Ngunduh Wohing Pakarti, sebuah pepatah Jawa yang kini tengah ditatap oleh Gantari lekat-lekat. Sebait kalimat yang telah terukir di atas papan kayu berusia 72 tahun. Sebuah simbol kehormatan dan kebanggaan dari keluarga Hamengkunara―keluarga di mana Gantari dilahirkan.

Sri Kyati Gantari. Begitu kedua orang tuanya menamai si anak gadis berkuning langsat, sekitar 23 tahun yang lalu. Perempuan yang telah diramalkan akan menjadi penerus keahlian keluarga oleh para Wiku. Sang Wiku atau tabib ini, telah lama mengenal Gantari―semenjak ia kerap bermain di belakang halaman bambu di atas Gunung Chengdu, Sichuan sana. Sebuah tempat dimana para ahli pengobatan tradisional berdiam, termasuk Gantari beserta keluarga Jawanya.

“Gantari, kelak kau akan menjadi penerus keluargamu di negeri ginseng ini.” Segera Gantari menoleh sembari memukul-mukul kumpulan temulawak yang dikumpulkan dari kebun belakang rumah jamu milik keluarganya.

“Aku ndak suka jadi Acaraki.” Gantari menjawab dengan bahasa Cina bercampur Jawa yang kini mulai dikuasainya.

Namun Yama, Sang weki hanya tersenyum menanggapi perkataannya ketika itu. Seorang pendeta serta tabib Tiongkok yang telah berteman dengan keluarga Hamengkunara sejak berpuluh tahun lalu. Sehingga Yama kerap menceritakan tentang ini dan itu kepada Gantari. Dari mulai bagaimana gunung Sichuan ini bisa terbentuk, hingga kisah tanaman-tanaman liar herbal yang tumbuh di belakang gunung tersebut.

***

“Romo, aku memiliki kehendak untuk menjadikan Yama sebagai guru,” ungkap Gantari memohon izin kepada Ayahnya kala itu. Seorang Ayah yang memboyong keluarga kecilnya sekitar 30 tahun yang lalu ke atas pegunungan sejuk dimana sekarang mereka tinggal.

Kini, Gantari telah menginjak usia sempurna untuk ditahbiskan sebagai Acaraki―peracik jamu tradisional jawa, penerus rumah jamu yang menjadi tempat mereka hidup serta menimba ilmu.

Namun, Gantari tak begitu tertarik dengan hal-hal mengolah tanaman rimpang atau kulit kayu tersebut. Ia malah lebih memilih duduk berlama-lama di antara kumpulan penduduk gunung yang tengah menikmati sepoci teh hangat, di depan kedai sup wonton milik tetangganya.

Ia bukannya ingin membeli ataupun memakan sup wonton tersebut. Namun, Gantari takjub dengan bagaimana sang Paman meracik sajian teh yang tengah diseduhnya.

***

“Guru, apakah guru dapat meracik teh seperti yang Paman kedai itu lakukan?,” tanya Gantari dengan rasa penasaran di hatinya.

Sembari meletakkan bilah-bilah bambu, Yama sang guru pun berkata, “Keluargamu memiliki filosofi jawa yang sering kau baca, kan?”. Dengan sedikit mengangguk, Gantari kembali memerhatikan.

“Meracik jamu yang keluargamu lakukan, meracik tanaman herbal seperti yang kulakukan, ataupun meracik teh seperti yang kau inginkan adalah bukan mengenai teknik semata.”

“Ia harus tumbuh dari dalam jiwa. Karena apapun yang kau lakukan, itulah bunga dan buah yang akan kau dapatkan.” Tutup sang guru sambil tetap memainkan tangan-tangan lihainya pada bilah-bilah bambu tersebut.”

Gantari pun pulang ke rumah dengan perasaan gundah, terlebih setelah mendengarkan perkataan sang guru pada dirinya sore itu. Keresahan akan penahbisan dirinya menjadi seorang Acaraki dalam kurun waktu sepekan lagi.

***

Di hari ketiga, sang guru memanggilnya untuk bertandang ke rumah sekaligus kebun tanaman obat miliknya. Sang guru telah menyiapkan beberapa tanaman―hasil petikan segar dari area belakang gunung Chengdu yang kerap didatanginya.

Dengan langkah penuh semangat, Gantari membuka pintu kayu mahoni yang menjadi pembatas antara sang guru dengan dirinya tersebut. Perlahan ia masuk, sembari menggenggam satu guci racikan jamu dan sekeranjang temu kunci dari halaman rumahnya itu.

“Kini, kau akan mulai mempelajari beberapa jenis tanaman yang dapat menghasilkan. Bukan hanya jamu, namun dapat diolah menjadi racikan teh yang pun dapat mengobati seperti yang kau inginkan.”

Kemudian, Gantari mulai memerhatikan dengan seksama saat sang guru mencontohkan semua teknik dan tradisi pembuatan teh di sepanjang pertemuannya. Sebuah kesenangan dan ketertarikan yang akan mencerahkan keresahannya.

***

Hari selanjutnya, Gantari mulai diminta untuk memasuki sebuah hutan yang terletak di belakang gunung Chengdu tersebut. Sebuah hutan―tempat dimana sang guru kerap mengumpulkan tanaman untuk diracik sebagai rempah khasiat ramuannya.

“Guru, apa yang harus aku lakukan sekarang?,” tanya Gantari sembari tetap melangkahkan kakinya di antara tanaman perdu dan semak-semak hutan itu.

“Kau lihat, di sana?.” Yama sang guru berkata sembari menunjuk ke arah sebuah pohon besar yang berdiri kokoh di depan kuil Tianzhi―di tengah hutan tersebut. Sebatang pohon kokoh berusia lebih dari 1.000 tahun, yang tengah menggugurkan beberapa daun kuning keemasan dari tubuhnya di musim semi tersebut.

 “Bertemanlah kau dengan pohon itu. Kelak, kau akan menemukan makna dibalik pengetahuan tersebut.” Pinta sang guru kepada Gantari, yang masih berdiri  mendengarkan perkataannya itu.

***

Dua hari terakhir pun segera berlalu. Gantari semakin mahir dalam mempertunjukkan racikan teh yang ia latihkan, di hadapan gurunya.

“Apa saja yang telah kau masukkan di sana?,” tanya sang guru bijak meneliti ke arah gelas porselen yang tengah disajikan Gantari kepada dirinya.

Dengan sedikit ragu, Gantari pun memberanikan diri untuk menjawabnya. “Aku memasukkan tanaman rambat jiaogulan, daun ginkgo, ranting teh Kukkicha, rimpang jahe, dan lemon ciu ke dalam seduhannya.”

 “Aku tahu, aku tak begitu mahir dalam meracik ramuan teh ini. Namun, setidaknya aku memilik satu keyakinan bahwa tak pernah ada batas, baik di langit maupun di bumi―yang tak dapat disatukan bila memang memiliki satu tujuan kebaikan.” Gantari mengakhiri penjelasan itu dengan perasaan yang bercampur di dalam hatinya.

Sang guru pun hanya tersenyum sembari mengangguk perlahan. Ia tahu, bahwa yang tengah disajikan oleh sang murid bukanlah hanya sekedar teh hasil racikannya. Ia adalah perlambang dari ketaatan dan kebijakan lain dari hasil kesabaran sang murid, untuk meraih sesuatu yang tengah diyakininya.

Sebuah rahasia racikan sesungguhnya, yang akan turut tumbuh dalam hari penahbisan sang murid kelak.

***

Hari penahbisan Gantari sebagai putri Acaraki pun tiba. Seluruh tetua dari penjuru desa di wilayah Sichuan pun telah berdatangan sebagai tamu kehormatan dari keluarga Hamengkunara―pemilik rumah jamu di antara pegunangan negara Cina tersebut.

Semua tamu mengenakan kain batik, pemberian kehormatan dari tradisi leluhur keluarga Jawa yang diukir oleh tangan sang Ibu Gantari sendiri. Begitu pun para tetua di gunung Chengdu, yang membawakan berkeranjang rempah dan ginseng berharga sebagai hadiah khas di negara mereka.

Tak lama, Gantari dan Sang guru pun mulai memasuki halaman yang dikelilingi oleh beragam tanaman jamu. Keluarga dan para tamu mulai memerhatikan racikan apakah yang akan dibuat Gantari, sebagai ramuan jamu tradisional pertamanya.

Jari-jemari Gantari pun mulai sibuk dengan menempatkan beberapa gelas dan poci keramik di depannya. Beberapa rempah tanah Jawa dan tanaman daratan Cina pun mulai memenuhi meja panjang tersebut.

“Guruku pernah berkata, bahwa semua yang kita inginkan akan terwujud apabila kita melakukannya dengan sepenuh hati.” Gantari berujar sembari membasuh beberapa gelas keramik dengan air hangat di tangannya.

“Kuperkenalkan, Java Junshan Yinzhen. Teh kuning Tiongkok yang  kuracik dengan beberapa rimpang dan rempah tradisional tanah Jawa.”

Dengan berani dan penuh ketulusan, akhirnya Gantari mendapatkan tepukan dan begitu banyak pujian dari para tamu serta tetua yang hadir di sana. Begitu juga keluarga Hamengkunara yang kini mendukung dan menghargai keputusan anak perempuannya.

***

Kini, Gantari menjadi satu-satunya keturunan Acaraki yang lebih pandai menyeduh teh ketimbang meracik jamu. 

Sri Kyati Gantari.  

Seorang peracik tradisi yang memaknai ngunduh Wohing Pakarti.