Mahasiswa
1 bulan lalu · 183 view · 3 min baca menit baca · Lingkungan 57584_22043.jpg
Pinterest

Ganja, Solusi (Kertas) Tanpa Masalah

Pertemuan saya dengan teman-teman LGN Yogya beberapa waktu lalu sungguh menyadarkan. Kita terlalu sibuk mencarikan solusi kertas di masa akan datang sembari melupakan apa yang telah ganja lakukan di masa silam.

Sudah menjadi rahasia umum, mahasiswa merupakan satu kaum dari beberapa kaum lainnya yang boros menggunakan kertas. Mereka yang tengah berada di batas akhir semester, contohnya, untuk keperluan ujian akhir, masing-masing diharuskan menggandakan hasil penelitiannya sebanyak 3, 5, atau bahkan 7 rangkap.

Tidak cukup sampai di situ, jumlah halamannya pun relatif bervarian, mulai dari ratus hingga ribuan. Kampus saya, misalnya, menetapkan aturan baku terkait penulisan tugas akhir, minimal 60 halaman. Pun demikian, di tempat lain, masih ada saja yang bersedia menuliskannya sampai setebal 1.150 halaman.

Asumsikanlah, masing-masing mahasiswa menuliskannya 100 lembar dan harus menggandakannya menjadi 5 rangkap. Setidaknya, butuh 500 lembar atau satu rim kertas guna memenuhi keperluan itu. Perhitungannya masih akan terus berlanjut apabila setiap mahasiswa dibebankan kewajiban revisi berulang kali.

Tidak bermaksud mencari-cari masalah, sebab pada dasarnya fakta tersebut memang bermasalah.

Harus diakui, peran kertas saat ini, bagaimanapun juga, tak akan lusuh meski digempur berbagai inovasi di bidang teknologi. Lingkungan kampus dengan gamblang telah mempertontonkannya. Terdapat ribuan mahasiswa di setiap universitas kita yang mesti menggunakan kertas untuk memperoleh kelulusannya.

Sejurus itu, 84 industri pulp dan kertas nasional masih mengandalkan pohon atau kayu sebagai bahan baku pembuatannya, di mana 1 pohon berusia 5 tahun hanya mampu menghasilkan 8.300 lembar atau 16 rim kertas saja.


Ada banyak fakta lain yang dapat penulis sodorkan untuk mendukung argumen bahwa kertas masih menjadi primadona di tengah-tengah masyarakat kita. Peran kertas tetap penting dalam kehidupan, mulai dari produksi koran, buku, tisu, kemasan, dan lain sebagainya.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut, industri pulp nasional, dewasa ini, telah menyumbangkan hasil produksinya hingga mencapai 11 juta ton setiap tahunnya. Di waktu yang bersamaan, industri kertas kita tampak tidak ingin ketinggalan dengan ikut serta menghasilkan kertas sebanyak 16 juta ton per tahunnya.

Apabila ditelisik secara teoritik, untuk menghasilkan 1 ton kertas, produksinya membutuhkan sekitar 20 batang pohon dewasa. Artinya, akan ada 320 juta pohon (hutan/tanaman) yang mesti ditebang setiap tahunnya. Menentukan pilihan—antara tidak menebang pohon atau tidak menggunakan kertas—tentu sulit bagi mahasiswa seunyu saya.

Di tengah-tengah kebimbangan itulah lawatan saya ke sebuah acara LGN Yogya bertajuk Menanam Bersama membuahkan hasil. Ganja dapat dijadikan alternatif pembuatan kertas. Serat ganja (hemp) telah tercatat dalam lika-liku sejarah perkembangan kertas di dunia.

Sayangnya, stigma terhadap tumbuhan ini telah melekat kuat dalam pikiran masyarakat kita, tak terkecuali dengan sebagian mahasiswa. Masifnya kampanye negatif dari negara disinyalir sebagai penyebabnya. Narasi bahaya penyalahgunaan ganja acap kali menjadi tema besar yang terus digulirkan.

Padahal, Hikayat Pohon Ganja (2011) dengan terang merekam penggunaan serat ganja. Di masa lampau, hingga tahun 1883, lebih dari 75% produksi kertas dunia telah menggunakan bahan dasar hemp.

Pabrik kertas berbahan dasar serupa juga telah berdiri di beberapa kota negara Spanyol pada tahun 1150. Berlanjut hingga tahun 1750, tokoh Benjamin Franklin pun tercatat melakukan hal yang sama.

Sejatinya, penggunaan tumbuhan tersebut masih eksis di beberapa negara, bahkan sampai sekarang. Beberapa industri seperti Yunnan Industrial Hemp Inc yang berasal dari negeri bambu, Cina, dan Hemp Inc yang berasal dari Amerika, misalnya, masih tercatat sebagai pengguna serat ganja dalam pembuatan kertas.

Dengan beragam manfaat yang terkandung di dalamnya, kehadirannya telah terlibat langsung mendongkrak pertumbuhan beberapa negara dunia ke arah lebih baik, mulai dari aspek sosial, ekonomi, bahkan hingga politik.

Seberapa unggulkah tanaman ini hingga dielu-elukan berbagai komunitas di dalam negeri?

Singkatnya, hemp atau Canabis Sativa merupakan salah satu varietas tanaman ganja yang berbeda dengan jenis ganja lain. Indica, misalnya. Jenis pertama menyumbangkan banyak manfaat di dunia industri, sementara yang kedua banyak digunakan untuk kebutuhan rekreasi ngefly.


Penggunaan hemp untuk keperluan pembuatan kertas telah terbukti mampu mengurangi berbagai masalah seputar hutan. Dalam menghasilkan produk kertas, lahan seluas 1 hektare hemp setara dengan 4,1 hektare pohon kayu.

Sedangkan untuk efektivitas dan efesiensi pembuatan kertas, penggunaan pohon akan memakan waktu tunggu sekurang-kurangnya 5 tahun. Sejurus itu, hemp hanya butuh 4 bulan lamanya. Tidak butuh waktu lama untuk memenuhi permintaan pasar kertas yang diprediksi akan makin meningkat.

Pada akhirnya, menjadi logis tentunya jika lingkungan industri kertas kita menjatuhkan pilihannya pada hemp ketimbang pohon. Langkah konkret yang dapat ditempuh adalah mengimbangi kampanye penyalahgunaan ganja dengan kampanye pembenargunaan ganja demi masa depan hutan, lingkungan, dan iklim kita.

Sudah waktunya mahasiswa ambil bagian untuk memperjuangkan ganja sebagai alternatif bahan baku produksi pembuatan kertas.

Artikel Terkait