2 minggu lalu · 1463 view · 3 min baca · Agama 88986_85126.jpg
philipmantofa.com

GBI, Church of God, dan Mega Church

Belakangan ini, tepatnya memasuki abad ke-21, kekristenan di Indonesia tampak lebih dinamis dan bergairah. Penyebab utamanya adalah kehadiran gerakan gereja raksasa atau mega church. 

Tidak seperti revolusi industri 4.0 yang terus-menerus menjadi perbincangan publik, kehadiran mega church hanya ramai diperbincangkan oleh orang-orang kristiani saja. Meskipun hanya diperbincangkan oleh segelintir orang, efek yang ditimbulkan sangat terasa pada masyarakat Indonesia. 

Pertumbuhan umat Kristen di Indonesia menunjukkan hasil positif dari tahun ke tahun. Menurut hasil survei Chong (2018), jumlah anggota Gereja Bethel Indonesia (GBI) pada tahun 2001 sebanyak 1,08 juta jiwa, naik lebih dari dua kali lipat pada tahun 2014, yakni sebesar 2,6 juta jiwa. Dari puluhan bahkan ratusan sinode/kelompok di Indonesia, GBI merupakan salah satu pelopor gerakan mega church.

Istilah mega church disematkan pada gereja-gereja yang mampu menampung jemaat hingga ribuan orang dalam satu kali sesi ibadah dengan tata ruang dan sound system setara konser akbar walaupun kebanyakan dari mereka tidak punya gedung sendiri. 

Iya, kebanyakan mega church di Indonesia menyewa ruangan/aula yang luas di pusat perbelanjaan untuk digunakan sebagai tempat ibadah mingguan, misalnya Gereja Mawar Sharon Jakarta menggunakan Gedung Tribeca – Central Park dan Living World, Gereja Duta Injil menggunakan ball room di Kuningan City dan Mall Ambasador, serta Gereja Tiberias Indonesia yang memanfaatkan ruangan di lantai 6 Senayan City.

Secara sederhana, definisi mega church sudah dirumuskan oleh Lembaga Penelitian Agama Hatford, yaitu setiap jemaat protestan dengan kehadiran rata-rata 2000 orang atau lebih dalam ibadat mingguan.  


Gereja raksasa atau mega church muncul di Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Gerakan ini menjadi makin santer dan masif berkat kehadiran sosok Bill Hybels, seorang pendeta kawakan pendiri Gereja Komunitas Willow Creek, salah satu perintis mega church di AS.

Dengan semangat revolusionernya, dia mengatakan, “We’re on the verge of making kingdom history, doing things a new way for a whole new generation.” (Chandler 1989)

Pemikiran besar ini lantas menggaet banyak pendeta-pendeta protestan untuk mengikuti langkah Bill. Efeknya, banyak warga Amerika Serikat, yang mayoritas beragama Kristen (dengan berbagai macam denominasi) mulai beralih kiblat ke mega church. Mereka rela meninggalkan gereja terdekatnya demi mendapatkan pelayanan dan pengalaman rohani baru. 

Peter Drucker, seorang konsultan pemasaran terkenal, berkata, “tentu saja (mega church) merupakan fenomena sosial paling berpengaruh pada masyarakat AS dalam 30 tahun terakhir.” (Thumma dan Travis, 2007)

Fenomena sosial ini dianggap juru bicara gerakan mega church di AS, Lyle Schaller, sebagai perkembangan paling penting pada masa kekristenan modern. Semangat yang dibawa oleh para penganutnya adalah reformasi gereja. Garis besar haluan pergerakan mereka berpusat pada alkitab atau alkitab-sentrik.

Sejak akhir abad ke-20 hingga hari ini, tren mega church tidak hanya berkembang di AS. Gerakan ini tersebar ke berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia, kehadiran mega church lekat kaitannya dengan Gereja Bethel Indonesia (GBI).

GBI adalah salah satu sinode anggota Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) yang sejak tahun 1967 melebur dengan Church of God (COG), salah satu Gereja Pantekosta besar di AS. Adanya hubungan erat yang terjalin antara GBI dengan COG ternyata membuka lebar pewartaan mega church di Indonesia. 

Buah-buahnya bisa dengan mudah dilihat, misalnya kehadiran misionaris-misionaris COG sebagai guru dan penginjil di Indonesia, serta kepopuleran lagu/pujian berbahasa Inggris atau dikenal dengan sebutan “Praise and Worship song” yang selalu dinyanyikan ketika ibadah mingguan.

Keeratan hubungan GBI dengan COG ternyata tidak tercermin pada gereja-gereja anggota. Satu per satu gereja di bawah naungan GBI mulai lepas dan membuat kelompok/sinode baru. 


Sebut saja Gereja Mawar Sharon bentukan Jacob Nahuway, Gereja Tiberias Indonesia bentukan Yesaya Pariadji, dan Gereja Suara Kebenaran Injil bentukan Erastus Sabdono, yang belakangan ini ajarannya mendapat banyak pertentangan dari orang-orang Kristen sendiri, misalnya ajaran bahwa Allah itu Dwitunggal, bukan Tritunggal.

Contoh di atas merupakan salah satu bukti bahwa setiap pendiri yang notabene adalah seorang pendeta, membawa tafsiran alkitabnya masing-masing. Tafsiran tersebut pada akhirnya dijadikan sebagai dasar pergerakan gereja bentukannya. 

Dengan keadaan seperti ini, mereka lebih leluasa dalam mengembangkan karya-karya pelayanan sesuai dengan visi dan misi pribadi. Inilah yang menjadi penyebab kuat gereja-gereja tersebut memisahkan diri dari anggota GBI. 

Keputusan ini otomatis membuat segala kegiatan yang dilakukan tidak ada kaitannya dengan GBI. Mereka sudah memiliki visi dan misi serta dasar teologi yang dirumuskan sendiri. 

Lantas, walaupun kenyataannya seperti itu, peran GBI sebagai pelopor mega church di Indonesia patut selalu diingat. Persekutuannya dengan COG membuat pikiran para anggotanya terbuka mengenai kekristenan modern yang terjadi di AS. 

Sehingga, meskipun setiap pendeta memutuskan untuk mendirikan kelompok/sinode baru dengan semangatnya masing-masing, akan dicap sebagai mega church apabila ujung-ujungnya kemegahan ibadah dan teologi kemakmuran yang dijunjung tinggi.

Sumber

  • Chong, Terence. 2018. Pentecostal Megachurches in Southeast Asia: Negotiating Class, Consumption, and The Nation. Singapore: ISEAS - Yusof Ishak Institute
  • Eagle, David. 2015. Supersized Christianity: The Origins and Consequences of Protestant Megachurches in America [Dissertation]. Durham: Duke University.
  • Thumma, Scott and Dave Travis. 2007. Beyond Megachurch Myths: What We Can Learn from America’s Largest Churches. San Francisco, CA: Jossey-Bass

Artikel Terkait