Tanah air kembali dihadiahi kejutan keji dari kelompok teror yang berhasil meledakkan bom di sekitar rumah ibadah Katolik yakni Gereja Katedral Makassar. Terduga para pelaku merupakan anggota kelompok JAD (Jamaah Ansharut Daulah) sebuah afiliasi teror yang langsung terkoneksi dengan ISIS.

Dua orang pelaku yang merupakan pasutri berkelahiran 1995, tergolong dini untuk andil pada persekutuan mau pun pengeksekusi suatu aksi pemboman. Mereka ialah pengusaha makanan online, sang suami juga seorang karyawan swasta dengan kehidupan yang terlihat ‘normal’ oleh lingkungannya.

Diketahui motif lain peluncuran aksi menakutkan ini menurut pengamat teroris Universitas Indonesia, Muhammad Syauqillah ditengarai situasi menjelang bulan Ramadan menjadi momen favorit komunitas tersebut yang disebut “amaliyah” dimana bulan ini amal dilipatgandakan, merupakan bulan yang amat sakral bagi kelompok tersebut. Tindakan pengeboman menjelang bulan Ramadan juga pernah terjadi beberapa kali seperti di Sukoharjo 2019 lalu.

JAD sedikit berbeda dengan JI yang berafiliasi dengan Al-Qaeda. JAD menitikfokuskan aksi ajaran melalui media virtual seperti Telegram yang mana para anggota secara berkala dibekali pengetahuan pasif –hingga agresif– mengenai pengembangan mental dan praktik ekslusif tata cara membuat serangan teror baik dari senjata tajam hingga material bom sedang (suicide bomb).

Berkembang luasnya digitalisasi tak luput dimanfaatkan pemangsa darah tak bedosa untuk mencari peluang masif untuk merekrut pengikut tanpa batas. Jaringan ini ternyata terstruktur elok dan intergratif di dunia maya, meraup kalangan muda yang mudah terbius pemahaman radikalis atau pula ‘newcomer’ yang meminati ajaran pemuka agama berdoktrin bengis, gemar mencerca perbedaan dan intoleran. Mereka tidaklah sedikit.

Minggu lalu, dalam perjalanan menuju kota Medan dari kota kecil Pangkalan Brandan menaiki kendaraan umum wujudnya seperti mobil kijang kebanyakan saya menemui seorang pria tua yang menyetop kendaraan ini dan duduk tepat di belakang saya. Dia berbincang sangat lantang dengan penumpang di sebelahnya tentang arti kehidupan, jawaban pertanyaan kampung halaman sebenarnya yaitu rahim ibu sendiri ketika nanti ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, tentang surga dan neraka, tentang bagaimana anak sekarang kurang menghormati orangtua.

Sepintas obrolan awal ini biasa saja sampai pada titik dia menggaungkan perkataan dan lebih tepatnya ajakan teror pada suatu ras tertentu. Dia membuka kaca mobil dan berteriak lantang “Bunuh C**a!! Bunuh C**a!!” di depan ibu-ibu yang sedang berbelanja di pasar; pemilik toko; dan kerumunan orang yang tengah sibuk bernegosiasi.

Sontak saya yang sedang menikmati perjalanan menjadi sangat terusik dan tidak nyaman, bingung dan pastinya saya takut. Ketakutan terbesar saya ialah apabila ternyata pria ini menyembunyikan senjata baik tajam atau peledak karena bisa saja dia meluncurkan aksi kejinya dan meluapkan kebencian pada kami yang tak bersalah.

Saya tertegun dengan reaksi masyarakat kita yang masih denial atau menolak kenyataan bahwa teroris adalah gembala umat beragama yang tersesat. Contoh pengalaman saya tadi bisa jadi pembuka mata bahwa bibit teror adalah kebencian mendarah daging, dipupuk dengan berkoloni melalui jaringan yang supportive, mereferensikan diri sebagai golongan yang paling nestapa, korban penjajahan modern, dan gagalnya pencarian hakikat keimanan itu sendiri. 

Kompleksitas hidup yang traumatis, self-control rendah dan mungkin kegagalan dalam mencapai tujuan hidup menjadi serangkaian motif yang matang hingga memicu segenap emosi bengis itu tercipta. Keberadaan mereka bisa jadi dekat dengan kita.

Para pemuka teroris ini bukankah orang yang dangkal, mereka lihai mencari peluang menghegemonikan visi-nya dengan merekrut mereka yang merasa satu nasib penderitaan, tak ayalnya menyebut diri musuh westernisasi, kapitalisme, neokolonialisme dan narasi rezim dzalim. 

Membalut misi nista mereka melalui pemahaman dangkal nan tersesat agama yang melenceng jauh dari esensi luhur agama itu sendiri. Mangsa peneror adalah manusia yang tengah merayakan kehidupan bisa beribadah; menyantap makanan di restauran, gelaran olahraga, sekolah, atau apa pun yang mengusik jiwa keterpurukan dan kegagalan mereka.

Pengerjaan jaringan teror ini mereka rancang tidaklah instan, diperlunya pembinaan dari dini tentang radikalisasi dan pemujaan berlebih ekstremisme yang distrukturalisasi secara intrinsik dan terpadu. Konsep ajaran teror yang digaungkan hanyalah sebatas saudara atau musuh; suci atau nista; dan pantas hidup atau mati.

Terperangkapnya nalar berpikir tanpa mau menalaah lebih jernih tentang apa makna hidup dalam keberagaman, bahwa ketidaksamaan iman bukan lantas menghadirkan lingkaran musuh tetapi menyadari bahwa itu hanyalah jalur manusia menuju ilahi-Nya. Bagi kita yang masih nalar tentu bisa memahaminya, namun bagi mereka yang terkena virus antipati agaknya sulit.

Gerakan mencurigakan di kampus perlu disoroti karena target utama pemangku radikalis adalah anak-anak millennial yang tengah dalam proses pendidikan akademis dan pro-aktif berorganisasi. Melucuti bibit awal dari fenomena bengis ini seperti meruntuhkan persatuan mahasiswa yang berpandangan ekstremis, pro Khilafah, provokasi berlebih mendirikan hukum berbasis Islam seperti apa yang diinginkan ISIS di Suriah yang sudah bergelut habis-habisan dengan pemerintah negara tersebut.

Kampus ITB pada Juni 2018 resmi mengeluarkan pernyataan untuk tidak adanya ruang aktif dan meluas organisasi HATI yang berafiliasi langsung dengan HTI (organisasi berbasis pro khilafah yang menentang keberadaan Pancasila sebagai pemersatu bangsa). Diharapkan pula setiap kampus harus peka dan agresif untuk memerangi pelbagai ancaman yang hendak melanggengkan pemahaman destruktif.

Pengalihan pemanfaatan jasa buzzer untuk memata-matai pergerakan jaringan teror mungkin bisa diterapkan mengingat markas utama peneror untuk meraup anggota komunitas lebih luas adalah media digital. Mengontrol secara komprehensif keyword gabungan mencurigakan terkait ajakan ekstremis di media sosial atau –lebih spesifik– Telegram yang bertahun-tahun menjadi sarang empuk predator untuk mengedukasi penikut awamnya. 

Mengerahkan ahli IT, memberikan mereka kepercayaan untuk membantu menyadap keberadaan grup teroris ini dan kalau perlu menutup  permanen akses baru bagi mereka yang sudah tertandai sebagai eks anggota.

Tokoh publik bermunculan dengan pernyataan pengutukan aksi teror Minggu kemarin. Maaf akan mudah diterima, namun membayangkan perasaan saudara kita yang hendak beribadah, menyerahkan diri dalam bentuk pengabdian ke Tuhan dengan perasaan khawatir sepertinya menjadi tugas bagi pengendali tertinggi negeri ini untuk terus pro-aktif menuntaskan akar dan jaringan iblis ini dan juga masyarakat dan media untuk tidak memberi panggung bagi keberlangsungan pelbagai organisasi beracun baik pengancaman ideologi persatuan atau secara frontal mengancam nyawa.