Nana terlihat buru-buru memasuki ruang IGD rumah sakit. Ayu, kakak perempuan Nana terlihat sangat lesu dengan wajah menangis.

“Gimana Mba, apa hasilnya sudah keluar?”

“Mas Nur positif Na”

Nana terdiam seribu bahasa. Nana ingin menangis sejadi-jadinya, tetapi dia tahan. Dia ingin terlihat tegar dihadapan Ayu.  Nana tidak ingin kakaknya itu tambah larut dalam kesedihan.

“Sekarang Mas Nur di mana Mba?”

“Masih di ruang yang tadi, tetapi sebentar lagi akan dipindahkan ke kamar khusus isolasi”

“Tetapi kita tetap bisa menemani Mas Nur kan Mba?”

“Makanya tadi mba langsung telepon kamu, ini mba ada surat pernyataan yang harus mba tandatangani”

“Coba lihat Mba”

Nana mencoba mencermati isi surat pernyataan itu, sementara mata Ayu terus saja meneteskan airmata.

“Sudah Mba. Kalau di sini Mas Nur kan lebih terawat, insyaAllah sebentar saja sembuh”

“Tetapi Aku masih belum bisa menerima kenyataan ini, Na”

Nana benar-benar mengutuk penyakit menyebalkan itu. Ia juga belum bisa percaya bagaimana Mas Nur yang terlihat sangat sehat bisa terkena penyakit tersebut.

“Bagaimana nanti perlakuan tetanga terhadap kita, Aku sangat takut dikucilkan Na”

“Mba Ayu, kita tidak usah memikirkan tetangga kita. Yang terpenting sekarang Mas Nur cepat sembuh”

“Tapi bagaimana kalau Mas Nur tidak bisa sembuh Na” Nana langsung memeluk Ayu.  Ayu sebenarnya juga takut kehilangan Mas Nur.

“Mba, kita harus optimis. Mas Nur pasti bisa melewati ini semua, dan melawan penyakitnya.

Ayu pun terpaksa menandatangani surat pernyataan tersebut dan meninggalkan Mas Nur sendirian di rumah sakit. Terlihat dua suster membawa Mas Nur ke sebuah ruangan khusus. Ayu dan Nana pun hanya bisa menangis melihat dari kejauhan.

Sesampainya di rumah, nyinyiran tetangga mulai terdengar. Ada yang bilang katanya Mas Nur tidak mau mematuhi imbauan pemerintah, ada yang bilang kena azab ada juga yang bilang Mas Nur memang pantas kena penyakit tersebut.

Para tetangga pun terlihat menjauh. Yu Supri dan lik Minem yang biasa ke rumah Ayu pun tak terlihat batang hidungnya. Kondisi ini tentu semakin membuat Ayu terpuruk.

“Biar anak-anak di rumah aku untuk sementara waktu Mba”

“Minimal kalau di rumah aku, anak-anak tidak mendengar gunjingan tetanga”.

“Dasar tetangga, kalau lagi minta tolong saja seolah mendewakan keluargaku, sementara saat kami susah, tak ada satupun yang peduli”

“Sudah, sudah. Mungkin ini memang teguran untuk Mas Nur”

“Mba Ayu gimana sih, kok malah belain tetangga?”

“Kenyataanya seperti itu Na”

“Mas Nur memang sangat sudah dibilangin. Maunya menang sendiri dan tidak pernah mendengarkan Mba”

Nana memang satu-satunya orang yang tahu tentang rahasia Ayu dan Mas Nur. Ia telah berusaha menyembunyikan rapa-rapat rahasia itu sejak tiga hari yang lalu. Mas Nur masuk rumah sakit, tentu berita akan tersebar ke seluruh desanya. Nana harus bilang apa kalau tetangganya terus-menerus bertanya. Entahlah. Nana berusaha memejamkan mata sejenak.

Baru beberapa menit terlelap, Nana terbangunkan oleh suara tetangga yang menggedor-gedor pintunya.

“Nana, Nana keluar kamu.”

“Nana, cepet pergi dari sini”

“Iya sebentar” Nana sudah menduga tetangganya pasti akan datang ke rumahnya untuk introgasi keadaan Mas Nur.

“Hai Nana, cepat kamu dan semua keluargamu pergi dari desa ini”

“Lho, kenapa kami harus pergi pak, apa salah kami”

“Masih tanya lagi, ayo teman-teman cepat kita sered mereka keluar dari rumah” beberapa orang kemudian masuk dan memaksa anak-anak Ayu untuk keluar juga dari rumah Nana.

“Tunggu” untung ada pak RT datang sehingga keributan berangsur terkendali.

“Pak RT, warga kita ini ada yang terkena covid_19, kita harus usir mereka dari sini, sebelum satu desa tertular, betul tidak teman-teman”

“Iya betul, usir mereka pak RT”

“Tenang-tenang. Jangan suka suuzon dan main hakim sendiri”

“Lagian kalau memang betul ada salah satu keluarganya Nana terkena covid_19, kita itu harus membantu dan mendukung supaya keluarganya diberi kesabaran juga yang sakit segera sembuh. Bukan mengusirnya”

“Tapi kan pak RT, penyakit itu sangat berbahaya, bagaimana kalau kita semua tertular?”

“Yang terkena penyakit tersebut sudah di rawat di RS, artinya kita tidak perlu khawatir. Yang penting kita tetap jaga kesehatan dan selalu berdoa kepada Allah”

“Ya sudah sekarang bubar-bubar!”

“Nanti kalau ada yang buat keributan lagi, saya panggilkan pak polisi”

Beruntung masih ada Pak RT. Selain bijaksana, Pak RT satu-satunya orang yang membela keluarga Nana saat hampir semua orang mengucilkanya. Warga pun satu demi satu pulang ke rumah masing-masing.

“Terima kasih Pak RT telah menyelamatkan keluarga kami”

“Kamu yang sabar, semua ujian pasti akan ada jalan keluar. Saya pamit dulu”

“Tunggu pak RT”

“Sebenarnya Mas Nur tidak sakit covid pak RT”

“Lho katanya isolasi mandiri, lantas apa penyakitnya”

“Sakit Jiwa”

“Mengapa kamu tidak terus terang kepada warga tadi”

“Pak RT, doakan saja, semoga Mas Nur cepat sembuh”

Nana tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya. Mas Nur sakit jiwa gara-gara ditinggal selingkuhanya menikah. Berita itu tentu akan mencoreng nama baik keluarganya yang terpandang dan terhormat. Cukup Ayu dan Nana saja yang menyimpan rahasia itu. Lagian Mas Nur juga sekarang sudah dapat ganjaranya karena menduakan kakaknya..