Pernyataan seorang mantan kombatan IDF Israel yang sekaligus seorang dokter dan tukang sunat (mohel) pada prosesi penyunatan (brit milah), Letnan Yosef Glassman: ada hubungan erat antara tanaman kontroversional ini dengan akar ajaran Yahudi kuno.

Tanaman yang dimaksud adalah ganja. Tanaman yang mempunyai nama latin cannabis sativa atau cannabis indica ini adalah tumbuhan budi daya penghasil serat.  

Namun, lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya; tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab).

Pernyataan sang Letnan dibenarkan oleh seorang rabbi ultraortodoks, Rabbi Chaim Kanievsky, yang mengatakan: bagi para warga Yahudi yang sedang menjalani perayaan Pesach (Paskah), diperbolehkan untuk mengonsumsi ganja. Anda dapat saksikan tayangan prosesi pemberkatan dan pernyataan tentang daun ganja tersebut di sini.

Pada kitab Keluaran 30:23-25, dalam bahasa Yunani “kaneh bosm” (ganja), juga disebut-sebut sebagai salah satu bahan yang digunakan Moses untuk menyucikan 10 perintah Tuhan. Pohon ganja yang bisa mencapai tinggi empat meter dengan batang bercabang ini juga sudah menjadi bagian dari kebaktian di sebuah gereja beraliran Lutheran, The International Church of Cannabis (gereja internasional ganja).

Tidak cukup sampai di situ saja, pohon yang mempunyai jumlah daun dalam tiap tangkainya selalu dalam jumlah ganjil ini, membuat komunitas gereja itu, dengan bangga menyebut dirinya dengan Elevasionis, atau komunitas Lutheran yang menggunakan ganja untuk kegiatan spiritual serta menganggap ganja dapat membawa pengaruh positif dalam kehidupan.

Memang sungguh fenomenal tanaman yang satu ini. Pohon berbunga dan mempunyai biji berwarna kecoklatan mengkilap ini juga mengandung minyak. Mungkin dengan penelitian lebih lanjut, ganja bisa dijadikan salah satu sumber minyak alternatif.

Perkembangan Gereja Internasional Ganja ini sungguh pesat. Berbasis kebebasan dan toleransi, mereka mampu dan berhasil menjalankan misinya. Bagi mereka, menyiapkan tempat bagi orang dewasa dari segala penjuru dunia guna berkumpul bersama, bergotong-royong  menciptakan versi terbaik kehidupan, adalah sebuah bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Taoisme di Cina juga pernah tercatat dalam hal penggunaan ganja dalam upacara keagamaan mereka. Mereka menganggap ganja sebagai “pembebas dosa” selama beberapa waktu. 

Seorang necromancer (dukun orang mati) menggunakan ramuan alami untuk membuat dupa dari tanaman ganja dengan campuran ginseng untuk mempercepat proses dilatasi waktu dan melihat masa depan.

Pada abad pertama Masehi, para pengikut Taoisme menggunakan bibit ganja pada pembakar dupa untuk keperluan bermeditasi. Mereka percaya bahwa efek ganja memberi mereka peningkatan kesadaran spiritual.

Minyak biji ganja juga merupakan bahan oinment (pelumuran dengan minyak) yang dapat dengan mudah diserap oleh kulit guna meringankan dampak glaukoma, penyakit kulit, dan nyeri haid. 

Bagi dunia medis, tanaman ganja banyak menyumbangkan manfaatnya, salah satu fungsinya adalah sebagai analgesik (penahan rasa nyeri), obat antimuntah, peringan inflamasi, pencahar, neuralgia (penahan rasa nyeri di saraf), penambah nafsu makan bagi pasien kemoterapi dan ODHA, menyembuhkan rematik, kolera, asma, tetanus, bronkitis, epilepsi, migrain, sampai kanker.

Rastafarian dan beberapa Gnostik modern percaya bahwa Pohon Kehidupan yang dimaksud dalam Alkitab: daun dari Pohon Kehidupan adalah untuk menyembuhkan bangsa-bangsa; adalah mengacu pada tanaman ganja.

Dalam khazanah sufisme Islam, ada yang mengambil pandangan dan kebijakan bahwa di dalam sebuah perasaan dan pikiran yang gembira, seseorang dapat lebih dekat dengan Tuhan. Fenomena ini menjadi bahan penelitian beberapa ahli.

Beberapa tulisan "pedas", semisal pada Essays in Islamic Heresy, Peter Wilson mengatakan: ganja telah menginspirasi beberapa penganut yang menyatakan bahwa keadaan mental di mana (dalam) Alquran telah diasosiasikan dengan anggur surga, yang tidak menyebabkan pusing dan meningkatkan permainan cinta dengan bidadari dan kesenangan bersama pria-pria Cawan.

Kemudian dalam buku The Assassins; Holy Killers of Islam, Edward Burman mengatakan: Hashish (ganja) memiliki kepentingan kuno dan diterima dalam sejarah mistisisme Persia, yang secara tradisional telah digunakan bukan sebagai stimulan, namun sebagai euforia rohani, menghasilkan ketenangan jiwa yang dikenal sebagai Keyf atau Kaif, yang diterjemahkan sebagai pesta, rekreasi atau kenikmatan yang tenang. 

Beda lagi dengan Hinduime, sejarah panjang penggunaan ganja yang terkait dengan agama Hindu tercatat sejak sekitar 1500 SM. Ganja sering dikonsumsi dalam bentuk minuman yang disebut Bhang, yaitu minuman yang dicampur dengan rempah-rempah, susu dan gula. 

Bhang diminum pada saat upacara Baisakhi Holi, yaitu sebuah festival agama Hindu. Tanaman ganja dikaitkan dengan dewa Siwa, dan banyak pengikut aliran sekte Shiavites menghisap ganja dengan menggunakan pipa tanah liat yang disebut chillums. Mereka meyakini bahwa ganja menjadi hadiah dari Siwa untuk membantu manusia mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi.

Prinsip-prinsip agama Buddha pada dasarnya menentang segala sesuatu yang mengandung toksin. Namun, banyak sekte Buddhisme di Cina yang juga menggunakan ganja dalam ritual-ritual mistis sejak abad ke-5 SM. 

Meditasi dengan konsep clouds of smoke juga menggunakan media ganja sebagai sarana untuk meningkatkan konsentrasi dan perbaikan pernafasan. Sebagaimana tentang glossolalia yang saya tulis kemarin, ganja juga menciptakan kegembiraan yang bisa jadi meningkatkan level glossolalia sebagai salah satu bentuk komunikasi spiritual yang pernah ada di muka bumi. 

Sepertinya, diskursus ganja dalam peribadatan, ataupun penggunaannya untuk keperluan lain, mirip dengan perang dagang antara rokok melawan farmasi. 

Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) berkata: bahwa sesungguhnya kampanye antirokok itu adalah cerminan dari adanya perang bisnis antara perusahaan farmasi dengan perusahaan nikotin. Dan saat ini, yang sedang mendominasi dan menguasai perang dagang ini adalah industri farmasi. Itu sebabnya, di mana-mana banyak terjadi kampanye antirokok.

Dalam suatu ceramahnya yang lain, Cak Nun juga menyatakan bahwa sesungguhnya tembakau itu banyak manfaat, antara lain adalah untuk menyembuhkan asma dan kanker dengan cara yang mudah dan murah.

Riset kecil-kecilan juga pernah saya lakukan. Pengaruh ganja dalam kegiatan summit attack (muncak) dalam sebuah pendakian gunung. Ganja diaplikasikan pada responden yang berstatus sebagai perokok putihan ber-merk ala koboi yang sebelumnya bukan "pemakai".

Aplikasi dilakukan pada ketinggian di atas 2500 meter di atas permukaan laut, dalam bentuk lintingan sejumlah 5 linting kecil. Wilayah aplikasi adalah trek terjal serta berbahaya bagi pendaki yang lemas, hilang kesadaran, takut ketinggian atau apa pun yang sifatnya tidak atau mempunyai nilai kewaspadaan kecil. 

Hasil terakhir, pada linting terakhir (ke-5), kesadaran dan kontrol sistem saraf somatik dan otonom responden masih baik-baik saja. Artinya, berhasil summit tanpa kendala atau halangan apa pun, termasuk tanpa adanya hilang kesadaran ataupun kecelakaan akibat kontrol saraf yang terganggu. 

Responden mengatakan: sama saja efeknya dengan rokok putihan saya ini, cuma ya gitu, agak lapar.