Pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia yang harus diperhatikan dengan baik. Kita tidak boleh gegabah dalam menentukan “jalan” di dunia pendidikan karena akan sangat berpengaruh bagi masa depan. Banyak orang yang rela mengorbankan apa saja demi menempuh pendidikan setinggi-tingginya agar memiliki kehidupan yang lebih baik.

Sebagai contoh, seorang lulusan SMA rela masuk ke jurusan yang bahkan tidak diminati asalkan bisa masuk ke perguruan tinggi impiannya. Ada juga seseorang yang rela harus menunda pendidikannya selama setahun demi bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Istilah menunda atau berhenti sejenak sebelum kuliah disebut dengan gap year.

Dalam bahasa Indonesia, arti gap year adalah tahun jeda yang umumnya berdurasi selama satu tahun ajaran. Gap year biasanya diambil oleh pelajar maupun mahasiswa. 

Terutama setelah lulus SMA dan sebelum melanjutkan kuliah sebagai jeda sebelum kembali melanjutkan studinya. Umumnya gap year digunakan sebagai waktu untuk mempersiapkan diri sebelum melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Tidak hanya di Indonesia, fenomena gap year juga terjadi di seluruh dunia. Pada beberapa negara seperti Amerika, gap year justru sangat umum diambil oleh lulusan SMA untuk mencari pengalaman lain. Salah satu faktor utamanya adalah burnout atau stress karena sekolah, sehingga butuh istirahat.

Bagi sebagian lulusan SMA/SMK, gagal masuk ke perguruan tinggi sama saja dengan menganggur satu tahun. Karena mereka merasa masih terlalu cepat untuk masuk ke dunia kerja namun tidak tempat untuk belajar. Padahal sebenarnya masih ada berbagai kegiatan yang bisa dilakukan dalam kurun waktu satu tahun ini.

Artinya “menganggur” hanya istilah saja karena ilmu bisa didapatkan dari mana saja, seperti kursus-kursus gratis, ikut volunteer, buku, atau video gratis di Youtube. Intinya, selama satu tahun itu bisa dijadikan untuk mempelajari banyak hal yang tidak dipelajari selama sekolah   yang tentu saja bisa menjadi bekal di perguruan tinggi nantinya.

Disisi lain fenomena gap year memiliki perspektif yang berbeda, misalnya mengambil gap year sama saja membiarkan diri tertinggal satu tahun dari orang lain. Tidak sedikit juga orang yang merasa khawatir karena hal tersebut. 

Baik dalam urusan pendidikan maupun karir nantinya. Padahal, sistem pembelajaran di sekolah dengan kuliah sudah jelas berbeda.

Singkatnya di sekolah, siswa harus mengikuti ketentuan dari sekolah tentang mata pelajaran apa saja yang akan dipelajari di kelas. Sementara di kuliah, mahasiswa bebas menentukan mata kuliah yang akan diambil. Bahkan bisa mengambil mata kuliah “tingkat atas” lebih cepat jika memang mampu.

Gap year juga sangat berpotensi memunculkan perasaan iri dan tekanan sosial dari berbagai pihak, seperti keluarga, teman, saudara, lingkungan, dan lain-lain.

Jika tidak ditangani dengan baik, hanya akan mengundang stres, sedih, dan rasa malu. Namun, gap year sendiri tidak bisa dikatakan sebagai aib. Tetapi, gap year memiliki potensi untuk terhindar dari pilihan yang salah.

Selama menjalani masa gap year, kita punya waktu lebih untuk memikirkan ulang setiap pilihan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Bisa saja setelah gap year kita memiliki pilihan yang berbeda karena ternyata yang sebelumnya bukan yang tepat untuk kita.

Selain itu gap year juga bisa dimanfaatkan untuk mencari skill atau kemampuan yang baru kemudian mengembangkannya. Manfaatkan semua yang ada di internet sebaik-baiknya untuk menjelajah hal-hal baru yang menarik perhatian.

Kita juga bisa menjadikan hal yang baru itu sebagai passion dan mempelajarinya secara maksimal sehingga bisa berguna ketika mulai kuliah nantinya.

Menyiapkan diri untuk memasuki dunia perkuliahan memang tidak bisa dilakukan dengan instan karenanya masa gap year satu tahun juga dapat digunakan untuk mempelajari materi-materi yang ada di ujian masuk kuliah.

Gap year juga bisa mendidik kita tentang memilih tujuan dan cara untuk mencapainya. Mulai dari berpegang pada komitmen yang telah dibuat, menentukan prioritas, mengambil keputusan, sampai mengatur waktu. 

Kita juga bisa belajar menerima kegagalan dan bagaimana caranya untuk bangkit. Lebih jauh lagi, bahkan kita bisa belajar melindungi diri dari tekanan yang diberikan oleh berbagai pihak. Selain mempersiapkan urusan akademis, mental juga harus dipersiapkan. Benahi diri agar lebih matang menghadapi tantangan baru di depan mata.

Plus Minus Gap Year

Gap Year memang bisa memberikan manfaat yang tidak sedikit, namun bukan berarti gap year tidak memiliki kekurangan. Agar semakin yakin dengan keputusan untuk mengambil gap year, berikut beberapa sisi positif dari gap year.

1. Lebi Mengenal Diri Sendiri

Gap year yang dimanfaatkan dengan baik bisa membantu untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Maksudnya, selama menjalani gap year tidak hanya melakukan hal-hal yang disukai tetapi membekali diri dengan keterampilan dan pengetahuan yang tidak didapatkan di sekolah.

Kita juga bisa mencoba untuk keluar dari zona nyaman dan mendapatkan pengalaman yang baru. Hal ini akan membantu melihat sejauh mana batasan yang dimiliki. Apakah  benar-benar sudah berada di tempat yang tepat atau belum dan sebagainya.

2. Menjadi Mandiri

Setelah lulus sekolah, kita semakin dekat dengan pintu masuk ke dunia orang dewasa. Siapa pun tahu bahwa menjadi dewasa tidak semudah itu. Kita harus bisa mandiri dan berdiri di kaki sendiri, tanpa bergantung kepada orang lain. 

Saat gap year kita bisa mulai belajar melakukan banyak hal sendirian, seperti mencari uang, membangun pertemanan, termasuk bertanggung jawab pada setiap pilihan yang kita ambil.

Selain sisi positif, gap year juga memiliki sisi negatif.

1. Kurang Siap Untuk Belajar Secara Formal Kembali

Tak bisa dipungkiri, setelah belajar di luar jam formal mungkin sudah melupakan rasanya belajar di jam formal. Artinya, sebelum ujian masuk kuliah dimulai harus membiasakan diri dengan ritme dan pelajaran sekolah sekali lagi.

2. Biaya Gap Year yang Tidak Bisa Dibilang Sedikit

Selama masa gap year kehidupan masih berjalan normal seperti biasanya. Dengan kata lain, kita membutuhkan uang untuk membeli segala keperluan. Baik yang sifatnya produktif seperti kursus online, latihan tryout, dan pelatihan; maupun untuk pengeluaran sehari-hari seperti makan, jajan, kuota internet, dan lain-lain.

Belum lagi jika ingin pergi ke banyak tempat selama gap year. Biaya yang dikeluarkan jelas jadi lebih besar dan sulit diperkirakan. Oleh sebab itu, sangat disarankan mencari sumber pemasukan selama gap year. Baik menjadi freelance maupun kerja di berbagai tempat.

3. Stigma Negatif Gap Year

Yup, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Gap year masih dipandang negatif oleh kebanyakan orang Indonesia. Jadi pertanyaan paling besar yang harus dijawab sebelum mengambil gap year adalah “bisakah kamu melawan stigma negatif yang akan kamu dapatkan nanti?”