Batik gedog Tuban nyaris sirna, tetapi muncul kembali oleh semangat melestarikannya.

Kota Tuban memiliki beberapa versi tentang asal-usulnya. Ada yang menuturkan, Tuban berasal dari lakuran watu tiban atau batu yang jatuh dari langit atau batu pusaka yang dibawa oleh sepasang burung dari Majapahit menuju Demak, jatuh di wilayah Tuban. Keberadaan batu ini masih dapat dilihat di Museum Kambang Putih, Tuban.

Versi lainnya, disebut Tuban berasal dari kata metu banyu atau keluar air. Ini didasari peristiwa Raden Dandang Wacana atau Kyai Gede Papringan yang menjabat sebagai Bupati Tuban, membuka hutan Papringan. 

Ketika hutan dibuka, ternyata keluar air sangat deras dari sumber sumur dangkat dekat laut. Uniknya, air tersebut tawar meski tak jauh dari laut.

Versi terakhir, Tuban berasal dari kata "tuba" atau racun yang artinya sama dengan nama kecamatan di Tuban, yaitu Kecamatan Jenu. 

Tuban sendiri dulunya adalah pelabuhan laut ternama yang menjadi pusat aktivitas perdagangan Kerajaan Majapahit.

***

Kainnya khas dan dibuat sendiri. Tebal dan kuat, kemudian dihiasi dengan ragam motif batik khas setempat. Batik gedog Tuban nyaris sirna, tetapi muncul kembali oleh semangat melestarikannya.

Dimulai dengan pemintalan benang, menenun, membatik, serta mewarnai kain dengan bahan alami, batik gedog Tuban dibuat. Prosesnya tak sebentar, butuh minimal tiga bulan lamanya untuk menyelesaikan secara keseluruhan. 

Tenun gedog sebagai material kain yang akan dibatik merupakan tradisi membuat kain khas setempat. Gedog berasal dari bunyi "dog dog", yakni bunyi yang dihasilkan alat tenun tradisional atau ATBM (alat tenun bukan mesin).

Tuban sebagai satu dari sekian banyak wilayah di Jawa Timur memang memiliki kebudayaan yang unik seperti tersebut di atas. Kebudayaan ini dihasilkan dari kebudayaan lokal dan kebudayaan asing.

Dari kebudayaan lokal, Tuban dipengaruhi oleh kebudayaan dari Kerajaan Majapahit yang mayoritas Hindu dan kebudayaan Islam dengan hidupnya Sunan Bonang di wilayah Tuban. Dari kebudayaan asing, dipengaruhi oleh sisa laskar Khubilai Khan yang banyak bermukim di wilayah Tuban.

Interaksi tiga kebudayaan yang berbeda tersebut berlangsung sekian lama hingga memengaruhi pola hidup masyarakat Tuban hingga saat ini. 

Akulturasi tersebut direpresentasikan pada ragam motif batik tulis gedog. Pada motif batik tulis Tuban, contohnya, terdapat pengaruh budaya Jawa Hindu, Jawa Islam, dan Tiongkok. Pada budaya Tiongkok, direpresentasikan dengan dengan gambar burung Hong. Pengaruh Islam pada batik Tuban adalah terdapatnya motif kijing miring.

Batik tulis gedog Tuban umumnya dibagi dua model, yakni kain ukuran dua meter atau disebut tapih, dan kain berbentuk selendang. 

Kain batik gedog Tuban umumnya digunakan sebagai hantaran pernikahan dari pihak laki-laki ke pihak wanita. Ada tradisi setempat yang mengharuskan pihak laki-laki membawa kain batik Tuban. Sedangkan untuk selendang, digunakan sebagai alat menggendong bawaan ke pasar atau ke sawah. Tetapi ada juga selendang khusus untuk ornamen busana ke perayaan.   

Motif batik gedog Tuban yang umumnya dikenal di antaranya adalah panjiserong, panjiori, atau panjikrendil. Motif-motif tersebut dulunya hanya dimiliki dan dikenakan oleh kalangan priyayi. Kini batik Tuban lintas golongan tanpa mengenal status sosial lagi. 

Kain batik gedog Tuban dijual mulai dari Rp800 ribuan ke atas. Harga tersebut dibuat dari uraian produksi mulai dari penenunan hingga pembatikan. Tetapi untuk mendapatkan harga jauh di bawah itu, bukan gedog sebagai bahan bakunya. Tetapi kain selain gedog, seperti blacu atau katun, harganya bisa didapat mulai dari Rp40 ribuan.

Motif batik gedog Tuban yang mengandung nilai religi, di antaranya motif kijing miring dan ilir-ilir. Untuk selendang batik Tuban, dikenal di antaranya selendang selimun, lokcan, dan kembang waluh. Selendang selimun malah dipercaya punya khasiat menyembuhkan demam. 

Kain dan selendang batik gedog Tuban umumnya berwarna kecokelatan. Warna gelap adalah ciri khas batik gedog Tuban. 

Untuk mendapatkan warna cerah, umumnya gedog dilapisi kain di luarnya yang mampu menghasilkan warna cerahnya. Sifat kain dasarnya sangat menyerap pewarna sehingga tidak timbul kecerahannya.  

Kain dan selendang batik tulis tenun Tuban biasanya berwarna kecokelatan. Warna gelap menjadi ciri khas batik gedog dari Tuban. Meski begitu, Anda juga bisa menemui batik Tuban berwarna cerah. Namun biasanya, batik warna cerah menggunakan bahan lain di luar kain tenun.

Di luar berbagai tradisi budaya setempat dalam memandang fungsi selendang batik ini, sejatinya batik Tuban punya karisma dan keindahan yang khas dan unik. Selembar kain batik tenun tulis Tuban mewakili kreativitas perajin yang tak pernah mati, selain juga kegiatan membatik yang mengandalkan bahan dasar dari alam.

Keberadaan profesi perajin batik gedog tulis tradisional sekarang ini hampir-hampir banyak yang meninggalkannya, karena keterampilan tradisionalnya tak mudah diturunkan dan tak banyak orang menyukainya. Selain itu, banyak yang menganggap keterampilan tradisionalnya tak sepadan dengan pendapatan yang diperoleh.

Kini tinggal beberapa saja pegiat kerajinan batik gedog Tuban yang masih bertahan. Melalui mereka kita disadarkan ada karya budaya yang bernilai seni tinggi. Disebut karya budaya, sebab batik tulis tradisional keberadaannya masih diterima oleh masyarakat sampai sekarang.