Pada musim panas 1981, dua orang film maker (pembuat film) berkebangsaan Prancis turun-naik gunung dan menerobos puncak-puncak terlarang Pegunungan Hindukush.

Mereka berdua menuju Lembah Panjshir, sebuah lembah yang terletak di Afghanistan Utara, sekitar 150 kilometer dari utara Kabul. Lembah ini terletak di Provinsi Panjshir dan dibelah oleh Sungai Panjshir. Lembah ini dihuni lebih dari 300.000 jiwa etnis Tajik. 

Apa yang dicari oleh para film maker tersebut? Tentunya berhubungan dengan materi pembuatan film.

Materi film dokumenter tersebut bukanlah materi biasa. Yang mereka cari dan kumpulkan adalah materi biografi seorang pemimpin besar gerilyawan Afghanistan yang menentang invasi Soviet.

Akhirnya kru pencari materi menemukannya di sebuah rumah kecil sederhana, bahkan bisa dibilang reyot di sebuah desa kecil wilayah Lembah Panjshir, utara Kabul. 

Dia adalah Ahmad Shah Abdullah Masoud. Mahasiswa yang pernah belajar ilmu arsitektur ini suka sekali dengan puisi-puisi Persia. Juga ahli strategi militer dan penyuka Muhammad saw dan Che Guevara.  

Pada kesempatan lain, The New York Times, A. O. Scott menyebut bahwa Ahmad Shah Abdullah Masoud bak sebuah epik, ruh puisi keberanian militer dan kepahlawanan. 

Lembah Panjshir memang bukanlah lembah biasa. Baik Soviet atau Taliban selalu gagal masuk dan menguasai lembah ini. Semisal pada 30 April 1984, pasukan Soviet jatuh ke dalam perangkap paling mengerikan selama Perang Afghanistan.

Selain karisma kepemimpinan sang Singa Panjshir, lembah ini dibentengi oleh kekuatan non-kombatan yang berupa ganja-ganja puitis dari puisi dan syair yang begitu sangat berpengaruh dengan urusan keberanian, hidup dan mati.

Betapa pentingnya puisi bagi orang Afghanistan, khususnya penghuni Lembah Panjshir. Kekuatan sihir syair-syair di masyarakat begitu kental.

Ketika setiap kata-kata puitis dibacakan oleh penyair, orang akan bangkit, bersorak, dan kemudian duduk. Itulah cara penghuni Lembah Panjshir hidup dan menghirup ganja puitis serta suka tenggelam dalam ilusi dan mimpi.

Sejarah puisi di Afghanistan berawal ribuan tahun yang lalu. Ia berkembang pada masa pemerintahan Sultan Mahmud dari Ghazni yang memerintah dari 998 hingga 1030 Masehi. 

Sultan ini gila syair. Dia adalah sastrawan yang menghidupi istananya dengan 700 penyair. Mereka tinggal di istananya. Bukan hal aneh kelakuan sang Sultan, sebab leluhurnya 100 tahun yang lalu sudah kenyang dengan  sastra Persia. 

Syair-syair berbahasa Farsi membanjiri istana raja yang berdarah Persia pertama, Raja Yaqub. Tahtanya menjulang di Nimruz, sebuah provinsi di bagian barat Afghanistan.

Begitu mendarah-dagingnya tradisi bersyair, hingga sejajar dengan kegilaan terhadap ilmu pengetahuan. Syair-syair selalu dilantunkan dari buaian hingga ke liang kubur. Keragaman suku-suku di Afghanistan bisa disatukan oleh ganja-ganja puitis dari syair-syair mereka.

Suku Tajik, Hazara, Pashtun, Uzbek, Turkmen, Nuristani, Baluch, atau yang lainnya dari ratusan kelompok sub-etnis lainnya tersimpuh, seolah punya Tuhan baru, puisi dan syair.

Lagu-lagu lullaby (nina bobo) bayi-bayi penuh dengan susunan rapi syair-syair pengantar tidur yang dibacakan oleh ibu-ibu mereka. Dari sinilah awal proses masyarakat penyair Afghanistan lahir.

Ketika bayi-bayi sudah beranjak dewasa, maka anak-anak lucu ini yang mulai sekolah, dicekoki dengan teks-teks Persia. Itulah yang pertama diperkenalkan kepada mereka.

Teks-teks, semisal diwan (divane) Hafiz Shiraz, sudah menjadi santapan utama masa kekanakan.

Diwan adalah kumpulan puisi atau kadang pula prosa. Kata diwan atau dewan merupakan Bahasa Persia yang diserap menjadi Bahasa Arab, yang berarti kumpulan lembaran-lembaran. Maksudnya, buku atau catatan. (Lisan Al-Arab, Ibnul Manzhur 13/164).

Kemudian penggunaan kata ini meluas, semisal ke istilah pemerintahan, “dewan”.

Hafiz adalah penyair abad ke-14 dari Shiraz (Iran modern). Secara tradisionalis, mereka percaya bahwa diwan Hafiz Shiraz adalah buku pengetahuan, yang berisi segala sesuatu dari puisi hingga filsafat. 

Ia terkenal dengan keindahan syair-syair sufi dan ghazal ciptaannya. Syair-syairnya mempunyai ciri-ciri surealisme modern.

Ghazal adalah syair-syair pendek sufisme. Sebuah ghazal biasanya terdiri dari antara lima dan lima belas bait, yang independen, tetapi terkait secara abstrak, dalam temanya; dan lebih tepatnya dalam bentuk puitis.

Seiring bertambahnya usia budaya Afghanistan, Hafiz digantikan dengan studi tentang penyair lainnya. Di pagi hari, dipelajarinya karya-karya Saadi, penyair lain dari Shiraz.

Kemudian di sore hari mereka mempelajari syair-syair karya Abdul Qadir Bedil atau yang dikenal dengan Bedil Dehlavi. Dia seorang master puisi Farsi dari Delhi yang karyanya lebih rumit dan filosofis.

Sedang malam-malam yang panjang musim dingin mereka dedikasikan waktunya untuk mempelajari Shahnameh (Book of the Kings) oleh Firdausi. Shahname adalah karya puisi Persia terhebat jika dibandingkan dengan Homer's Odyssey.

Shannameh adalah puisi epik yang ditulis ribuan tahun yang lalu dengan ideologi anti-Arab, yang bertujuan untuk melestarikan bahasa dan budaya. 

Shannameh menempati posisi yang sangat penting dalam kebudayaan Persia, dihargai sebagai sebuah mahakarya sastra, dan menjadi tolok ukur jati diri budaya bangsa di negara Iran, Afganistan, dan Tajikistan sekarang ini.

Puisi, syair, prosa, dan sejenisnya benar-benar menyusup kuat ke penghuni Lambah Panjshir Afghanistan. Secara tak sadar, kedalaman filsafat sudah menjadi santapan harian sejak masa kecil.

Hal lain yang unik ketika para Mullah membuat pernyataan sikap tentang sesuatu tetapi tidak mendapat dukungan dari umatnya, maka mereka yang tidak mendukung biasanya membacakan sebuah puisi sebagai bentuk penghormatan perbedaan pendapat.

Kasus unik lainnya yang berhubungan dengan puisi dan syair, para panglima perang suku (warlord) adalah para kombatan sekaligus penyair terbaik. Sebut saja seperti Gulbuddin Hekmatyar, pesaing panglima perang Ahmad Shah Abdullah Masoud juga seorang penyair. 

Keduanya adalah penyair handal. Termasuk pula warlord lainnya, Dr. Abdullah Azzam.

Penghuni Lembah Panjshir melestarikan budaya berpuisi bersama pemimpin mereka, Ahmad Shah Abdullah Masoud yang menyukai seni, puisi, sufisme, dan sikap keterbukaan terhadap budaya-budaya lain. Sebuah kebalikan dari Osama Bin Laden.

Dalam sebuah catatan Abdullah Anas dalam 'To The Mountains: My Life in Jihad dari Aljazair ke Afghanistan (Hurst) 2019 menyebutkan bahwa Dr. Abdullah Azzam juga sangat terpikat dengan Ahmad Shah Abdullah Massoud. Kemungkinan keterpikatan tersebut berkaitan erat dengan kemampuan seni syairnya.

Dalam tradisionalisme al-Qaeda, Masoud sering digambarkan sebagai pengkhianat dan musuh Islam, seseorang yang layak dibunuh.

Dengan puisi dan syair, sejarah akan terus menjadi inspirasi.

Referensi: