Kecemasan dialami oleh semua orang dalam perjalanan kehidupannya. Kecemasan adalah hal yang lumrah dialami individu, terutama saat ia merasa tertekan dalam hidupnya. Kecemasan dapat timbul dengan sendirinya atau munculnya tergabung disertai gejala-gejala dari berbagai gangguan emosi yang lain (Ramaiah, 2003).

Kecemasan atau anxiety adalah respon manusia terhadap ancaman atau bahaya. Menjelaskan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Nevid et al., 2014). 

Kecemasan menurut psikologi islam 

Kecemasan sendiri menurut kajian psikologi islam, merujuk di dalam Al-Qur’an dijelaskan sebagai emosi takut. Abdul Hasyim dalam Cahyandari, 2019 menjelaskan bahwa kata khassyah dan derivasinya dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 39 kali. 

Takut disini lebih kepada arti takut kepada Allah SWT, takut akan siksa, takut tidak mendapatkan Ridha-Nya. Dalam ayat Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah 155 juga dijelaskan bahwa manusia akan diuji dengan ketakutan yang arti ayatnya adalah sebagai berikut:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al-Baqarah: 155)”.

Gejala – gejala kecemasan 

Gejala fisiologis: jantung berdebar, sesak nafas, berkeringat, nyeri dada, menggigil, gemetar, mulut kering dan pingsan.

Gejala afektif yaitu meliputi mudah tersinggung, gugup, gelisah dan tegang. Respons perilaku yang biasanya berkaitan dengan gangguan kecemasan adalah kecenderungan menghindari situasi yang mengancam, mencari perlindungan, dan kesulitan bicara (Clark & Beck, 2011).

Gejala fisik yang sering muncul secara intensif jika individu mengalami kecemasan seperti mengeluarkan keringat dingin, irama detak jantung lebih cepat (berdebar-debar), sakit kepala, tekanan darah mengalami kenaikan, susah tidur, gelisah, dan gejala lainnya (Sarwono,2017).

Gail W. Stuart (2013) mengelompokkan gejala kecemasan dalam respons perilaku, kognitif, dan afektif. Respons perilaku, di antaranya gelisah, ketegangan fisik, tremor atau gemetar, bicara dengan cepat, menarik diri dari hubungan interpersonal, melarikan diri dari masalah, hiperventilasi, dan kewaspadaan yang berlebihan.

Respons kognitif di antaranya perhatian yang mudah terganggu, konsentrasi yang buruk, kecenderungan melupakan sesuatu, hambatan berpikir, menurunnya jangkauan persepsi, kreativitas dan produktivitas, mudah bingung, kehilangan objektivitas, timbulnya perasaan takut kehilangan kontrol, ketakutan yang tidak wajar, meningkatnya frekuensi kilas balik, dan mengalami mimpi buruk (Gail W. Stuart, 2013).

Macam macam kecemasan 

Kecemasan menurut Sigmend Freud dibagi menjadi 3 macam, yaitu :

a. Kecemasan Objektif

Kecemasan objektif adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia external (dunia luar). Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya.

b. Kecemasan neurotis (Saraf)

Kecemasan neurotis adalah kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah. Sigmend Freud sendiri membagi menjadi 3 bagian :

1. Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri sendiri dengan lingkungan.

2. Bentuk ketakutan yang tegang dan irasional contohnya phobia.

3. Reaksi gugup atau setengah gugup. Reaksi ini datang tiba-tiba tanpa ada provokasi yang tegas.

c. Kecemasan moral.

Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nurani sendiri. Orang yang hati nuraninya berkembang baik cenderung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya.

Faktor penyebab kecemasan 

Kecemasan bisa berasal dari faktor internal dan eksternal seseorang, menurut Ramaiah, 2003 menjelaskan bahwa Faktor pertama yakni  Lingkungan dimana kita tinggal memberi warna pola berpikir seseorang mengenai diri sendiri ataupun orang lain.

Faktor kecemasan menurut Adler dan Rodman menyatakan terdapat dua faktor yang menyebabkan adanya kecemasan yaitu pengalaman yang negatif pada masa lalu yang dipikirkan yang tidak rasional.

1. Pengalaman negatif pada masa lalu

Pengalaman ini merupakan hal yang tidak menyenangkan pada masa lalu yang akan terulang lagi pada masa mendatang, apa bila individu tersebut menghadapi situasi atau kejadian yang sama dan tidak menyenangkan.

2. Pikiran yang tidak rasional

Para psikologi memperdebatkan bahwa kecemasan terjadi bukan karna suatu kejadian, melainkan kepercayaan dan keyakinan tentang kejadian itulah yang menjadi penyebab kecemasan.

menurut dan kuncoro yang dikutip oleh Endang Haryanti menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan antara lain tingkat pendidikan, pengalaman yang tidak menyenangkan dan dukungan sosial, sedangkan menurut Nevik, Dkk, kecemasan dipengaruhi beberapa faktor yaitu :

1. Faktor sosial lingkungan

Pemaparan terhadap peristiwa yang mengancam atau traumatik, mengamati respon takut pada orang lain dan kurangnya dukungan sosial.

2. Faktor biologis

Meliputi jalur otak yang memberikan sinyal bahaya atau yang repetatif.

3. Faktor behavioral

Meliputi pemasangan stimuli aversif dan stimuli yang sebelumnya netral, kelegaan dari kecemasan karena melakukan ritual konpulsif atau menghindari stimuli fobik dan kurangnya kesempatan untuk pemunahan karena penghindaran terhadap objek atau situasi yang ditakuti.

4. Faktor kognitif

Faktor dalam perspektif kognitif adalah para peran dari cara berpikir yang disfungsional yang mungkin memegang peran pada pengembangan gangguan kecemasan, faktor ini meliputi konflik psikologis yang tidak terselesaikan.

Referensi 

Sany, U. P. (2022). Gangguan Kecemasan dan Depresi Menurut Perspektif Al Qur’an. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 7(1), 1262-1278.

Nugraha, A. D. (2020). Memahami Kecemasan: Perspektif Psikologi Islam. IJIP: Indonesian Journal of Islamic Psychology, 2(1), 1-22.

FITRIYANI, N. (2018). Terapi Kecemasan Dalam Konseling Islam Menurut Dadang Hawari (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).