Suasana Kota Jakarta yang penuh hingar-bingar kemacetan membuat Altha harus siap-siap lebih awal ke sekolah meski mentari masih malu menampakkan dirinya. Hawa udara dingin yang menembus kulit, serta secangkir susu hangat buatan Bunda menemani Altha sambil menunggu mobil jemputan sekolah. Hari ini adalah hari terakhir Altha menyandang status sebagai anak SMA. Ujian tertulis maupun praktik yang berlangsung berminggu-minggu pun telah berakhir.


Mobil jemputan sekolah yang ditunggu akhirnya sampai. Altha bergegas pergi dan tak lupa pamit kepada Bunda.

"Bunda, Altha berangkat dulu." Ujar Altha sembari menyalami tangan Bunda.

"Iya, sayang. Hati-hati." Ujar Bunda sambil mencium kening Altha.

Altha kemudian naik ke dalam mobil jemputan dan pergi menuju sekolah.

 

Altha mengambil handsfree yang ada di dalam tasnya untuk mendengar lagu. Ia sering mendengarkan lagu sepanjang perjalanan menuju sekolah. Saat ini, lagu favoritnya berjudul Garis Waktu yang dinyanyikan oleh Fiersa Besari.


"Sekarang kita hanya dua orang asing, dengan sejuta kenangan."

(Lagu: Garis Waktu - Fiersa Besari)


Ketika mendengar lirik itu, Altha teringat dengan seseorang yang dahulu sangat dekat dengannya namun sekarang menjadi lebih berjarak. Jafar namanya. Ia adalah teman dekat Altha sejak awal masa putih abu-abu. Entah mengapa, di akhir kelas 12 ini mereka tak sedekat dulu. Bahkan untuk bertegur sapa saja enggan.


Memang benar, setiap orang ada masanya dan di setiap masa ada orangnya. Tapi, mengapa harus asing seperti sekarang? Apa kamu merasakan yang sama, Jafar?


Sesampainya di sekolah, Altha langsung meletakkan tas dan pergi ke aula sekolah bersama teman-temannya. Karena hari ini adalah hari terakhir sekolah bagi siswa Kelas 12, maka tidak ada lagi kegiatan belajar-mengajar. Pihak sekolah mengumpulkan mereka di aula untuk mengadakan semi-farewell party.


Acara diawali dengan pembukaan, tilawah, dan kata sambutan dari Kepala Sekolah yang berisikan nasihat kepada siswa Kelas 12 sebelum meninggalkan SMA dan lanjut ke jenjang berikutnya. Di akhir acara, mereka diperbolehkan untuk bertukar kado atau foto bersama dengan siswa maupun guru yang ada di lingkungan sekolah.


Sesi tukar kado dan foto bersama membuat Altha dan Jafar akhirnya bertegur sapa lagi.

"Jafar!" Altha memanggil Jafar, ia pun menoleh.

"Kenapa, Tha?" Jafar pun berjalan mendekati Altha.

"Aku mau kasih bunga ini buat kamu. Semangat bimbel intensifnya, semoga lulus di UNAIR, Aamiin" Ujar Altha mendoakan Jafar sembari memberikan bunga.

"Aamiin. Terima kasih, bisa aja nih orang. Selamat juga untuk kamu yang udah lulus IPB jalur SNMPTN, Kamu bener-bener keren. Semoga aku juga bisa nyusul keterima di PTN impian." Ujar Jafar memuji Altha.

Altha dan Jafar bercerita sampai lupa waktu. Cerita-cerita dan keluh-kesah yang mereka saling pendam selama ini akhirnya tersampaikan juga. Altha bisa merasakan sifat dan gaya bicara Jafar yang masih sama seperti dahulu, tidak ada yang berubah.


"Far, udah lama ya kita gak tukar cerita kayak tadi." Kata Altha disela-sela omongan.

"Kamu tuh yang sombong. Aku jarang lihat kamu di Kantin jadi gak bisa cerita." Ejek Jafar.

"Aku seringnya main ke perpustakaan sekolah, Far. Mana ada sombong."

"Eh? Demi apa Altha sekarang punya hobi baru? Hahaha. Sejak kapan kamu hobi baca, Tha? Padahal dulu buku-buku novel yang aku kasih masih bersegel saking malesnya kamu baca." Kata Jafar sembari mengingat dulu Ia pernah memberi Altha hadiah ulang tahun berupa 7 buku novel.


"Sekarang gak gitu lagi, ya. Buku-buku dari Kamu udah aku baca semua, tau." Jawab Altha kesal.

"Ya Allah, ini Altha bukan, sih? Hijrah kamu, Nak?" Jafar masih saja meledek Altha.

"Far.." Jawab Altha dengan suara lembut dan muka cemberut.

"Bercanda, Tha. Kita ke kantin, yuk. Aku lagi BM mie ayam Mpok Indah." Kata Jafar mengalihkan pembicaraan.

"Ayo. Sekalian aku mau beli es cekek." Jawab Altha. Mereka berdua pun pergi ke kantin.


Sembari memakan mie ayam, Jafar membuka obrolan baru dengan Altha.

"Altha." Panggil Jafar.

"Ada apa, Far?" Jawab Altha.

"Aku senang akhirnya kita bisa ngobrol lagi. Sudah berapa bulan ya, kita acting kayak pura-pura gak kenal, haha." Ujar Jafar.

"Aku juga merasakan yang sama. Kita jujur-jujuran aja, mau gak?" Tanya Altha.

"Boleh-boleh. Seru nih, kayaknya." Jawab Jafar.

"Setelah lostcontact sama aku, kamu pernah ngerasa kehilangan gak?"

"Hmm.. ngerasa kehilangan gak, ya." Jafar malu untuk jujur kepada Altha.


"Jujur nih, ya. Aku ngerasa kehilangan kamu, Far. Menjalani hari-hari tanpa sharing and chatting ke kamu rasanya aneh." Altha mencoba jujur dengan Jafar.

"Serius? Aku merasakan yang sama, Tha. Aneh ya, kita berdua tuh. Ada keterikatan batin tapi gengsi banget buat teguran. Maaf ya, Tha. Waktu itu aku gak seterbuka sekarang dan bertingkah seolah-olah pengen menjauh."

"Kamu tau quotes yang ini gak? 'Setiap orang ada masanya, dan disetiap masa ada orangnya'. Tapi Far, menurutku, kamu itu selamanya. Gak ada batasan masa bagi aku." Kata Altha berusaha mencairkan suasana.

"Bisa aja kamu, Tha." Respon Jafar sambil tertawa kecil.


Banyak orang keluar masuk dalam kehidupanmu, akan tetapi hanya sahabat sejati yang akan meninggalkan jejak kaki di sanubarimu. Seperti yang Bung Fiersa katakan, "Sahabat mencarimu ketika yang lain mencacimu, sahabat merangkulmu ketika yang lain memukulmu."


"Jafar, garis waktu takkan mampu menghapusmu." Ujar Altha dalam batin.