Film yang dibuka dengan sorotan kamera pada detik ke-50 pada gantungan cucian berupa kaos kaki sport pria yang mulai menggeliat merek Asics, perusahaan sepatu lari dari Jepang.

Sorotan ini cukup lama dan, walaupun kurang jelas, saya mampu membaca mereknya. Dan, baru tahu juga bahwa merek itu merupakan singkatan dari kalimat Bahasa Latin Anima Sana in Corpore Sano (Asics) yang diterjemahkan sebagai: dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Oh, God!

Dari sorotan kamera pembuka saja sudah ingin menunjukkan dunia tentang menggeliatnya Asia. Termasuk film Parasite Korea Selatan yang baru saja menyabet penghargaan Piala Oscar di Academy Award 2020. 

Sorotan “kejam” selanjutnya adalah tentang sebuah medali kejuaraan tolak peluru wanita yang dieksos secara jelas di meja pajangan rumah semi-basemant yang sempit dan tak layak huni tersebut. 

Ini merupakan satir atas “kejamnya” sindiran sang istri yang womdom (woman domination) terhadap suaminya yang malas-malasan untuk merespon sinyal Wi-Fi tumpangan/gratisan yang dalam film ini diistilakan "bonteous Wi-Fi" yang tiba-tiba saja menghilang. Terlebih merespon terhadap kesulitan ekonomi keluarga mereka.

Film Parasite (2019) memborong empat penghargaan di Academy Awards atau Oscar 2020, di antaranya adalah Skenario Asli Terbaik (Best Original Screenplay) hingga Best Picture.

Kemenangan telak ini tentunya ini membuat penggemar film-film Korea makin berjingkrak kegirangan. Dan, ini membuat saya pribadi muram. Sebenarnya saya kurang suka film Korea, apa bagusnya? Film drama dan musiknya yang melankolis dan girly itu?

Se-ilfeel film semi-dewasanya yang kultur urban dan tak jauh dari kehidupan sosialita, hedonisme dan tentu perselingkuhan. Dan,  selalu dipenuhi poles wajah, tumpukan silikon, hingga manipulasi tatarias wajah. Inilah yang membuat film semi di Korea menjadi bagian dari budaya populer yang bak virus yang mewabah.

Namun, setelah ada berita kemenangan film Parasite (2019) yang cukup menggemparkan insan perfilman tersebut di atas, rasa penasaran memicu untuk meresensi film Korea yang berdurasi 2 jam lebih ini dan dibesut oleh sutradara Bong Joon Hoo.

Apakah setelah nonton film Parasite (2019) mindset saya tentang film Korea bakal berubah 180 derajat? Ini adalah pertama kali saya meresensi film Korea.

Dari genrenya saja adalah komedi hitam yang mencekam (black comedy thriller). Dan, tentunya ini berjenjang alias lintas genre. Memang cukup berat menganalisis lintas genre, sebab pasti ada yang “dikoyak” dan banyak “irisan” yang harus diperhatikan.

Kritikus sastra seperti Blake Hobby di University of North Carolina mengaitkan komedi hitam atau komedi gelap dengan Aristofanes, bapak komedi Yunani Kuno.

Karya Aristophanes ditandai dengan kecerdasan yang masam, mata politik tajam, dan kecenderungan pada lelucon serta sindiran. Drama Aristophanes juga menampilkan banyak norma kesusilaan, dan dramanya sering tegang serta agresif, mendorong orang untuk merespon.

Aristophanes menggunakan dramanya untuk mengomentari isu-isu seperti perang, sistem pendidikan Yunani, dan masyarakat Yunani. Apakah film Parasite (2019) sudah membawa misi Aristophanes yang antiperang itu?

Beberapa orang menyebut Aristophanes sebagai “Bapak Komedi” atau “Prince of Ancient Comedy,” mengacu pada fakta bahwa dramanya merupakan karya komedi paling awal yang masih bertahan.

Komedi hitam ini sering membuat sorotan terhadap materi yang dianggap serius atau tabu.

Dan, film Parasite (2019) memberikan porsi tersebut dengan adegan-adegan bergaya “hack a day” dan gaya “wannabe” penuh manipulatif dan intrik sebagai bahan bakar parasit yang siap gerogoti inangnya.

Tentang basement atau dalam KBBI disebut dengan istilah rubanah kumuh, serangga, makanan sampah, sindiran peringkat penderita penyakit pernafasan Korea dan lainnya. 

Wajib milter Korea yang disindir dengan padanan pendidikan Pramuka, yang nyatanya tak mampu membuat kedisiplinan anak keluarga kaya tersebut.

Kemudian adegan-adegan konyol namun mematikan seolah akan memencet tombol nuklir Korea Utara pada tayangan di paruh waktu tayangan. Padahal hanya tombol send telepon pintar yang siap mengirim video konspirasi licik keluarga parasit tersebut.   

Parasite (2019) yang berjudul asli Gishaecung, bisa dibilang salah satu masterpiece dalam sejarah perfilman Korea dengan mendapat rating 8,5/10 dari imdb, dan 99% dari Rotten tomatoes.

Gi Taek (Song Kang Ho) dan keluarganya yang semuanya adalah pengangguran. Dia tinggal bersama istrinya, Choong Sook (Jang Hye Jin), anak laki-lakinya Ki Woo (Choi Woo Shik) dan anak perempuan Ki Jung (Park So Dam). Ki Woo membawa temannya, Min Hyuk (Park Seo Joon) dan minum-minum bersama.

Ki Woo juga mengetahui bahwa Min Hyuk akan belajar ke luar negeri dan dia akan meninggalkan pekerjaannya sebagai tutor pribadi yang memiliki gaji yang tinggi. Min Hyuk ingin Ki Woo mengambil alih pekerjaannya sebagai tutor sementara dia berada di luar negeri untuk belajar.

Akhirnya, Ki Woo mulai bekerja sebagai tutor untuk anak perempuan dari keluarga kaya, yaitu anak dari tuan Park (Lee Sun Gyun) dan istrinya Yeon Gyo yang diprankan Cho Yeo Jeong), artis film dewasa Korea yang tenar lewat film semi The Servant (2010) dan The Concubine (20120.  

Dari sinilah sifat parasit itu bermula. Kejam, dengan memanfaatkan teknologi untuk hack a day dan wannabe mode on tanpa sertifikasi resmi alias bodong dalam rencana dan usaha soft occupacy dari keluarga Park yang kaya.

Menurut saya, film ini terkesan biasa-biasa saja. Saya hanya tertarik pada beberapa petikan percakapan yang menunjukkan pentingnya sebuah perdamaian, antiperang, silogisme satir kesenjangan sosial, cinta buta dan kebebasan seperti di bawah ini. 

Ki-taek: She's rich, but still nice.
Chung-sook: Not "rich, but still nice." She's nice because she's rich. Hell, if I had all this money. I'd be nice, too!

Ki-taek: Rich people are naive. No resentments. No creases on them. 
Chung-sook: It all gets ironed out. Money is an iron. Those creases all get smoothed out.

Dong-ik: My wife has no talent for housework. She's bad at cleaning, and her cooking's awful. 
Ki-taek: Still, you love her, right?
Dong-ik: Of course, I love her. We'll call it love

Kun-sae: It’s funny. Your phone. It’s like a nuclear button.
Mun-kwang: What are you talking about?
Kun-sae: They all hide their tails when you say you’ll press the button.You’re like North Korea. The phone is Kim Jong-Un’s nuke!