Mahasiswa
2 tahun lalu · 1973 view · 4 menit baca · Politik gatotksad2.jpg
SBY dan Gatot Nurmantyo (foto: www.detik.com)

Gatot, Cetak Biru SBY di 2019

Semenjak terminologi ‘lebaran kuda’ menjadi konsumsi publik, nama mantan Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut mencuat. Kembali naiknya pamor SBY, juga dibarengi dengan berbagai tudingan miring terhadap keterlibatan terselubungnya pada aksi massa 411 silam. Sebuah tuduhan yang sudah barang tentu dengan segera dibantah oleh SBY dan jajaran partai Demokrat setelahnya.

Setelah hajatan Pilpres 2014 usai dilaksanakan, tak bisa dipungkiri, memang, citra SBY dan partai besutannya, Demokrat, berangsung-angsur tenggelam oleh hingar-bingarnya hegemoni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), yang selama 10 tahun di masa kepemimpinan SBY, menjadi kelompok oposisi di dalam pemerintahan.

Hal ini disebabkan oleh posisi yang diambil SBY dan Demokrat di tingkat nasional, menunjukkan wajah yang ambigu. Di satu sisi, peluang untuk berkoalisi secara mesra dengan PDI-P, sebagai kekuatan sentral pemerintahan, merupakan pilihan yang muskil ditempuh SBY. Sebuah ketidak mungkinan yang merujuk pada hubungan kurang harmonisnya dengan Megawati Soekarnoputri, dan nilai-nilai etis partai Demokrat, sebagai partai penguasa selama satu dekade.

Namun pada aspek lain, menjadi oposan dalam pemerintahan pun bukanlah menjadi pilihan yang bijak. Mengingat komando oposisi kini dipegang oleh partai Gerindra, asuhan Prabowo Subianto, yang notabenenya merupakan seteru kental SBY, baik di dunia militer maupun di pemerintahan. Lagi-lagi, nilai etis partai Demokrat sebagai partai besar nan berpengalaman dalam kekuasaan dipertaruhkan di sana.

Walhasil, kini Demokrat berjalan sendiri dalam memperjuangkan kepentingannya di tingkat nasional. Jalan tengah yang diambil SBY ini seolah memberi sinyalemen kepada partai-partai politik lain, untuk tak menganggap rendah martabat yang dimiliki Demokrat, sebagai salah satu kekuatan politik utama.

Ambil Momentum

Namun setelah sekian lama menanti waktu untuk come back dan juga melakukan counter attack, momentum itu akhirnya datang. Hadirnya hajatan Pilkada DKI tahun 2017, dan juga peristiwa selip lidah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu, menjadi titik balik dari segala kemungkinan yang kian terbuka lebar.

Pada momen inilah kejelian SBY dalam menangkap setiap kesempatan terlihat dengan jelas. Sebagai seorang mantan perwira, langkah taktis SBY mensiasati hasrat untuk berkuasa tersusun dengan rapi.

Proses pencalonan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pilkada DKI kali ini (terlepas dari hasil akhirnya nanti) dalam kacamata saya, tak lain salah satunya bertujuan untuk kembali menaikkan nama besar SBY dan Demokrat, sebagai salah satu kekuatan besar politik di Republik ini.

Perlahan tapi pasti, SBY bersama insting dan siasat politiknya mulai kembali menemukan irama yang pas untuk dapat kembali masuk sebagai penentu konstelasi perpolitikan nasional. Pidato ‘lebaran kuda’ ala SBY yang diselenggarakan di Cikeas menjelang aksi 411 lalu, menjadi langkah awal bagi tujuan besar yang hendak disasar ke depan.

Tatkala skenario pencalonan AHY di tingkat lokal berjalan cukup baik, di saat yang bersamaan pula, SBY memainkan drama lain berskala nasional, dengan aktor politik yang berbeda. Gatot Nurmantyo, nama aktor tersebut.

Sebagai ‘orangnya SBY’, Gatot mafhum betul akan posisi strategisnya dalam kancah perpolitikan nasional kelak. Maka momentum aksi massal 411 yang berlangsung beberapa waktu lalu, menjadi panggung yang megah bagi persembahan seorang Gatot.

Lewat pidato Presiden Jokowi selepas aksi 411, kita dapat melihat sikap yang dikehendaki oleh pemerintah. Dugaan adanya kepentingan politik yang memboncengi aksi, merupakan statement utama yang hendak digaris bawahi. Namun sikap yang ditempuh Gatot justru berkebalikan dengan apa yang telah disampaikan Presiden.

Keberpihakan kepada kelompok pendemo, yang ditunjukkan oleh Gatot merupakan sebuah gestur politik yang hendak ditunjukkan seorang panglima TNI terhadap aspirasi rakyat. Sikap Gatot yang terkesan membela kepentingan kelompok Muslim, di tengah kemelut hukum untuk Ahok, ditengarai bersebrangan dengan kehendak pihak Istana.

Safari Gatot dan Kerinduan Sosok Militer

Setelah demonstrasi 411, nama Gatot terus meroket. Di lingkup virtual, artikel-artikel yang menunjukkan sikap dukungan Gatot terhadap tuntutan kelompok Muslim, berjalan inheren dengan viralnya  berbagai video orasi Gatot yang bernuansa religi kala memberi sambutan dan arahan kepada para prajurit TNI. Tak pelak sanjungan dan pujian terhadap sosok Gatot pun terus mengalir.

Pamornya yang meningkat, dimanfaatkan dengan baik untuk melakukan anjangsana ke berbagai elemen masyarakat. Dari mulai orasi di lingkungan akademis, silaturahmi kepada tokoh ulama, hingga muncul secara aktif di acara talkshow televisi, menjadi kegiatan yang dijalani panglima TNI ini.

Gatot mafhum betul, jabatan yang dimiliki dan peran vitalnya pada gelombang aksi massa 411 silam, sejatinya mendongkrak kembali kerinduan masyarakat akan hadirnya tokoh militer sebagai pemimpin negeri. Hal yang kemudian ditunjang dengan ekspos sisi religiusitas Gatot, oleh media-media yang ada, menjadikan sosok Gatot sebagai panutan yang dirasa perlu mendapat porsi lebih di dunia politik menjadi niscaya.

Kemungkinan Duet Gatot-Agus

Dengan tren positif citra Gatot di masyarakat, kubu PDI-P tentu perlu waspada. Bekal tiga tahun yang dapat dimanfaatkan baik oleh Gatot menuju 2019, setelah sisa kurun dua tahun masa aktif di tugas kemiliteran rampung, merupakan modal berharga yang harus dimaksimalkan dengan baik oleh Gatot, dan juga tentu SBY.

Jejak politik dua jalur (lokal dan nasional) yang sedang dijalankan SBY, dan juga semangat nothing to lose yang dirajut AHY di gelaran Pilkada kali ini, membuat terciptanya peluang duet Gatot-Agus ataupun sebaliknya, di hajatan besar 2019 menjadi sebuah kemungkinan yang layak untuk ditunggu kelanjutannya.

Kedua arah politik tersebut lah yang kemudian hari ini, membuat bargaining position seorang SBY tetap menjadi perhitungan dalam kalkulasi politik nasional ke depan. Meski saat ini posisi Demokrat dan SBY berada pada jalur yang tak menentu, namun kondisi itu sejatinya takkan bertahan lama. Setidaknya dalam satu atau dua tahun ke depan, untuk kemudian bangkit kembali merebut sebuah supremasi politik.