73755_44602.jpg
Budaya · 5 menit baca

Ganja, Kertas, dan Ketakutan-Ketakutan Kita

Salah satu masalah terbesar manusia adalah ketakutan, dan ketakutan muncul dari ketidak-tahuan. ‘Ketakutan karena ketidak-tahuan’ sanggup membuat masyarakat menghancurkan harta mereka sendiri yang berharga. Mari mengambil contoh dari minyak kelapa.

Pada tahun 1980-an, Amerika secara resmi menuding minyak kelapa sebagai penyebab utama meningkatnya serangan jantung. Kampanye yang dimotori National Heart Saver Association itu sukses memaksa pemerintah melarang penggunaan minyak kelapa. Efeknya sampai Indonesia; Orba dengan gencar ‘menyarankan’ masyarakat agar menjauhi minyak kelapa.

Hari ini kita sadar, sektor kopra (kelapa) kita sekarat dihantam kampanye itu. Padahal, Indonesia sudah dikenal sebagai penghasil kopra terbaik sejak abad ke-12. Tahun 1851, Belanda ‘memanfaatkan’ skill pengolahan minyak kelapa Nusantara dalam wujud pabrik di Kebumen. Perkebunan dan pabrik kopra pernah menjadi tambang hidup rakyat dan negara.

Namun, kampanye internasional terbukti sanggup melumpuhkannya—beserta industri kretek, gula, garam, dll. Berselang waktu, komoditas-komoditas itu datang ke Indonesia sebagai barang impor. Ternyata ada pihak yang memproduksinya saat para pesaing hancur dihantam kampanyeMeski fakta-fakta ilmiah-kiwari tentang minyak kelapa (yang positif) mulai diangkat, tapi bangkit setelah babak belur memang susah.

Apakah semua itu konspirasi? Entahlah, tapi lihatlah bagaimana sebuah ‘ketakutan karena ketidak-tahuan’ bekerja mengandalkan kerjasama pengusaha dan penguasa. ‘Ketakutan karena ketidak-tahuan’ itu juga muncul pada ganja.

Ganja adalah komoditas yang mengalami penolakan hebat di berbagai negara. Namun, karena ganja sebagai komoditas berusia lebih muda, ganja mampu belajar dari pengalaman komoditas lain yang pernah dihancurkan dengan propaganda ‘ketakutan karena ketidak-tahuan’, sehingga ganja menolak dihancurkan. Banyak pihak yang melakukan studi atas ganja dan mendapat wawasan (dan kebenaran?) berbeda dari mainstream. Terdapat fakta ilmiah bahwa ganja bisa digunakan untuk medis dan industri.

Ganja, Sudut Pandang Lain

Ganja adalah tanaman dengan nama latin cannabis sativa. Banyak orang hanya (dan hanya mau) membayangkan ganja sebagai tumbuhan yang disedot untuk giting. Padahal, ganja telah memiliki ribuan tahun sejarah kebermanfaatan.

Ganja sudah berkembang sejak 12.000 tahun yang lalu; ia telah digunakan sebagai obat bius operasi pada 4000 SM; ia disebut dalam kitab pengobatan china tertua di dunia, Pen Tsao Ching, peninggalan Kaisar Shen Nung pada 2737 SM. Ganja juga disebut sebagai salah satu dari 5 tanaman suci “yang membuat manusia lepas dari kecemasan” dalam Atharva Veda (Hindu).

Ganja, di era pra-modern, digunakan untuk tujuan spiritual. Agama Hindu pada 1200 SM mengenal Bhang, minuman ganja, susu, dan gula untuk upacara Baisakhi Holi.

Taoisme abad pertama masehi menggunakan bibit ganja di pembakar dupa untuk memudahkan bermeditasi. Rastafara percaya ganja adalah pohon kehidupan yang meringankan nyeri haid. Efek psikoaktif ganja bekerja dengan cara yang sama seperti orgasme dalam ritual seks Biarawan Sion: setengah detik orgasme adalah saat suci yang memungkinkan manusia melihat Tuhan.

Ganja sebenarnya dekat dengan peradaban kita. Kita menyebut pakaian sejenis kemeja dengan nama ‘hem’, yang berasal dari kata hemp (ganja). Kemeja pertama diperkenalkan di Indonesia memang berasal dari serat ganja. Serat ganja digunakan dalam pembuatan tali tambang kapal karena ketahannya pada air garam. Celana jeans “Levis” dikenal kuat karena menggunakan serat ganja. Serat ganja bahkan bisa menjadi bahan sepatu hingga parasut penerjun yang tahan sobek.

Hari ini penggunaan serat ganja berkembang pesat. Ia bisa digunakan sebagai bahan bangunan (batu-bata, genteng) yang fungsi insulatornya yang lebih baik dari beton. Serat ganja diakui sebagai alternatif terbaik plat body mobil atau pesawat, yang memberi performa lebih ringan dan murah. Bugaati, Veyron, BMW, Hyundai, dan Mercendes-Benz sudah menggunakan serat ganja untuk body-kit. Hemp-Basics di New Jersey, Amerika telah sukses sejak 1991 memproduksi aksesoris, body care, tali-temali, tekstil, bahan celup, bahan bangunan, bahkan selang pemadam kebakaran, dengan kualitas terbaik.

Ganja yang kandungan THC-nya (tetrahydrocannabinol, zat penghasil euforia) di bawah 0,3% tidak memabukkan, sebaliknya, menghasilkan serat berharga. Itulah ‘ganja industri’ (Cannabis Sativa L.). Serat itulah yang digunakan sebagai bahan industri terbaik. Per hektar ladang ganja menghasilkan 250% lebih banyak serat daripada kapas.

Dengan begitu kita bisa bertanya-tanya, mengapa ganja industri berkembang di sebagian negara adidaya yang begitu gencar mengkampanyekan buruknya ganja? Apa alasan mereka mematikan aktivitas ganja apapun di berbagai belahan bumi, sembari memproduksi kebermanfaatan dari ganja industri di tanah mereka sendiri?

Mari kita lihat data: negara produsen ganja industri terbesar adalah Cina (79% total produksi dunia), disusul Perancis (15% total produksi). Inggris dan Jerman memproduksi hemp sejak 1990. Amerika memiliki undang-undang pelegalan ganja. Queensland mengizinkan ganja industri sejak 2002. Di Perancis, telah digunakan 11.000 hektar area pertanian ganja industri.

Di Rusia, ladang ganja industri seluas satu juta hektar. China telah memiliki 309 paten ganja (yang kebanyakan ganja medis), dan mengizinkan institusi swasta melakukan kajian resmi khasiat medis dan industri dari tanaman ganja, seperti Yunnan Industrial Hemp Inc.

Dunia kesehatan negara besar melaju berkat ganja medis. Mereka menemukan bahwa ganja tidak hanya mengandung THC, namun juga CBD (cannabidiol), zat yang nir-psikoaktif, namun dapat menekan emosi negatif manusia seperti cemas berlebih dan depresi. CBD itulah yang dikembangkan untuk memperbaiki kerusakan 48% saraf di entorhinal korteks akibat alkohol. California Pacific Medical Centre memanfaatkan CBD untuk mematikan sel kangker supaya tidak menyebar. Inggris dengan Marijuana Centre-nya memanfaatkan CBD memberantas kelumpuhan, impotensi, diabetes, dan AIDS.

Pertanyaannya: mengapa Indonesia yang punya potensi besar memanfaatkan ganja, seperti buta dengan gencarnya langkah-langkah negara adidaya—yang menjadi sumber kampanye negatif tentang ganja, namun mendayagunakan ganja di saat yang sama—itu?

Ganja dan Industri Kertas Kita

Ganja bahkan berpotensi sangat signifikan bagi industri kertas. Tentunya tawaran ini kontekstual, mengingat belakangan ini marak kampanye negatif terhadap buku cetak yang dituduh secara semena-mena berkontribusi besar bagi penebangan hutan dan pengrusakan lingkungan. Bahkan klaim sebuah universitas sebagai green campus bisa dipertanyakan lantaran perpustakaannya mempunyai puluhan ribu eksemplar buku cetak.

Meskipun industri kertas telah menyatakan bahwa jatah hutan yang boleh mereka tebangi hanyalah 7,8% dari total luas hutan Indonesia (126,09 juta hektar), dan itupun disertai tanggung-jawab penanaman kembali dan pemeliharaan dengan melibatkan perkembangan teknologi canggih, ada baiknya serat ganja industri tetap diperkenalkan sebagai bahan dasar kertas. Karena serat ganja industri jauh lebih efisien dan murah.

Banyak yang tidak tahu bahwa sampai tahun 1883, 75% kertas dunia dibuat dari serat ganja. Baru pada tahun 1900, semua koran dan sebagian besar buku cetak berbahan pohon kayu. USDA (United States Departement of Agriculture) menggambarkan bahwa di tahun 1916, satu hektar ganja bisa memproduksi bubur kertas sama banyaknya dengan empat hektar pohon kayu.

Tanaman ganja hanya perlu 1 musim saja (120 – 180 hari) untuk siap panen; tidak butuh pestisida dan herbisida; sebagai bahan kertas, tidak membutuhkan pemutih klorin yang menjadi limbah. Produk kertas berbahan serat ganja lebih kuat dan indah.

Namun tentu saja, tawaran itu bersifat utopis. Tawaran itu harus berhadapan dengan negara dan masyarakat yang masih terjebak dalam ‘ketakutan karena ketidak-tahuan’.

Apakah tulisan ini menyokong industri kertas? Apakah tulisan ini membela ganja? Tidak keduanya. Sejauh yang penulis tahu, tulisan ini berkepentingan satu hal: mengajak kita menolak takut pada ketidak-tahuan.

Banyak tulisan yang mengupas hubungan kertas dan peradaban, dan menegaskan kertas sebagai medium penyimpan dan penyebar wacana yang amat berjasa ribuan tahun. Namun, era melimpahnya kertas hari ini belum juga mampu membuat kita menjadi masyarakat yang menolak takut atas ketidaktahuan.

Jangan sampai kita bicara kebangkitan peradaban namun lupa esensi kebangkitan itu sendiri: kegigihan dan keberanian untuk menggali, menguji, dan menguak kebenaran. Hubungan antara ganja, kertas, dan ketakutan-ketakutan yang kita dapatkan dari tulisan ini, cukuplah menjadi pelajaran berharga, bahwa ketidak-tahuan membuat kita miskin peradaban meski kertas ilmu begitu melimpah.