Setelah berperan di Tarian Lengger Maut yang berlatar kebudayaan Banyumas, Refal Hady kembali bermain di film dengan latar serupa di A Perfect Fit. Film yang rilis di Netflix pada 15 Juli lalu ini menghadirkan latar kebudayaan dan tradisi Bali sebagai dasar ceritanya, ditambah dengan bumbu drama komedi romantis ala sutradara yang terkenal dari film-film horornya, Hadrah Daeng Ratu.

Cerita A Perfect Fit dimulai di sebuah fashion show di Bali, dimana di situ hadir seorang blogger ternama, Saski (Nadya Arina). Usai menyaksikan penampilan para model di catwalk, Saski dihampiri oleh perancang busana di acara tersebut untuk diramal peruntungannya oleh peramal.

Saski yang tidak percaya pun terpaksa mengikuti apa kata temannya dan menghampiri sang peramal.

Tak disangka, hasil ramalan tersebut mengantarkan Saski ke depan toko sepatu. Saski yang saat itu memang sedang mencari sepatu baru, akhirnya masuk ke dalam toko tersebut untuk melihat-lihat. 

Usai menaruh pilihannya pada sepasang sepatu yang terpampang di display toko, pilihan Saski malah disebut tidak cocok untuk dirinya oleh sang pemilik toko, Rio (Refal Hady). 

Rio pun akhirnya mencari pilihan yang lain untuk Saski. Mantap dengan pilihan tersebut, Saski memutuskan untuk membelinya dan langsung ia pakai ke ulang tahun pacarnya.

Sial sekali Saski saat memeriksa sepatu yang ia beli ternyata bukan pilihan yang ia inginkan. Mau tidak mau, Saski pun bergegas kembali ke toko tersebut. Sesampainya di toko yang masih dalam proses pengecatan itu, Saski kena sial lagi dengan ketumpahan cat dari atas tangga. 

Akibat dari itu, Rio yang merasa bersalah akhirnya meminjamkan baju miliknya untuk digunakan oleh Saski.

Setelah pertemuan tersebut, Saski dan Rio kembali bersinggungan di beberapa kesempatan. Salah satunya adalah saat mereka bertemu di sebuah kafe. 

Usai pertemuan tersebut, Saski dan Rio mulai menjalin pertemanan hingga mulai timbul rasa dari dalam diri masing-masing, tanpa memperdulikan fakta bahwa mereka berdua sudah memiliki calon pasangan untuk menikah.

Salah satu dari daya tarik film ini tentunya datang dari latarnya yang mengangkat kebudayaan lokal Bali. Banyak adegan yang memperlihatkan Saski sedang terlibat di beberapa upacara adat Bali. 

Sebagai putri asli Pulau Dewata, Saski juga memiliki orang tua yang masih kuat mengamalkan nilai-nilai kebudayaan di kehidupan sehari-hari. Gaya berbusana Saski yang mengenakan kain untuk kegiatan sehari-harinya, menambah kesan bahwa film ini sarat akan nilai-nilai kultural Bali.

Sama halnya dengan Rio. Pria ini juga digambarkan sebagai lelaki Bali yang mencintai  kebudayaannya. Pada satu adegan, Rio terlihat sangat menguasai masakan-masakan Bali dan memeragakannya di depan Ibunya Saski. 

Ia mengaku sering membantu ibunya memasak saat ia masih kecil. Tindakan itu pula yang membuat Ibunya Saski sadar bahwa Rio adalah orang yang didambakan Saski.

Ada satu kutipan yang cukup menusuk bagi para penonton dari ayah calon suami Saski. Calon suami Saski, Deni (Giorgino Abraham), memang dari keluarga asli Bali, namun mereka tidak sekental keluarganya Saski dalam mengamalkan kebudayaannya. 

Kutipan tersebut mengatakan kalau ingin berbisnis di tanah Bali, harus tetap menghargai alam dan kultur setempat. Hal ini mungkin yang ingin disampaikan oleh penulis film, Garin Nugroho, kepada para orang yang hendak berbisnis di “rumah” orang agar tetap menghargai nilai-nilai yang berlaku.

Selain nilai kebudayaan yang ada, Hadrah dan Garin juga sempat menyelipkan satu isu sosial yang tak kalah penting.. Calon istri Rio, Tiara (Anggika Bolsterli), memiliki sebuah perusahaan busana yang besar. 

Saat ia sedang memantau perkembangan produksinya di pabrik, ia terlihat kecewa terhadap kinerja sebuah divisi setelah melihat hasil laporan mereka. 

Tiara akhirnya memecat seluruh karyawan di situ yang notabene mereka semua adalah warga lokal setempat. Saat Tiara dan Rio pergi meninggalkan pabrik tersebut, mobil yang mereka tumpangi didemo dan dilempari telur oleh sekelompok buruh yang sedang berdemonstrasi. 

Tentu saja ini mencerminkan kejadian di dunia nyata dimana buruh diperlakukan semena-mena oleh para pekerjanya.

Di beberapa adegan, Tiara juga terlihat menjadikan bisnisnya sebagai prioritas di hidupnya. Bahkan, ia rela mengatakan dengan tidak terpuji ke Rio kalau ia tidak akan menggunakan jasa pengrajin sepatu favorit Rio.

Tidak heran memang isu di atas ditampilkan tidak secara gamblang karena pesan utama di film ini sendiri adalah ajakan untuk menjaga kebudayaan lokal. Jangan sampai luntur atau bahkan hilang karena modernisasi. Tentunya di film ini disampaikan dengan menguatkan unsur-unsur tradisi di Bali.

Walau memiliki genre komedi, tidak banyak unsur komedi yang bisa dibicarakan. Komedinya hanya sekilas dan jujur biasa saja, tidak sampai tertawa terbahak-bahak. 

Nilai plusnya mungkin unsur komedinya jadi tidak dipaksakan dan ditempatkan di tempat yang memang terbilang cocok untuk ada adegan komedinya. 

Meski memang ada karakter temannya Saski, Andra (Laura Theux), ia tidak dijadikan sebagai lumbung komedi oleh para penulis. Komedi justru datang tiba-tiba dari karakter yang tak diduga.

Dari kemegahan latar film, isu yang diangkat, dan pondasi film ini, plotnya bisa dibilang kalah menarik dari ketiga hal tersebut. Jalan ceritanya mudah ditebak dan tidak menawarkan sesuatu yang baru. 

Formulanya tidak jauh berbeda seperti film pada genre serupa. Ada perempuan dan laki-laki bertemu, lalu mereka jatuh cinta, hubungan mereka sempat gagal, namun akhirnya menyatu kembali.

Jempol harus diberikan kepada Nadya karena dedikasinya berperan sebagai warga Bali terlihat sangat baik. Dari kacamata orang yang awam dengan warga Bali asli, saya rasa aktris kelahiran Jakarta itu berperan dengan sempurna karena gaya ngomong dan logatnya merepresentasikan warga setempat. Keterlibatannya di beberapa prosesi upacara adat juga terlihat apik.

Sayangnya, Refal jadi karakter yang tidak bisa memerankan seorang “Bli” yang baik. Karakter lover boy yang ia kuasai memang bisa dibilang oke, tapi perannya sebagai warga Bali belum layak mendapatkan jempol seperti ke Nadya.

Akhir kata, A Perfect Fit merupakan cerita yang indah dari segi kebudayaan yang diangkat. Isu yang mereka berikan juga bisa membuka mata-mata mereka yang masih buta akan hal tersebut. 

Banyak makna yang bisa diambil dari cerita romance ini. Apabila dibarengi dengan plot yang lebih bagus, pasti bisa menjadi nilai tambah bagi film ini.