Mahasiswa
1 tahun lalu · 2055 view · 5 min baca · Lingkungan 89992_19556.jpg
https://cannawell.co.uk/

Ganja, Penebus Dosa Mahasiswa terhadap Kerusakan Hutan

Tidakkah kalian menyadari, di antara banyak penyebab kerusakan hutan adalah ketidakbecusan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir kuliah, hingga revisi berulang-ulang. Maka, kutumbuh-suburkan ganja di Indonesia, di antaranya untuk memenuhi kebutuhan kertas kalian saat bimbingan tugas akhir. Sesungguhnya mahasiswa yang merugi adalah mereka yang tidak berpikir.”

Mulia adalah seorang mahasiswi pascasarjana di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, ia telah menyelesaikan penelitian tesisnya.

Untuk dapat melaksanakan seminar hasil, ia harus menggandakan sebanyak tujuh rangkap tesisnya yang berjumlah sekitar 120 halaman. Ini berarti, butuh sekurang-kurangnya 840 lembar kertas atau sekitar satu setengah rim untuk dapat menyelesaikan kuliahnya. Angka ini belum diakumulasikan dengan revisi berkali-kali yang ia lakukan.

Sekilas, kenyataan di atas tampak biasa. Tapi, ketika direnungi lebih dalam, terdapat dua hal penting.

Pertama, peran kertas tetap penting dalam kehidupan, pun dalam perkembangan era digital saat ini. Pasalnya, terdapat ribuan Mulia lainnya yang akan melewati tahap itu setiap periode wisuda.

Pada Februari 2016 lalu, misalnya, sebanyak 526 mahasiswa UIN Sunan Kalijaga menjalani wisuda; 1082 mahasiswa Universitas Gajah Mada; 1047 mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta juga melakukan wisuda. Total terdapat 2.655 wisudawan dari ketiga Universitas di atas.

Kedua, secara teori, satu pohon usia lima tahun menghasilkan kurang lebih 8.300 lembar atau 16 rim kertas. Ini menunjukkan bahwa pada pelaksanaan wisuda ketiga universitas negeri di atas, dengan hitungan rata-rata minimal penggunaan kertas untuk tugas akhir sebanyak 1 rim setiap wisudawan, maka kertas yang dibutuhkan sebanyak 2.655 rim.

Jika dikonversi dalam jumlah kebutuhan pohon, maka angka yang muncul adalah 156 pohon. Tambah lagi, rata-rata kampus 3 kali pelaksanaan wisuda tiap tahunnya. Setidaknya ketiga universitas di atas butuh 468 pohon tiap tahunnya untuk meluluskan mahasiswanya.

Fakta itu memang hanya menunjukkan satu aspek kebutuhan manusia akan kertas. Tapi, sekalipun harus menunjukkan lebih banyak fakta, hasilnya akan lebih memperkuat argumen tersebut. Mulai dari produksi koran, buku, tisu, hingga bungkusan makanan angkringan tak lepas dari kertas. Peran kertas penting dalam kehidupan.

Tidak bermaksud untuk mengingkari perkembangan dunia teknologi yang membuat beberapa fungsional kertas dialihkan dalam bentuk digital. Karena, toh pada kenyataannya, kertas masih sangat melekat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Kementerian Perindustrian menyatakan, jumlah kapasitas terpasang industri kertas nasional sebesar 12.98 juta ton per tahun. Untuk menghasilkan 1 ton kertas, dibutuhkan sekitar 20 pohon dewasa. Artinya, untuk memenuhi kebutuhan buku bacaan, koran, majalah, tisu, skripsi dan kawan-kawannya dalam setahun, kita harus menebang sekira  240 juta pohon.

Untungnya dalam dunia per-pohonan tidak ditemukan istilah mirip genosida. Bisa-bisa ini menjadi kasus pelanggaran HAM HAP (Hak Asasi Pohon) berat rutin tiap tahunnya. Maka tak heran jika banjir, erosi, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan merupakan harga yang harus dibayar oleh kita semua.

Manusia sedang dihadapkan pada kenyataan yang rumit, antara pemenuhan kebutuhan manusia akan kertas dan semakin gundulnya hutan, diikuti dampak buruk lainnya. Tidak usah membayangkan terlalu jauh, yang dibutuhkan adalah solusi alternatif untuk tidak melakukan penebangan ratusan juta pohon dengan segala dampak buruknya dan kebutuhan kertas manusia tetap terpenuhi.

Sejarah perkembangan kertas sebenarnya telah memberi kita jalan keluar, alternatif kertas dari serat ganja (hemp). Memang, tidak sedikit tanggapan sinis dari masyarakat ketika membicarakan tentang tanaman ini.

Beberapa tanggapan dari teman kuliah saat hendak bicara manfaat ganja: “Ganja itu berbahaya, jangan sekali-kali mendekati itu”; “Ah, kamu itu mengada-ada, ada penelitiannya gak?”; “Kamu itu cuman mencari-cari alasan biar ganja bisa legal di Indonesia”. Stigma negatif melekat kuat dalam pikiran, mengenai ganja. Hal ini bisa dipahami sebagai akibat dari kampanye serampangan negara tentang ganja di Indonesia.

Selama ini, jika diperhatikan, narasi bahaya penyalahgunaan ganja adalah tema besar yang terus digulirkan pemerintah di berbagai daerah. Logikanya kemudian, jika ada penyalahgunaan, tentu ada pembenar-gunaan. Pembenar-gunaannya seperti apa? Kebenaran inilah yang tak pernah disodorkan pada kita.

Hingga dalam lingkungan akademis pun, perbincangan ganja selalu lebih cocok ditempatkan sebagai sesuatu hal yang harus dilawan. Seharusnya, konsep “Adil sejak dalam pikiran” Pram juga berlaku untuk tanaman ganja.

Mengenai peran negara dan segala tetek bengek kampanye tentang ganja akan dibahas lain waktu. Tapi, pertanyaan kaitannya dengan kertas nampaknya butuh dibereskan. Apakah ganja dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan kertas? Ada penelitiannya gak?

Toh, hingga tahun 1883, 75%, kertas di dunia berbahan dasar hemp. Hal ini sejalan dengan beberapa uraian dalam buku Hikayat Pohon Ganja (2011): Pada tahun 1150, pabrik kertas berbahan baku serat ganja didirikan di berapa kota negara Spanyol; pada tahun 1750, Benjamin Franklin juga mendirikan pabrik kertas berbahan baku serat ganja.

Bahkan saat ini beberapa negara menggunakan hemp untuk memproduksi berbagai macam kebutuhan, termasuk kertas. Sebut saja Yunnan Industrial Hemp Inc, sebuah perusahaan pemanfaatan hemp untuk pembuatan kertas dari China atau perusahaan Hemp Inc dari Amerika.

Udah ada yang buat kok. Masih butuh penelitian? Kalau ngotot dengan jawaban iya, maka saya sarankan untuk meneliti apakah Monas benar-benar berada di Pulau Jawa?

Hemp atau Canabis sativa adalah salah satu varietas dari tanaman ganja. Hemp memiliki manfaat banyak untuk dunia industri: tekstil, makanan, obat, bahan bangunan, termasuk pembuatan kertas. Hemp berbeda dengan jenis ganja lainnya. Sebutlah Indica, salah satu jenis ganja yang selama ini banyak digunakan untuk kebutuhan rekreasi “nge-fly”.

Penggunaan hemp sebagai bahan pembuatan kertas dapat mengurangi berbagai masalah hutan saat ini. Bagaimana tidak, bahan baku kertas dari 1 hektar ganja (hemp) setara dengan 4,1 hektar pohon kayu. Artinya, kita bisa mengurangi penggundulan hutan sekitar 3 hektar setiap penggunaan 1 hektar hemp.

Kedua, setidaknya pohon butuh waktu 5 tahun untuk dapat menghasilkan serat sedangkan hemp hanya butuh 4 bulan. Tidak butuh waktu lama untuk mengikuti permintaan pasar kertas yang semakin meningkat jika produksi kertas menggunakan bahan baku hemp.[1]

Hitungan di atas kertas, penggunaan hemp lebih ramah lingkungan dibandingkan pohon sebagai bahan untuk kertas. Hal ini menjadi pilihan logis untuk berhenti menggunduli hutan, penebangan pohon besar-besaran, dan mulai menanam ganja.

Namun, memang untuk konteks Indonesia, penggunaan ganja dalam bentuk apa pun dilarang. Akan tetapi, angin segar kembali berhembus, revisi UU Narkotika masuk dalam prioritas prolegnas 2018. Ini menjadi peluang emas untuk terus menggulirkan narasi tentang pembenar-gunaan ganja di Indonesia, khususnya di bidang industri.

Sangat disayangkan jika pembenar-gunaan ganja tidak terjadi di Indonesia. Pasalnya, tumbuhan ini sudah tumbuh subur sejak dulu di tanah kita. Ini bisa dilihat dari pembakaran berhektar-hektar ladang ganja di beberapa daerah oleh petugas. Mari berpikir lebih sehat untuk memanfaatkannya sebagai alternatif bahan pembuatan kertas.

Sekali lagi, tiap tahun, ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri ataupun swasta di seluruh Indonesia merayakan kelulusan setelah bersusah payah bergelut dengan lembaran kertas tugas akhir. Di saat yang sama, jutaan pohon diratakan dengan tanah demi memenuhi kebutuhan kertas para lulusan tersebut.

Sudah waktunya mahasiswa harus ambil bagian memperjuangkan ganja sebagai alternatif bahan produksi pembuatan kertas. Karena sedikit banyaknya, kerusakan hutan, peristiwa banjir, perampasan lahan, tanah longsor, dan kekeringan adalah akumulasi ketidakbecusan mahasiswa menyelesaikan tugas akhir kuliah.


[1] SHARP (1989) 3rd Report into The Medieval Hospital at Soutra, Lothian/Borders Region, Scotland. ISBN 09511888 28 

Artikel Terkait