Azab ini sebenarnya tidak pernah direncanakan. Tiba-tiba, makjegagik, sudah heboh saja dosen IAIN Surakarta, Abdul Aziz, menulis disertasi S3-nya di UIN Sunan Kalijaga yang katanya memperbolehkan seks di luar nikah. 

Tapi tunggu dulu, benar atau tidaknya ia memperbolehkan seks di luar nikah, itu hanya bisa dibuktikan jika kamu sudah selesai membaca disertasinya secara langsung, bukan membaca dari status Facebook mantan apalagi cuma dengar rasan-rasan Pak Imam.

Dampak dari hal tersebut ialah IAIN Surakarta kena azab. Lah kok bisa? Ini sih sebenarnya sudah kali kedua, setelah sebelumnya didahuli oleh peristiwa bedah buku yang mengundang Haidar Bagir. 

Kalau tidak percaya, silakan cari saja tulisan Azab bagi IAIN Surakarta Mendatangkan Haidar Bagir. Di situ digambarkan bagaimana IAIN Surakarta mengalami kejadian-kejadian di luar akal manusia yang semua itu ternyata hanya hoaks belaka.

Lah, kalau hoaks, mengapa dikatakan kena azab? Azab bagi IAIN Surakarta sebagai lembaga pendidikan tentu saja berbeda dengan azab ala-ala sinetron stasiun TV sebelah yang sukanya azab dibuat-buat. 

Azab bagi IAIN Surakarta sebagai lembaga pendidikan adalah pembusukan nalar akademik yang dilakukan oleh publik. Kala itu berapa banyak orang berkumpul untuk menolak kedatangan Haidar Bagir di IAIN Surakarta hanya karena dianggap pentolan Syiah. Dan ini menjadi kehebohan di Kota Solo karena sebuah seminar!

Dan ini kali kedua, azab tengah mengintai IAIN Surakarta. Lihat saja bagaimana pada akhirnya lembaga keilmuan Islam di Surakarta yang memiliki visi Menjadi World Class Islamic University di level Asia dalam Kajian Sains yang terintegrasi dengan Kearifan Lokal pada 2035 ini akan dijustifikasi setelah munculnya pro-kontra disertasi tersebut. 

Kampus-kampus semisal IAIN dan UIN dianggap sebagai sarang para liberal, tempatnya para sekuler, dan kampus perusak akidah. Bahkan singkatan IAIN bukan lagi Institut Agama Islam Negeri, tapi Ingkar Allah Ingkar Nabi.

Bayangkan seluruh ilmu agama yang diajarkan oleh para kiai, ustaz, doktor, hingga profeor yang ada di kampus IAIN dianggap semuanya salah, sudah terkontaminasi, dan sesat. 

Contoh yang paling sering disebutkan, Ada kristenisasi di kampus UIN, atau Kampus UIN mengajarkan semua agama sama, atau Dosen di IAIN memperbolehkan nikah sesama jenis. Atau apa pun keburukan, kemaksiatan, kesesatan yang bisa dicari lewat Google, lalu hubungkan dengan IAIN atau UIN, pasti muncul tulisan-tulisan yang menyesat-nyesatkan.

Apalagi pasca hebohnya disertasi Abdul Aziz, orang-orang pasti akan mencari di mana si dosen tersebut itu mengajar. Dan IAIN Surakarta-lah alamat selanjutnya yang akan menerima azab hujatan setelah penulisnya diserang membabi buta.

IAIN Surakarta pasti akan menjadi kampus yang diwanti-wanti oleh para orang tua kepada anak-anaknya untuk dipilih paling terakhir, kecuali lolos Bidikmisi. Sebab ditakutkan anak-anaknya akan menjadi orang sesat. Ini azab yang sangat menyakitkan sebenarnya, sebab merusak kuota penerimaan mahasiswa baru yang tiap tahun selalu ditargetkan bertambah.

Belum lagi di lingkungan kampus IAIN Surakarta. Dosen-dosen yang pada awalnya getol membicarakan teori-teori barat, filsafat, atau kontekstualisasi wahyu, kini mulai menghentikan aktivitasnya dan mengajak mahasiswa untuk berhenti berpikir bebas. Bahkan mulai mengatur-ngatur buku bacaan. 

Kampus pun mulai mengontrol diskusi-diskusi, forum-forum, dan tentu saja, mahasiswa tua yang tidak lulus-lulus. Ini azab yang jauh lebih menyakitkan daripada mayat dipenuhi coretan-coretan revisi.

Lalu ketika mahasiswa hendak membedah disertasi tersebut atau mengundang Abdul Aziz dalam seminar-seminar, pasti di depan kampus tiba-tiba ramai dipenuhi orang yang berteriak-teriak, menyumpahi, dan meracau. 

Ketakutan mahasiswa yang tak biasa didemo membuat aktivitas forum diskusi dan seminar meredup, atau paling tidak benar-benar tertutup. Maka kampus hanya akan menjadi tempat kuliah, tugas, pengajian, dan pacaran. Kampus akan mengalami azab kemandekan ruang publik dengan ketiadaan diskusi.

Dan tentu saja dari persitiwa tersebut akan dimanfaatkan oleh oknum atau komunitas yang termarginalkan di kampus, komunitas hijrah misalnya, untuk menyerang balik. Jika mereka kebanyakan diserang melalui isu radikalisme, kali ini akan menjadi kesempatan untuk menyerang balik dengan isu liberalisme.

Pengajian berubah tema selama sebulan penuh dari nasihat-menasihati menjadi menakut-nakuti. Pengajian tak lagi menyejukkan, tapi marah-marah. Semua orang selepas pengajian wajahnya menjadi tegang, otaknya mendidih, dan beberapa lainnya terkena stroke dan darah tinggi.

Tapi di IAIN Surakarta, sekuat apa pun azab-azab itu, IAIN Surakarta tetap santai. 

Tempo lalu, rektor IAIN Surakarta ikut mengomentari soal disertasi tersebut dalam sebuah opini di koran. Beberapa forum membedahnya dengan mengundang penulisnya langsung. Bahkan buku-buku karya Muhammad Syahrur telah banyak dipinjam dari perpustakaan. 

Ini artinya, iklim di IAIN Surakarta adalah ilmiah. Semua produk pemikiran harus direspons dengan pemikiran. Tesis dikritik menjadi antitesis lalu menjadi sintesis. 

Inilah dialektika keilmuan, bukan dengan jalan menghujat, melarang diskusi dan bacaan, apalagi hingga menjatuhkan hukuman administratif untuk memecat dosen tersebut. Paling tidak disertasi tersebut bisa berdampak membantuk melahirkan ide skripsi bagi masiswa yang sudah lama berputus asa.

Selain itu, pembahasan seperti ini jangan nanti sudah jadi disertasi, seharusnya semenjak dari dalam skripsi. Supaya nanti disertasi sudah membahas teori yang benar-benar kontemporer 5 tahun terakhir, bukan 20 tahun lalu. 

Muhammad Syahrur ini, kan, makanan bacaan anak-anak semester 3 yang baru selesai membaca Fazlurrahman, Muhammad Arkoun, Nurcholish Madjid, atau Ahmad Wahib? Jika disertasi saja memuat bacaan anak semester 3, lalu bagaimana dengan skripsi? Inilah tugas besar bagi para dosen. Abdul Aziz bisa mengambil peran ini, menjadi pioner pembimbing skripsi rasa disertasi.

Jika sudah makin banyak skripsi yang berpotensi mendatangkan kontroversi, kritik, perdebatan, hingga dari luar muncul dengan azab caci maki, azab demonstrasi, azab pemboikotan, maka lama kelamaan kampus akan ramai dengan pemikir-pemikir jebolan. 

Pemikir-pemikir ini akan menjebol kejumudan dalam berpikir, terutama proses ilmiah saintifik yang jalannya begitu lamban di Indonesia. Kemerdekaan berpikir dan berpendapat benar-benar digunakan tanpa pernah takut dibungkam. Dan tentu saja, IAIN Surakarta segera untuk menjadi UIN Surakarta.