Siapa di dunia ini yang tak merasakan lelah? Semuanya pernah mengalaminya. Kehidupan ini selalu berputar. lelah dan freshnya tubuh, datang bergantian.

Tak perlu kita bermimpi menghindar dari kondisi ini. Seperti impian orang-orang malas. Mukmin itu, seorang pejuang, yang siap capek demi kebaikan, yang siap berkorban demi keridhoan Allah.

Allah berkata kepada Nabi Muhammad SAW :”Saya bersumpah kepadamu, yakinkan pada jiwamu. Nanti saat kamu ke akhirat suasananya akan lebih nikmat dibandindangkan dengan sekarang’’.

Jika kamu sedang capek, sedang ada musibah dan lelah, sabar dulu nanti kalau sudah pulang semuanya akan hilang capeknya.

Sehingga untuk memiliki iman yang sempurna, seseorang harus siap capek untuk mendapatkan cinta dari Sang Pencipta.

Memang dunia itu tempatnya capek. Yang menjadi persoalan, bukan soal capek ngga capek, tapi untuk apa kita menghabiskan capeknya? 

Coba kita lihat ke luar sana, betapa banyak orang-orang yang durhaka kepada Allah ta’ala, rela bercapek-capek. Bahkan mereka menikmati capek mereka. 

Mereka berusaha menghibur diri dengan kata-kata ‘mutiara’ untuk tetap bertahan dan sabar, melalui capek mereka. 

Orang-orang kafir, rela bercapek ria, demi membela kekafirannya. Pada pendosa, rela bercapek ria, sampai terwujudlah dosanya. 

Mereka mencari neraka pun rela untuk capek. Para pencari surga sungguh harus lebih rela untuk capek.

Tentu beda capeknya kaum kafir dengan orang-orang beriman. Capeknya orang-orang kafir adalah kepedihan, siksaan dan murka Allah. 

Adapun capeknya orang-orang beriman, adalah kenangan bahagia, nikmat dan ridho Allah.

Lelah di dunia itu wajar, karena dunia memang tempatnya capek. Dan kita memilih untuk hidup, maka jalanilah dan nikmati itu. 

Karena memang dunia tempat untuk beramal. Shalat dilakukan di dunia, puasa didunia, dan baca Al-Qur’an pun di dunia.

Lantas Kenapa Kita Harus Kerjakan Semua Itu?

Supaya kita bisa membawa bekal untuk pulang ke akhirat. Nanti kata Allah SWT kalau sudah pulang ‘’semuanya akan hilang’’. Jadi tenang, capeknya di dunia hanyalah sementara.

Lelah di dunia itu wajar, karena dunia memang tempatnya capek. Dan kita memilih untuk hidup, maka jalanilah dan nikmati itu. 

Setiap kita kerja dapat pahala, baca Al-Qur’an dapat pahala, niat mencari nafkah dapat pahala, merawat anak pahala.karena dunia sifatnya capek. Setiap tahapan itu capek, supaya kita dapat bekal di akhirat kelak.

Bukankah orang bekerja akan mendapatkan gaji? Dan pasti kita senang apabila sudah mendaptkan gaji tersebut dan lupa akan 29 hari ke belakang. 

Kita berangkat kerja gelap pulang kerja gelap, tapi ketika sudah mendapatkan gaji semua capek akan hilang. Dan esoknya akan beberja kembali. 

Allah SWT telah menjanjikan bahwa kelak di akhirat sudah tidak ada sholat, dan pekerjaan yang membuat kita lelah, yang ada itu hanya masuk surga dengan bekal Al-Qur’annya.

Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca. (HR. Turmudzi 3164 dan beliau menilai Hasan shahih).

Seperti dalam Q.S Fathir ayat ke-33 yang artinya ‘’(mereka akan mendapat) surga ‘adn, mereka masuk ke dalamnya. Di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang- gelang dari emas dan mutiara,dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera”. 

Karena hidup itu lelah dan melelahkan apapun kondisinya, maka kelak yang membedakannya adalah ‘harapan’. Dan harapan itu hanya dimiliki mereka yang beriman.

Adapun selain mukmin, harapan bagi mereka adalah fatamorgana, yang disangka air oleh mereka yang kehausan di padang sahara. Di akhirat mereka akan lelah dan susah lagi, sebab tempat mereka di neraka.

Untuk itu jangan pernah mencari kepuasan di dunia karena engkau tidak akan menemukannya.

Carilah kepuasan di balik dari sempitnya dunia ini. Bahwa di seberang sana ada kepuasan yang menunggu. Di sini hanya tempat usaha. Jangan pernah mengharap hasil yang sempurna.

Kehidupan di dunia sejatinya adalah untuk melakukan sebanyak mungkin pekerjaan akhirat sepenuh pikaran dan tenaga hingga layak pada saatnya menikmati tempat istirahat yang layak pula.

Mungkin kita bias berhenti sejenak dan bertanya kepada diri kita.

"saya melakukan hal ini itu setiap hari buat apasih?."  Jangan sampai apa yang kita lakukan hari ini bisa berabe ketika hari pertanggung jawaban nanti.

Ingat kata-kata ini "kenapa hidup terasa amat pahit? Karena surga itu teramat manis."

Simple namun nasihat ini mengingatkan bahwa perjuangan ini belum berakhir. Masih ada kesempatan untuk bertobat dan meraih nilai guna tertinggi sebagai seorang manusia. Bukan mausia lagi, tapi seorang muslim.