Era digital beperan penting dalam mendukung sosialisasi kebijakan pemerintah saat ini. Pada era ini, berbagai terobosan baru digaungkan secara masif lewat berbagai lini media digital seperti Twitter, Facebook, Instagram maupun kanal media online lainnya.

Lewat media online, berbagai informasi dapat dengan mudah didapatkan serta disebarkan. Hal ini juga membawa terjadinya perubahan pada komunikasi politik.

Pada era ini, komunikasi politik sangat jauh berbeda dari era sebelumnya, di mana pada zaman dulu kampanye masih dilakukan secara konvensional dan tidak dapat diviralkan. Namun era digital telah menjadikan hilangnya batasan ruang dan waktu untuk dapat melakukan kampanye.

Dengan dukungan kemudahan akses membuat media digital menjadi pilihan utama dan banyak digunakan oleh para politisi sebagai media untuk melakukan kampanye. Vowe & Henn (2014) bahkan menyebut bahwa era digital membawa perubahan paradigma bagi studi dan praktik komunikasi politik.

Para politisi biasanya akan mengenalkan sosok atau figur mereka, mengampanyekan visi dan misi dan seterusnya lewat media online. Mereka akan menggambarkan citranya sedemikian rupa pada ruang-ruang online untuk dapat menarik perhatian para calon pemilih.

Karena saat ini semua orang tanpa terkecuali dapat dengan mudah menggunakan dan mengakses media online dalam kehidupan sehari-harinya di mana pun dan kapan pun.

Era Digital dan Politik Gaya Baru

Seiring berkembangnya zaman yang makin modern, kecanggihan teknologi begitu memanjakan kehidupan masyarakat. Seperti halnya para politisi yang memanfaatkan media digital sebagai alat untuk melakukan kampanye.

Era digital telah menciptakan gaya baru komunikasi politik dengan metode baru campaign atau kampanye lewat media online. Pasalnya, kampanye di media sosial memiliki target fokus, serta indikator yang jelas dan tepat.

Pada dasarnya, efektivitas inilah yang dicari oleh para politisi. Mereka saat ini dapat dengan mudah menggiring opini publik. Terlebih ketika menjelang masa pesta demokrasi, banyak para politisi yang berseliweran pada layar-layar media online dengan tujuan untuk meraup keuntungan dalam perolehan suara.

Gaya kampanye melalui media sosial ini awalnya telah banyak dilakukan oleh brand ternama, yang mana memiliki berbagai konsep dan juga tujuan. Kemudian hal tersebut diadopsi oleh kalangan politisi.

Saat melakukan kampanye di media sosial, biasanya mereka memiliki tema tertentu. Tema tersebut dapat diperoleh dari hasil riset yang mendalam dan juga akurat, yang kemudian dieksekusi untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Lalu, apa sebenarnya tujuan dari campaign di media sosial tersebut?

Kita semua tahu bahwa politik di Indonesia belakangan ini sudah memanfaatkan perkembangan teknologi lewat media digital, seperti mempromosikan partai politik lewat media sosial, mengenalkan keluarga, bahkan untuk mengenalkan kerabat yang akan mencalonkan diri di dunia politik.

Tentunya hal ini membawa dampak yang bagus karena berarti bahwa pemerintahan saat ini sudah melek digital. Namun ketika pemerintah mengambil kebijakan dengan mengontrol semua aktivitas masyarakat pengguna dunia maya, maka akan menyebabkan terjadinya bencana baru karena dirampasnya ruang privasi bagi masyarakat.

Hal tersebut menyebabkan proses demokrasi tidak akan tumbuh, karena akan memunculkan pemimpin yang antikritik. Siapa yang mengkritik kebijakan dengan dalih yang tidak berdasar, maka akan langsung di kenakan pasal UU ITE. Karena mereka dianggap mencoba untuk mencemarkan nama baik pemerintah.

Ini sama halnya dengan politik oligarki. Oligarki adalah sebuah struktur pemerintahan di mana kekuasaan berpusat hanya pada sekelompok orang. Sering kali golongan ini mengendalikan kekuasaan sesuai dengan kepentingan mereka sendiri.

Menurut Aristoteles dalam bukunya Politics (1995), oligarki yang makna literalnya dapat diterjemahkan menjadi ‘kekuasaan oleh segelintir orang’ merupakan manifestasi pemerintahan yang buruk. Oleh karena sifatnya yang elitis dan eksklusif, terlebih lagi biasanya beranggotakan kaum kaya, membuat oligarki mengesampingkan kebutuhan masyarakat luas.

Seperti kasus yang terjadi di Jawa Timur, misalnya. Berdasarkan hasil riset Pusat Studi Anti Korupsi dan Demokrasi (PUSAD) Universitas Muhammadiyah Surabaya, didapatkan temuan sebesar 32% masyarakat 19 Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang Percaya pada Calon Kepala Daerah yang memiliki hubungan (keluarga, patronase, dan hal lain sejenis), dikarenakan praktik politik dinasti menghambat kaderisasi kepemimpinan di Kabupaten/Kota terkait. 

Sedangkan sebanyak 10,8% responden menyatakan tidak peduli pada isu politik dinasti (28/4/2020).

Ini mengindikasikan peran teknologi di era digital sangat membantu untuk mencari data dan fakta, bahkan untuk memblow up benar maupun salah informasi yang dibuat berkaitan dengan fenomena pasca-kebenaran (post-truth) yang mengaburkan kebenaran.

Perang Dingin Politisi

Politik gaya baru ini juga terjadi di semua negara, perang politik yang terjadi selalu santer dengan isu-isu mengaitkan fenomena yang terjadi saat ini. Misalkan saja kasus Covid-19 terus di gaungkan lewat media digital.

Hal ini berkaitan dengan bagaimana pemerintah kurang tanggap dalam menyelesaikan permasalahan di negara tersebut. Yang terbaru kasus perang dingin Bill Clinton mantan presiden dan sang petahana Donald Trump.

Mantan Presiden Bill Clinton dengan tegas memberikan pilihan yang kontras kepada rakyat AS. “Rakyat harus memutuskan apakah akan memperpanjang kontrak Trump atau mengangkat Biden. Jika Anda ingin presiden yang menghabiskan waktu seharian menonton televisi dan membuli lawan politik di media sosial, pilihlah Trump,” dikutip ABC News (18/08/2020).

Clinton kemudian memuji Joe Biden yang terbukti telah berhasil mengatasi sejumlah krisis seperti krisis finansial global 2008 ketika dia memimpin bersama dengan Barack Obama. Joe Biden sendiri merupakan mantan wakil Presiden Amerika serikat pada masa kepemimpinan Barack Obama.

Dampak Teknologi di Dunia Politik

Di era digital, perkembangan tekonologi sekarang sudah sangat pesat. Tidak heran sesuatu yang tadinya dilakukan secara manual kini sudah beralih menjadi automatisasi. Perubahan ini dampak dari Revolusi Industri 4.0, yaitu sebuah era di mana segala sesuatu sudah menggunakan internet dan automatisasi.

Seperti yang kita tahu bahwa munculnya teknologi harus memberikan manfaat bagi masyarakat, entah itu dibidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Di dunia politik sendiri, fungsi teknologi menjadi senjata baru sebagai upaya media campaign.