi ada, datang ke Moskow ada, datang ke Shanghai ada. (Historia.ID)

Selain sebagai distribusi legal, Bung Karno mengatakan Sarinah sebagai penurun atau penyeimbang harga. Ketika harga di Department Store Sarinah lima puluh ribu rupiah, maka harga di Store luar tidak boleh lebih dari lima puluh ribu rupiah. Jadi di store luar tidak boleh tinggi daripada harga di department store Sarinah.

Selain itu, Sarinah juga sebagai tempat penjualan barang-barang produk dalam negeri, misalnya hasil pertanian dan perindustrian rakyat. Sehingga punya tempat untuk memamerkan kekayaan bangsa Indonesia. Ini lho keindonesiaan.