1 tahun lalu · 1252 view · 4 menit baca · Politik 87301.jpg

Gara-Gara Pilkada

Hampir bisa dipastikan bahwa kasus yang kini menimpa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adalah dan hanya efek dari adanya penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.

Orang mungkin saja bisa berkata bahwa naiknya status Ahok dari tersangka menjadi terdakwa kasus dugaan penistaan agama adalah buah dari cocot-nya yang tampak kasar. Akan tetapi, orang tak bisa menampik bahwa isu itu sengaja digulirkan hanya untuk meredam popularitas Ahok sebagai kandidat Gubernur DKI Jakarta tanpa tanding.

Demikian fakta itu bisa kita simak. Bisa diilustrasikan, dari sejak pikiran hingga perbuatan, terkhusus ketika dirinya pertama kali nimbrung dalam dunia politik, yang tampak darinya hanyalah prestasi dan prestasi.

Silahkan cek. Adakah kecacatan atau semacam rapor merah yang pernah dilahirkan Ahok semenjak dirinya eksis sebagai pejabat publik?

Pesan Sang Ayah

Konon, kemantapan hati seorang Ahok yang selalu ingin membantu orang banyak, terutama yang tengah dalam kesusahan, terinspirasi dari pesan sang ayah, (alm.) Indra Tjahaja Purnama. Hal ini dibenarkan Ahok bahwa, pesan ayahnya, jika ingin membantu orang yang kurang mampu, maka jadilah seorang pejabat.

Guna merealisasikan pesan mulia tersebut, Ahok sempat bercita-cita ingin jadi Camat di tempat kelahirannya, Manggar, Belitung Timur.

“Jika saya jadi Camat, saya mau perintahkan tolong bantu orang miskin yang sakit, yang sekolah kasih jaminan, yang rumahnya jelek diperbaiki. Supaya jangan minta uang sama saya lagi. Itu saja niat saya,” kata Ahok mengenang masa lalunya, mengenang cita-citanya jadi Camat yang sampai hari ini tidak pernah bisa ia capai.

Meski tak mampu jadi Camat, Ahok tetap memulai karir politiknya dalam rangka merealisasikan cita-cita sang ayah. Itu berawal di tahun 2004 di mana di bawah bendera Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB), ia maju dan terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009.

Tak puas di legislatif—kurang lebih hanya 7 bulan menjabat, ia kembali maju dan terpilih sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Tentu saja, posisi ini membuat sayap Ahok kian meluas jangkauannya sebagai upaya merealisasikan pesan sang ayah: jadilah pejabat jika ingin bantu orang kurang mampu.

Tahun 2007, Ahok kembali ingin melebarkan sayap-sayap pengabdiannya dengan maju sebagai calon Gubernur Bangka Belitung. Sayangnya, langkah Ahok kali ini tak semulus dengan langkahnya di dua upaya terakhir sebelumnya. Ia harus menelan pil kekalahan lantaran, tuding Ahok, adanya manipulasi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara.

Memang, bangkit dan terjatuh adalah dua hal yang niscaya dalam kehidupan. Tetapi yang termulia adalah ketika bangkit dan terjatuh dan kemudian mencoba bangkit lagi demi sebuah cita-cita nan luhur. Inilah yang juga Ahok perlihatkan ketika di tahun 2009 ia maju dan terpilih anggota legislatif di Komisi II DPR RI Fraksi Partai Golongan Karya.

Lagi-lagi tak merasa puas, lagi-lagi itu pula Ahok kian mencoba melebarkan potensi dirinya demi cita-cita membantu orang yang kesusahan. Bersama Joko Widodo, ia diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra dan terpilih sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Jokowi periode 2012-2017.

Ruangnya kian melebar ketika sang Gubernur Jokowi maju dan terpilih sebagai Preside RI ke-7 pada November 2014. Otomatis, jabatan Gubernur di-handle oleh Ahok di sisa kepengurusan yang ada.

Terakhir, sebagai rangkaian dari perealisasian pesan sang ayah, Ahok kembali maju sebagai petahana di Pilkada DKI untuk dua periode selanjutnya. Dan bukan hal mustahil ketika nantinya Ahok akan maju sebagai kandidat Presiden atau Wakil Presiden di tahun 2019 kelak. Itu bisa dipastikan. Terlebih karena Ahok memang bercita-cita menjadi Presiden RI yang entah kapan tiada orang yang bisa memastikan.

Penolakan

Adalah lumrah ketika Ahok, yang tidak hanya mendapat simpati dan dukungan, tetapi juga mendapati banyak penolakan.

Ya, namanya juga cita-cita. Siapapun yang mengupayakan cita-citanya, niscaya dia akan menghadapi beragam macam aral perintang di dalam proses pencapaiannya. Persis seperti itulah yang juga dialami Ahok.

Jangankan di Pilkada DKI, upaya pencekalan atas Ahok sudah terjadi di kontestasi-kontestasi politik di mana dirinya maju sebagai petarung. Di Babel (Bangka Belitung) misalnya, sudah banyak orang yang menyerang dirinya dengan senjata isu SARA. Pun begitu ketika ia terpaksa harus menggantikan Jokowi sebagai pewaris sah atas Kursi DKI-1.

Mulai dari penolakan sejumlah anggota DPRD DKI, hingga yang paling getol pencekalan dari Front Pembela Islam (FPI), semua menghendaki Ahok untuk tidak menduduki kursi Gubernur. Terlebih ketika dirinya kembali maju sebagai calon petahana untuk DKI Jakarta lima tahun ke depannya.

Meski isu penistaan agama bukan isu pertama yang dijadikan senjata menyerang Ahok, tetapi isu ini benar-benar sukses menyudutkan pelayan rakyat bernama Ahok itu. Terbukti, kasus yang kini menimpa dirinya, membuatnya harus berpikir ganda: bagaimana bisa jadi Gubernur sekaligus bebas dari jeratan kriminalisasi.

Dua, dua kondisi itulah yang kini dihadapi Ahok. Di satu sisi, ia harus melawan pencekalan dirinya sebagai calon pemimpin dari kalangan non-muslim. Di sisi lain, ia juga harus melawan para penuduhnya yang melaporkan dirinya yang kini membuatnya sebagai terdakwa kasus dugaan penistaan agama.

Untuk hal ini, Ahok sadar betul. Ia sendiri pun mengakui bahwa penolakan untuknya adalah wajar. Ia pernah berkelakar, dirinya (bersama Djarot) ibarat pohon lurus yang senantiasa menjadi incaran para pemburu kayu.

Mengetahui hal ini, tentu ada benarnya jika saya pastikan bahwa penolakan hingga pencekalan atas Ahok, sekali lagi, adalah dan hanya efek dari penyelenggaraan Pilkada semata; asal bukan Ahok jadi Gubernur. Bahwa semua gara-gara Pilkada. Belum ada alasan lain yang lebih memadai dari itu.