Masih ingatkah kamu ketika pada tahun 2015 lagi hits gebrakan baru pemerintah yang mengeluarkan buku digital a.k.a ebook bernama BSE (Buku Sekolah Elektronik)?

Tidak berapa lama setelah kejadian itu, muncul isu baru tentang Paperless Society atau masyarakat tanpa kertas. Meskipun sebenarnya, istilah ini telah muncul sejak tahun 1978 oleh pakar informasi Inggris, Frederick Wilfrid Lancester. Dari sana mulai banyak timbul opini jika ini bisa menjadi awal mulai ‘kiamat’ bagi industri kertas. Apalagi saat itu sedang marak-maraknya penggunaan internet. 

Efek yang ditimbulkan beragam: masyarakat tidak perlu membeli koran atau majalah untuk mendapat informasi, perusahaan-perusahaan kebanyakan tidak lagi menggunakan surat berbentuk kertas, bahkan sekarang anak sekolah melakukan ujian menggunakan komputer.

Itu semua menyebabkan banyaknya pro dan kontra atas masa depan industri kertas. Kertas dianggap tidak lagi efesien bagi sejumlah pengamat. Namun benarkah demikian? Benarkah kertas tidak akan lagi digunakan? Benarkah industri kertas Indonesia akan hancur?

Saat itu, saya berdiri di kubu kontra. Saya tidak yakin, fenomena-fenomena itu bisa dengan mudahnya menghilangkan peran kertas dalam masyarakat. Bahkan sebagai generasi milenia yang sangat melek teknologi, saya sangat menyadari peran penting kertas bagi masyarakat. Saya yakin, industri kertas Indonesia tidak akan meredup begitu saja.

Pendapat saya ternyata didukung oleh sejumlah riset atas tingkat ekspor kertas di Indonesia. Ternyata sejak tahun 2002, kertas adalah industri yang punya peranan bagi perekonomian di Indonesia. Bahkan lebih dari itu, pada tahun 2002 ternyata industri kertas di Indonesia sudah menancapkan taringnya di kancah pasar dunia. 

Lalu dalam sembilan tahun kemudian, yakni pada tahun 2011, industri kertas Indonesia loncat ke peringkat 9. Sedangkan untuk bahan baku kertas atau pulp sendiri, Indonesia menempati peringkat ke 6. Luar biasa bukan? Jika kalian ingin tahu, total ekspor kertas Indonesia adalah sebesar 3,544 juta dolar. Bahkan angka ini jauh lebih besar dari nilai ekspor rokok yang hanya 700 juta dolar.

Tidak perlu membuat orang lain sakit untuk menghasilkan uang, ya ‘kan?

Namun, jika membandingkan keadaan pada tahun 2002 sampai 2011 dengan tahun 2018 sekarang, memang benar ada perbedaan besar dari dunia digital. Tahun 2002, internet belumlah sepopuler sekarang, belum ada BSE, koran masih amat populer, bahkan masih banyak orang yang mengirim surat untuk mengabari keluarganya di kampung halaman. Bukankah hal-hal seperti itu menjadi alasan jelas kertas masih berperan penting saat itu?

Semua itu memang benar. Tetapi marilah kita lihat perkembangan industri kertas dari tahun 2015 sampai 2017. Pada tiga bulan pertama tahun 2015, saat sedang maraknya Paperless Society, memang benar jika ekspor kertas Indonesia menurun. Namun, alasannya tentu saja bukan hanya karena isu Paperless Society

Usut punya usut, ternyata faktor terbesarnya karena upaya pemerintah mempercantik kayu dengan membuat sertivikat kayu Indonesia menjadi SVLK, ternyata tidak begitu diminati Eropa. Efeknya pemesanan dari Uni-Eropa berkurang drastis. Faktor lainnya adalah realisasi produksi kertas tidak sesuai tidak sesuai rencana.

Kemudian pada tahun 2016, industri kertas Indonesia memasuki masa-masa terkelamnya. Beberapa perusahaan kertas menghentikan produksi. Saat itu sejumlah ritel bahkan memberikan diskon hingga 30%. Memang benar terlihat penurunan signifikan dalam industri kertas.

Tetapi jangan salah, jika melihat secara keseluruhan, tahun 2016 adalah tahun Monyet Api di dalam tanah berdasarkan kitab Tong Shu. Tahun itu dipercaya dunia perdagangan dan industri sebagai tahun yang buruk bagi sektor usaha yang berkaitan dengan bumi. Tanah tidak subur, gagal panen, logam dalam tanah meleleh, dan sebagainya yang menyebabkan harga komoditas menurun. 

Itu artinya fenomena ini tidak hanya terjadi pada industri kertas saja, tetapi nyaris di seluruh sektor BUMN. Juga tidak hanya di Indonesia, tetapi secara merata di seluruh dunia.

Namanya juga bisnis, pasti ada jatuh bangunnya bukan?

Namun, luar biasanya industri kertas kita, bahkan di masa-masa buruk di tahun 2015 sampai 2016, peringkat ekspor industri kertas Indonesia masih bisa bertahan di peringkat pertama se-ASEAN, ke-3 se-Asia, dan ke-6 di dunia.

Kabar baik terjadi pada tahun lalu, 2017. Kapasitas produksi kertas negara kita bisa tembus 10 juta ton dari 7 juta ton. Ini jelas menunjukkan kebangkitan industri kertas kita. Di seluruh negara tujuannya, ekspor kertas Indonesia sangat mendominasi. Sekarang Indonesia mempunyai dua lisensi yakni SVLK seperti di tahun 2015 dan juga FLEGT, sehingga Indonesia bisa mengekspor ke wilayah Uni-Eropa. 

Industri kertas yang dianggap akan meredup karena isu Paperless Society malah sekarang menjadi andalan ekspor Indonesia. Bahkan  tahun 2018 ini, industri kertas Indonesia telah bersiap memasuki peringkat 5 besar ekspor kertas dunia.

Hebat bukan perkembangan industri kertas negara kita?

Jika menilik lebih jauh, mengapa industri kertas tetap bisa bertahan? Tentu saja, karena masyarakat berkembang. Mereka menjadi lebih kreatif dan inovatif. Kertas hanyalah sebuah awal mula. Sebuah bahan baku. Kertas bisa diubah menjadi banyak hal. Contoh hal mendasar yang paling sering kita gunakan: tisu, uang kertas, paper bag. Lebih kreatif lagi, kertas adalah bahan dasar dari berbagai macam kerajinan tangan. Bingkai foto, kotak tisu, hiasan dinding, pita, bunga palsu, dan banyak lagi. 

Dari selembar kertas putih maupun berwarna lalu ‘bimsalabim!’  kita bisa membuat bahkan menciptakan berbagai hal yang unik, lucu, dan bermanfaat. Bahkan jika berusaha lebih, kita bisa membuat lapangan usaha baru.

Sangat luar biasa peran kertas dalam hidup kita!

Itulah sebabnya industri kertas akan terus berkembang. Karena bicara tentang kertas tidak hanya tentang buku. Atau koran. Kertas lebih dari itu. Kertas adalah sebuah bahan dan masyarakat kian kreatif. Keduanya adalah kombinasi yang cocok untuk mempertahankan industri kertas di Indonesia, bahkan di dunia. 

Industri kertas akan bisa terus bertahan, namun tentu juga memiliki batasan. Apa batasannya? Sumber daya alam kayu. Hutan. Keduanya adalah kunci penting untuk mempertahankan industri kertas Indonesia. Tugas siapa itu? Tentu saja tugas pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia. Lakukan penebangan dengan tepat tapi jangan lupa direboisasi. Tujuannya? Yang pasti, mempertahankan kelestarian hutan di Indonesia beserta dengan kelanggengan industri kertas kita.

Sudah jelas kan keadaan industri kertas Indonesia?

Apakah isu Paperless Society menghalanginya? Tentu saja tidak. Intinya, industri kertas Indonesia tidak kian memudar. Sebaliknya, mereka kian kuat tahun demi tahun. Industri kertas adalah andalan negeri. Industri kertas Indonesia tetap dapat berdiri tegak di tengah masa tren Paperless Society ini. Dengan hebatnya, industri ini bahkan mampu menajamkan taringnya di pasar dunia. 

Saya rasa, kedepannya bukan tidak mungkin kedepannya industri kertas Indonesia tidak lagi bertengger di peringkat 6 namun dapat menyabet peringkat 1 sebagai pengekspor kertas terbesar di dunia.

Dunia boleh saja menjadi kian digital tiap harinya. Tetapi saya yakin, selama kita mereboisasi hutan dan tetap menjadi masyarakat kreatif, kertas tak kan pudar. Industri kertas kita tak kan pudar. Saya bangga dengan industri kertas Indonesia.

Gara-gara Paperless Society, industri kertas Indonesia meredup. Masih yakin tuh?