Ribuan penari Gandrung dikerumuni di sepanjang pantai Boom, ujung selat antara Banyuwangi dengan Bali. Ada 1314 penarinya saja, belum penonton dan para penjaja makanan yang tak bisa dihitung banyaknya.

2012, Gandrung Sewu mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia. Akan tetapi, sejarah Gandrung ternyata tak semulus kelihatannya; penuh liku-liku, stigma, dan perjuangan seniman yang sangat panjang.

Gandrung pertama kali diperkenalkan oleh seorang pria bernama Marsan sekitar 1767. Pertama kalinya dalam sejarah Gandrung ditarikan oleh para pria sebab keadaan Hindia yang memprihatinkan di masa penjajahan.

Gandrung menjadi tempat kongsi atau berkumpulnya para pelarian. Masyarakat terpaksa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Para penari gandrung berperan sebagai sekelompok orang yang mementaskan diri sehingga dapat mengumpulkan orang untuk kemudian menemukan tempat yang lebih layak dan membangun sistem kemasyarakatan yang baru.

Ketika orang berkumpul, mereka akan membentuk komunitas baru dan tinggal bersama. Masyarakat terpisah-pisah sebab terpencar diserang penjajah Belanda. Keadaan di kala itu 'kaya gabah diinteri' (bahasa Jawa) yang berarti orang terpencar-pencar tak tentu arah. Hal ini sebab pengeboman permukiman warga dengan kapal-kapal udara atau pesawat perang milik Belanda.

Di dalam cerita rakyat, Gandrung ditarikan oleh orang-orang di Blambangan ketika untuk pertama kalinya mereka membabat Hutan Tirta Arum yang kemudian menjadi ibu kota Banyuwangi (Balidelight). Asal Banyuwangi itu sendiri juga berasal dari nama hutan yang dibabat ketika itu. Artinya adalah sebuah daerah di dekat patirtan atau perairan yang harum atau wangi. 

Berbeda dengan cerita pada 1895, sejarah tarian Gandrung ini lantas berkembang dalam versinya. Salah satunya yang populer oleh hadirnya seorang anak perempuan usia 10 tahun bernama Sami pada 1895 itu yang sembuh dari sakit setelah melakukan secara rutin tarian ini sebagai upaya penyembuhan.

Ia kemudian didorong oleh keluarganya untuk menarikan Gandrung sepanjang hidupnya sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Cerita Gandrung terus berkembang dan berkembang di dalam rentang zaman. 

Lebih lanjut cerita tentang Gandrung, secara filosofis berarti segala hal berkaitan dengan kesuburan. Di tahun-tahun 1900-an hingga kini 2000-an, tarian ini banyak dipentaskan ketika musim panen. Tetapi, selain itu juga ketika Pethik Laut atau melakukan persembahan dan syukur kepada Laut yang memberi hasil melimpah pada tangkapan ikan.

Ada hal yang menarik tentang Gandrung bahwa ketika tarian ini dipentaskan hampir selalu kemudian turun hujan (Sutton, 93: 140). Tarian ini juga sering diasosiasikan dengan hujan atau semacam tarian hujan atau pemanggil hujan. Meski begitu, seiring perkembangan zaman, tarian gandrung kini juga sering pula ditarikan di acara-acara lain.

Penari Gandrung di zaman dahulu mendapatkan stigma sebagai pemain seperti penari Lengger ataupun juga berfungsi seperti Gemblak, dalam perjalanannya mendapatkan stigma di masyarakat sebagai "laki-laki atau perempuan bukan baik-baik" sebab waktu pentas yang sering kali tengah malam, dinikmati oleh orang-orang yang sangat menggemari minuman keras atau alkohol dan sebab para pemain harus pulang pagi hari dari bekerja.

Akan tetapi, seiring perkembangan zaman yang makin modern dan terbukanya media ternyata juga turut membuka perspektif masyarakat yang kemudian membuat stigma itu lambat laun hilang. Gandrung juga dipahami sebagai jembatan untuk terhubung dengan arwah leluhur. Gandrung ditarikan di acara-acara tertentu agar yang memiliki hajat dapat 'berkomunikasi' dengan spirit atau segala hal yang ia ingin terhubung dengannya di level energi atau frekuensi. 

Perkembangan media dan film makin mengikis stigma di masyarakat, seperti stigma tentang Gemblak Ponorogo dan Lengger Banyumasan yang juga berangsur hilang dari masyarakat juga lantas kemudian sukses terangkat ke ranah internasional melalui media dan film contohnya seperti film "Kucumbu Tubuh Indahku" / The Memory of my Body karya Garin Nugroho yang pada tahun ini masuk dalam nominasi Oscar untuk tahun 2020. Film ini menceritakan tentang Gemblak dan Lengger.

Gandrung pun memiliki cerita yang makin menarik setelah pemerintah daerah mengambil kebijakan melakukan promosi wisata dengan membuat acara Gandrung Sewu yang menjadi satu paket dalam rangkaian Banyuwangi Ethno Festival.

Banyuwangi cukup sukses ketika pagelaran Gandrung Sewu mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia. Di masa kini, agenda tahunan ini digarap oleh para seniman nasional dan mendapat regenerasi dari sekolah-sekolah di seluruh regional tapal kuda sebab setiap tahun mereka mengirim perwakilan ke acara Gandrung Sewu.

Baca Juga: Tarian Belati

Maka dari itulah, kini, para penari Gandrung Sewu terdiri dari tidak hanya dewasa tetapi siswa SD, SMP, dan SMA juga perguruan tinggi. Kini sanggar-sanggar Gandrung juga banyak berdiri. Kini Gandrung Sewu makin ditunggu oleh wisatawan domestik dan luar negri serta seniman-seniman etnik nasional. 

Kini Gandrung telah go internasional hingga ke Jerman, Malaysia, Prancis, Hongkong, Brunei Darussalam, dan Jepang. Di tahun 2018, Gandrung ditampilkan di Indonesia Fair (RIF) 2018 di Chicago. Acara ini didukung oleh Kementerian Luar Negeri (Kompas, 2018).

Referensi:

  • David D. Harish. 1954. Bridges to the Ancestors Music Myth and Cultural Political at an Indonesian Festival. University of Hawai. 
  • Kompas.com. 2018. Juli 2018 Tari Gandrung Banyuwangi Tampil di AS. Jakarta.