Budaya minum kopi di Indonesia semakin berwarna berkat kehadiran es kopi susu kekinian. Hidangan es kopi susu ini sering dipesan untuk berbagai kesempatan, seperti nongkrong bareng, menemani kerja, atau hanya sekedar untuk penyegaran di tengah teriknya siang hari.

Perihal kopi memang tidak ada habisnya, dari mulai hulu kopi itu sendiri bahkan ke hilirnya sangat seru untuk diperbincangkan. Bahkan, coffee society (masyarakat kopi) menjadi bahasan yang menarik, menganalisa gaya hidup menyarakat yang menikmati kopi sebagai kebutuhan.

Di Indonesia sendiri, kini menjamur kedai kopi di hampir tiap wilayah bisnis kota-kotanya. Beberapa kedai kopi sederhana menghiasi pilihan penikmat kopi di tiap sudut jalan. Tidak hanya menawarkan single origin andalan dari koleksi kopi nusantara. Konsep kedai pun dikemas semenarik mungkin agar menciptakan kenyamanan para pengunjung.

Apapun penyebabnya, hal ini sering membuat kita bertanya-tanya kenapa es kopi susu disukai dan jadi pilihan banyak penikmat kopi. Nah, agar bisa tau lebih dalam, yuk, kita telusuri sejarah penggunaan susu di dalam kopi beserta alasan es kopi susu jadi tren belakangan ini!

Mencampurkan Susu dan Kopi Berawal dari Keisengan Semata

Kebiasaan mencampurkan susu ke dalam minuman sebenarnya udah sering dilakukan oleh orang-orang Eropa. Namun, hal ini umumnya dilakukan dalam membuat teh dan bukan ketika bikin kopi. Nah, menurut catatan yang ada, pencampuran susu ke kopi baru dimulai pada sekitar tahun 1660 oleh duta besar Belanda untuk Tiongkok, yaitu Johan Nieuhof.

Katanya, awal mula kebiasaan ini berasal dari eksperimen Nieuhof aja, alias berawal dari keisengan semata. Namun, mengejutkannya, kebiasaan ini tersebar sampai ke mana-mana dan menghasilkan berbagai hidangan kopi dengan susu, seperti es kopi susu yang kita kenal selama ini.

Dengan keisengan Nieuhof ini es kopi susu menjadi viral dimana-mana dan akhirnya es kopi susu ini juga menjadi peluang bisnis dan menjadi sumber mata pencaharian. Ragam kopi kekinian ini dihidangkan dengan gula aren buat menambah cita rasa lokal yang tajam, serta bahan lain agar bisa menambah variasi, kayak es kopi susu durian atau alpukat. Hidangan-hidangan ini dikemas dalam gelas dan juga dibanderol dengan harga yang terjangkau.

Kopi Tanpa Susu Terlalu Pahit

Selanjutnya, ternyata ada cerita selain yang udah disebutkan di atas. Menurut suatu riwayat, pencampuran susu juga berawal di wilayah Austria, tepatnya setelah Pertempuran Wina tahun 1683. Singkatnya, perang itu terjadi karena Kerajaan Ottoman mau mengepung dan mengambil Kota Wina dari tangan Austria. Namun, berkat bantuan dari Polandia, Austria berhasil memenangkan pertempurannya.

Kemenangan itu tentunya membuahkan berbagai tokoh bersejarah, salah satunya Jerzy Franciszek Kulczycki. Lantaran dianggap memegang andil karena kesuksesan melawan Kerajaan Ottoman, Kulczycki dihadiahi Austria dengan berkarung-karung biji kopi yang kemudian dia gunakan buat buka usaha kafe.

Nah, dalam menyajikan kopi buat pelanggannya, Kulczycki belajar dari kebiasaan orang-orang dari Kerajaan Ottoman yang udah menjajah Austria sebelumnya. Namun, cara yang dipelajari tersebut dinilai terlalu pahit bagi lidah orang-orang Eropa. Jadi, dia mulai mencampurkan madu dan susu agar lebih manis dan enak diminum, deh.

Kopi tanpa susu terlalu pahit ini benar adanya karena masih banyak orang terutama orang Indonesia yang menyukai minuman/makanan yang manis jadi inilah salah satu penyebab es kopi susu banyak varian nya tidak hanya Es kopi susu tetapi juga ada Es kopi susu gula aren, Es kopi susu regal, Bahkan ada es kopi susu durian. Dengan perpaduan kopi dan susu yang pas dan enak coffeeshop akan mudah mendapatkan pelanggan apalagi dengan tempat yang strategis, cozy, dan nyaman untuk bekerja, ataupun mengerjakan tugas

Semakin Banyak Susu Semakin Nikmat

Kemudian, kebiasaan yang terjadi di Wina berlanjut hingga ke Italia dan seluruh dunia dengan kemunculan cappuccino di awal 1900-an. Menurut catatan yang ada, cappuccino menjadi terkenal di wilayah Italia setelah mesin espresso dipatenkan di tahun 1901 oleh Luigi Bezzera.

Seperti yang mungkin udah kamu ketahui, cappuccino memiliki perbandingan jumlah kopi yang lebih banyak dari kopi latte. Cappucino dan kopi latte sama-sama dibuat menggunakan campuran kopi (espresso), susu cair dan busa susu. Yang membedakannya adalah takaran perbandingan ketiga bahannya. Cappucino dibuat dengan takaran 1/3 kopi, 1/3 susu cair dan 1/3 busa susu, sementara kopi latte menggunakan perbandingan 1/6 espresso, 4/6 susu cair, 1/6 busa susu. Cappucino dirasa terlalu tajam oleh salah satu pemilik kafe di wilayah Berkeley, California, Amerika Serikat, bernama Lino Meiorin pada tahun 1950-an. Menurutnya, para pelanggan tidak terbiasa dengan cita rasa cappuccino yang tajam kayak di Italia. Akhirnya dia memerintahkan para baristanya buat menambahkan susu. Kemudian, lahirlah kopi latte!

Munculnya Es Kopi Susu Kekinian

Banyak orang yang udah kenal dengan istilah cappuccino dan latte. Namun, banyak juga yang mengenal kedua minuman ini hanya dengan istilah kopi susu. Tentunya hal ini agar penyebutan bisa jadi lebih gampang, bebas, dan nggak neko-neko.

Kebebasan ini jugalah yang akhirnya melahirkan berbagai hidangan es kopi susu kayak yang udah dikenalin berbagai kafe kekinian saat ini. Ragam kopi kekinian ini dihidangkan dengan gula aren buat menambah cita rasa lokal yang tajam, serta bahan lain agar bisa menambah variasi, kayak es kopi susu durian atau alpukat.

Hidangan-hidangan ini dikemas dalam gelas dan juga dibanderol dengan harga yang terjangkau. Kemudian, banyak dari kafenya pun memiliki tempat yang memudahkan pemesanan take away dan delivery. Intinya, sih, segalanya memang didesain agar praktis dan menunjang kenyamanan para pelanggan.

Itulah tadi perjalanan panjang penggunaan susu dalam membuat kopi hingga akhirnya menjadi es kopi susu yang kita kenal saat ini. Intinya, susu dituangkan buat mengurangi ketajaman dan rasa pahit yang dimiliki kopi. Namun, tren es kopi susu kekinian merupakan sebuah gerakan yang mendorong kebiasaan kopi hingga menjadi mudah didapatkan dan menyesuaikan gaya hidup penikmat yang serba praktis.

Generasi Selanjutnya Peminum Kopi

Berdasarkan demografi, kebanyakan diantara peminum kopi masih tergolong kaum milenial, dan tentunya daya beli datang dari kaum milenial juga. Lalu, seperti apa generasi selanjutnya ikut serta dalam atmosfir minum kopi yang semakin berkembang, tentu kaum milenial masih dengan segala ekspektasi mereka tentang sajian kopi, bagaimana dengan generasi Z atau generasi selanjutnya. Generasi Z bisa dibilang meliputi umur yang lahir antara tahun 1996 hingga 2010, yang mana tentu akan berbeda pengalaman, sifat dan pendapat tentang segala hal, termasuk perihal sajian kopi. Kami sadur, dari teaandcoffee.net yang menjelaskan hasil studi National Coffee Association (NCA) lembaga kopi di Amerika Serikat, memantau perilaku konsumsi kopi para generasi Z. Temuan studi di tahun 2017 menjelaskan kopi bukan minuman yang banyak dikonsumsi para generasi Z, walau pun demikan beberapa di antaranya menikmati kopi juga, dengan caranya sendiri.

Pada persentase yaang sedikit, peminum kopi pada generasi ini lebih senang menikmati kopi siap minum seperti kopi dalam botol atau pun kaleng. Di lain momen, mereka pun lebih menikmati kopi dengan pemanis agar sajian kopi lebih nikmat menurutnya. Dan di lain waktu penelitian menjelaskan beberapa perempuan pada generasi Z lebih menikmati sajian minuman berbasis espresso, baik dingin mau pun sajian kopi panas seperti cappuccino, latte dan lainnya. Para pria pada generasi ini sangat kecil kemungkinan untuk menikmati kopi mereka dengan menambahkan creamer atau pun sirup, dibandingkan dengan perempuan yang senang minum kopi dengan menambahkan apa pun agar rasa nyaman menurut mereka.

Ngopi sebagai gaya hidup yang baru

Makin menjamur nya peminat Es kopi susu pada sekarang ini menyebabkan banyaknya orang berlomba lomba membuka coffeshop terutama pada kota-kota besar contoh nya Jakarta, Surabaya, Bandung, dan masih banyak kota lain. Ini adalah salah satu  faktor yang menyebabkan gaya hidup ngopi makin banyak digemari di kalangan muda. Padahal sebelum menjamur nya coffee shop kekinian ini banyak coffee shop besar seperti Starbucks, dan Excelso, tetapi produk kopi ini dijual dengan harga diatas rata-rata yang bisa dinikmati dengan kalangan atas.

Saya ambil contoh di kota Surabaya ini coffeeshop pertama dan pelopor nya adalah Jokopi yang terletak di Jalan Ketabang kali, Jokopi ini merupakan pelopor menjamur yang coffeeshop di surabaya. Yang membuat ia ramai sampai sekarang adalah harga yang terjangkau tetapi dengan kualitas yang tidak kalah dengan coffeeshop mahal. Dan akhirnya gaya hidup ngopi mulai naik di kalangan muda di kota Surabaya sampai sekarang.

Menurut saya gaya hidup ini tidak salah karena ini adalah gaya hidup yang baru karena dengan menjamur nya coffeeshop ini banyak lapangan kerja untuk mahasiswa, Fresh graduate (SMA/K), dan ini juga bisa jadi ladang bisnis yang sangat menguntungkan. Banyak juga coffeeshop dengan tempat yang luas, dan nyaman yang bisa di pakai untuk mengerjakan tugas, meeting orang kantor jika bosan meeting di kantor. Tetapi yang salah adalah gaya hidup yang memaksakaan atau karena circle pertemanan anak-anak rela meminta uang/ mengambil uang secara paksa dari orang tua nya. Jadi bertemanlah dengan orang-orang yang tidak memaksa mu untuk nongkrong ketika kalian tengah kesusahan.