Pertama kali saya ke Gunungkidul, yang dibenak saya hanyalah decak kagum dengan keramahan warga, keindahan alam dan daya juang warga untuk terus bertahan hidup. Gunungkidul terletak di selatan kota Yogyakarta dengan komposisi tanah sebagian besar berupa tanah karst (kapur) sehingga kita tidak akan menjumpai sawah disana. Yang ada hanyalah deretan bukit batu, dan sistem pertanian ladang yang sepenuhnya mengandalkan air hujan.

Air Telaga Mengering

Gunungkidul acap kali disebut sebagai daerah miskin karena selain wilayahnya yang tandus, bencana kekeringan juga menjadi agenda tahunan. Ketersediaan air bersih menjadi masalah utama yang sangat kompleks di wilayah ini.

Karena komposisi tanahnya adalah karst maka air hujan tidak dapat tertampung di permukaan tanah. Air hujan tersimpan di sungai-sungai bawah tanah dan membutuhkan biaya besar untuk memompa air guna dialirkan ke rumah warga.

Sejumlah telaga alami disana juga mengalami penurunan kualitas air menjadi keruh dan berwarna. Beberapa telaga mulai dibangun dengan cara semen justru menyebabkan endapan alami yang menahan air merembes ke dalam tanah menjadi rusak sehingga menyebabkan saat musim kemarau airnya mongering.

Berangkat dari masalah kelangkaan sumber air, akhirnya membawa wilayah Gunungkidul dalam beban multi penderitaan yang berkelanjutan. Masalah air menjadi kian pelik karena kebutuhan akan air tak hanya diperlukan untuk manusia, namun juga untuk hewan ternak.

Gizi Buruk Hingga Peralihan Dari Gaplek Ke Beras

Menurut cerita dari warga setempat, pasca kemerdekaan mayoritas warga Gunungkidul masih banyak yang mengkonsumsi bonggol pisang karena tiwul dan gatot kala itu termasuk makanan elit. Tak heran saat itu banyak kasus kejadian warga yang mengalami Honger Oedeem (HO) atau gizi buruk yang menyebabkan busung lapar.

Data yang berhasil saya himpun dari arsip berita koran Kedaulatan Rakyat (KR) yang terbit pada 5 Oktober 1963 penderita HO pada bulan September 1963 ada 5.133 jiwa. Jumlah penderita HO angkanya melonjak signifikan di bulan berikutnya. Berita di KR tanggal 18 November 1963 bahwa penderita HO di Gunungkidul tercatat telah mencapai 12.000 jiwa.

Penderita HO naik hampir 100%, di tahun 1967 data di Dinas Kesehatan Gunungkidul menunjukkan angka 21.800 jiwa. Saat itu upaya yang dilakukan Pemda Gunungkidul untuk membantu penderita HO ialah dengan membagikan distribusi bahan makanan berupa beras dan tepung gaplek serta biaya pengobatan. Data perkembangan penderita HO kurun waktu 5 tahun setelahnya antara tahun 1967 hingga 1971 angkanya terus menurun secara signifikan, tercatat ditahun 1968 jumlah penderita HO 13.920 jiwa, diikuti tahun berikutnya sejumlah 6.456, 2.729, dan terakhir di tahun 1971 tercatat 3.046 jiwa.

Untuk pencegahan kasus gizi buruk pemerintah kemudian menggalakan sistem pertanian tumpang sari agar dimasa paceklik dan gagal panen masyarakat masih mempunyai stok bahan pangan yang mencukupi. Menanam padi masih sulit dilakukan sebab lahan kering hanya mengandalkan air tadah hujan yang mengakibatkan produktivitas hasil padi tidak bisa diharapkan.

Rekam jejak peralihan mengkonsumsi tiwul dan gatot ke bahan pangan beras untuk mengurangi jumlah penderita gizi buruk yang melanda wilayah Gunungkidul di tahun 60-70an dalam catatan saya hal ini berdampak pada kedaulatan pangan sebab komoditas utama pangan di wilayah ini adalah singkong, bukan padi. Penduduk belakangan menunjukkan gejala kecenderungan tidak menggantungkan lagi kepada gaplek sebagai makanan pokok, namun beralih ke beras.

Beralihnya masyarakat untuk mengkonsumsi beras menyebabkan semakin berkurangnya konsumen gaplek sehingga harga gaplek menjadi statis. Kondisi ini menyebabkan petani prihatin sebab melimpahnya produksi gaplek di Gunungkidul kurang didukung dengan harga pasar, pasalnya produksi gaplek yang dari tahun ke tahun meningkat bukan lagi dikonsumsi penduduk.

Peralihan bahan pangan dari gaplek ke beras sebenarnya mengabaikan kondisi alam Gunungkidul yang berupa pegunungan kapur dimana lahannya sangat bergantung pada air hujan. Pola tanam bahan pangan tentunya juga harus menyesuaikan dengan kondisi alam, menanam padi tentu tidak cocok dilakukan di lahan karst karena sepenuhnya mengandalkan air hujan dan panen hanya bisa dilakukan sekali dalam setahun.

Saat ini gaplek sudah tidak menjadi bahan makanan pokok, tetapi komoditas utama yang berasal dari singkong ini tetap masih menjadi sumber penghidupan untuk menyambung hidup terutama disaat masa paceklik sebab gaplek bisa disimpan dan tahan sampai satu tahun. Sampai tulisan ini ditulis belakangan harga gaplek di pasaran turun drastis sekitar Rp 1.000 saja per kilogramnya dari harga normal sekitar Rp 2.000. Ini tentu sangat merugikan petani singkong, produksipun turun hingga 20%.

Gaplek Produk Pangan Lokal Yang Heroik

Merdeka dari belenggu mata rantai kemiskinan memang masih menjadi pekerjaan rumah bersama untuk mensejahterakan masyarakat Gunungkidul. Menjelang 72 tahun Indonesia merdeka, sampai sekarang wajah sebagai daerah miskin tetap melekat pada citra wilayah karst ini.

Berita terbaru yang saya baca dari Koran Solopos tanggal 19 Maret 2017 mengatakan bahwa Kabupaten Gunungkidul merupakan kabupaten dengan prosentase kemiskinan tertinggi di Yogyakarta dengan prosentase 21,7%. Sedangkan Kulonprogo angkanya 21,4%. Memang hanya selisih 0,3% namun dengan angka tersebut berarti menempatkan Gunungkidul sebagai kabupaten dengan angka kemiskinan tertinggi di Yogyakarta. Sebab di Kabupaten Bantul memiliki angka kemiskinan sebesar 16,33%, Sleman sebesar 9,46%, dan Kota Jogja sendiri memiliki angka kemiskinan sebesar 8,75%.

Ini ironis memang, padahal Gunungkidul memiliki potensi alam yang sangat luar biasa untuk dikembangkan. Saat ini potensi obyek wisata, terutama wisa pantai sedang gencar dikelola untuk meningkatkan pendapatan daerah dan taraf kesejahteraan masyarakat setempat.

Selain memajukan obyek wisata, salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat ialah melalui inovasi pengolahan gaplek. Dulu kualitas gaplek di wilayah ini memang bukan kualitas yang bagus, tiwul yang diolah pun berwarna sedikit kehitam-hitaman.

Namun sekarang pengetahuan masyarakat akan teknik pengolahan makanan sudah bagus, gaplek diolah menjadi gatot yang empuk dan tiwul yang enak dengan inovasi aneka pilihan rasa. Kedua jenis makanan ini masih menjadi primadona dan sering diserbu oleh pelancong yang singgah di toko oleh-oleh di jalan Wonosari Gunungkidul.

Sebagai warisan kuliner, gaplek merupakan produk pangan lokal yang heroik sekaligus menjadi identitas Gunungkidul yang mengalami kelangkaan pangan. Walaupun gaplek kerap dianggap sebagai citra kemiskinan, tetapi sejatinya gaplek juga merupakan simbol kedaulatan pangan dan perjuangan bertahan hidup masyarakat Gunungkidul ditengah ancaman bencana kekeringan.