Pembelajar
4 minggu lalu · 161 view · 4 min baca · Sejarah 13605_62223.jpg
Foto: rimgato.pw

Gambaran Lain Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Sebagaimana diketahui, dalam Sejarah Peradaban Islam, perkembangan ilmu pengetahuan mencapai titik puncaknya ketika kekuasaan Islam berada pada masa Abbasiyah yang mulai berdiri tertanggal 26 April 750 Masehi.

Mengapa bisa?

Peralihan kekuasaan

Kekuasaan Abbasiyah hadir untuk menggantikan Umayyah dan mengembalikan tampuk kekuasaan Islam ke tangan Bani Abbas.

Kekuatan yang mendukung gerakan Bani Abbas disokong oleh tiga kekuatan utama. Samsul Amir menyebutkan itu; pertama adalah wilayah Humaimah, yakni tempat bermukimnya keluarga Bani Hasyim, baik dari kalangan pendukung Ali ataupun pendukung keluarga Abbas.

Kedua, wilayah Kuffah merupakan tempat bermukimnya para penganut Syiah yang selalu bergolak di tengah-tengah kekuasaan Bani Umayyah. Dan ketiga, merupakan wilayah Khurasan. Di ketiga tempat inilah Abbasiyah mendapat dukungannya sebagai oposisi tatkala Umayyah sedang berkuasa.

Dengan kata lain, kekuatan oposisi Abbasiyah terjalin antara kelompok Sunni, Syiah, dan orang Islam/bukan Islam yang non-Arab.

Bukan tanpa alasan tiga kelompok itu ikut andil dalam oposisi Abbas. Sebab sejak awal, pemerintahan Umayyah tampil dengan warna kearabannya yang kental, sehingga persamaan hak antara bangsa Arab dengan bangsa yang non-Arab terlihat cukup renggang.


Abu A’la Almaududi mendeskripsikan itu dalam bukunya berjudul Khilafah dan Kerajaan.

Misalnya penerapan kebijakan jizyah, yakni pajak yang seharusnya ditetapkan pada orang-orang non-Muslim dibebankan justru pada orang yang baru memeluk Islam dari non-Arab. Pelarangan bagi bangsa ajam (muslim non Arab) untuk mengimami salat berjemaah di Kota Kuffah. Pada orang-orang Irak, misalnya, agar membuat stempel (tanda) di tangan mereka untuk memilahkan mereka dari bangsa Arab.

Selain itu, apabila ada Arab Muslim hendak mengawini seorang muslim nonArab, maka ia harus meminta pertimbangan bukan kepada ayah atau famili wanita tersebut, melainkan harus meminta izin dari keluarga Arab dengan siapa keluarga si wanita itu “menikmati” hubungan perwaliannya.

Atas penerapan berbagai kebijakan tersebut, kelak memunculkan dua fenomena yang menarik, utamanya ketika Umayyah berada pada akhir kekuasaannya.

Pertamamunculnya perasaan dari orang-orang ajam (muslim non-Arab), yakni kecenderungan shu’ubiyah atau chauvanisme non-Arab. Perasaan inilah yang kemudian digunakan oleh para aktivis Abbas.

Hal tersebut tampak jelas terlihat dalam propaganda yang dilakukan oleh para aktivis Abbas, yakni Al Musawah (persamaan kedudukan) dan Al Ishlah (perbaikan). Artinya, kembali kepada ajaran Alquran dan Hadis.

Tema propaganda ini amat menarik di kalangan muslim, baik Arab ataupun non-Arab saat itu. Sebab, sebagaimana telah ditulis sebelumnya, Umayyah tampil dalam gelanggang Sejarah Peradaban Islam dengan warna kearabannya yang kental. 

Sehingga, pada akhirnya oposisi aktivis Abbas berhasil menaklukan Damaskus (Ibu kota Umayyah) pada tanggal 26 April 750 Masehi.

Kedua, hubungannya yang erat bahkan ketika awal pendiriannya, kekuasaan Abbasiyah terikat dengan Muslim non-Arab, yakni orang-orang Iran, Syiria, dan mesir yang notabene telah memiliki peradaban dan warisan (heritage).

Dan karena itu, meski bukan satu-satunya alasan, kekuasaan Abbasiyah tampil dalam panggung Sejarah Peradaban Islam yang dikenal atas kemajuan pengetahuan dan kehidupan intelektualnya.

Hubungan 

Apabila dilihat dari karakteristik khalifah pada waktu itu, Imperium Islam yang ditandai dengan dilakukannya serangkaian penaklukan wilayah di luar Makkah dan Madinah ke berbagai daerah di timur tengah bahkan kelak Eropa (Andalusia) adalah ciri yang begitu melekat diketahui.

Maka, asumsi yang pada dasarnya Muslim adalah Arab sedikit demi sedikit mulai hilang trennya, karena orang-orang non-Arab pun mulai mengenal bahkan memeluk agama Islam dalam jumlah yang banyak.


Hal tersebut sesuai dengan studi Profesor R. Bulliet tentang konversi penduduk non-Arab yang memeluk Agama Islam. Dikatakan bahwa antara periode 800-1000 Masehi mulai terjadi arus perpindahan agama dari orang-orang Iran, Syiria, Mesir.

Dengan terjadinya pembauran itu, boleh jadi tampak juga dalam bercampurnya peradaban (silang budaya) yang sejatinya telah dimiliki oleh bangsa pra-Islam.

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Nurholish Madjid, masyarakat Islam utamanya periode 800-1000 masehi (Abbasiyah) merupakan “kaum universalis dan kosmopolitan sejati”. Suatu gambaran kaum yang melihat diri mereka sebagai bagian dari kemanusiaan dan warga kemanusiaan.

Pertanyaanya, sikap apa yang hendak diambil oleh umat Islam sebagai bagian dari kewarganegaraan dunia pada waktu itu?

Masyarakat Islam pada periode 800-1000 masehi mengambil sikap untuk lebih mengenal dan mempelajari warisan terdahulu. Tampaknya ada antusiasme awal yang besar terhadap berbagai hasil budaya di sekitaran mereka. Motif yang mendasarinya adalah kebutuhan untuk "berdebat".       

Bagaimanapun, tujuan ekspansi Islam bermuara akan adanya suatu peningkatan jasmani dan rohani sebagaimana risalah yang dibawa Nabi Muhammad. Merupakan suatu keheranan, misalnya, ketika Islam sebagai peradaban yang baru itu tidak mampu membela dirinya sendiri dengan tingkat kecanggihan dan keahlian yang sama dengan peradaban yang telah ada sebelumnya.

Bentuk historinya, sebagaimana sering dipahami dalam pelajaran di sekolah ataupun kampus, tampak dalam proyek penerjemahan karya-karya klasik misalnya. Perlu diketahui, penerjemahan ini tidak diartikan secara literal semata, melainkan gambaran utuh dan berulang tentang tesis-antitesis hingga ditemukan sintesis.

Dengan kata lain, ada upaya kreatif para penerjemah untuk menemukan kekurangan dari karya-karya klasik sehingga terciptalah karya baru yang orisinal.

Dukungan politik dari khalifah Abbasiyah yang mencintai pengetahuan menjadi daya sokong lain dalam pesatnya perkembangan pengetahuan pada masa itu. Misalnya saja, sebut Bait Al Hikmah (rumah kebijaksanaan) atau upah yang menggiurkan bagi para penerjemah dan lain sebagainya.

Singkatnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan intelektual pada waktu itu terjalin sebagai kerja sama yang baik semua pihak. Dan, tentu karena tidak melupakan warisan akan masa lalu.

Hikmah (kebijaksanaan) wisdom adalah barang hilangnya kaum beriman, maka siapa saja yang mendapatinya pungutlah ia. Gambaran itu benar tercermin dalam kehidupan intelektual masyarakat Islam pada tahun 800-1000 masehi.

Suatu gambaran betapa semangat mengenai ajakan tentang pentingnya mencari ilmu dari buaian sampai liang lahat, atau ajakan tuntutlah ilmu sampai negeri China benar terealisasi.

Artikel Terkait