Ada pepatah mengatakan, "Jasa seorang guru yang baik itu ibarat lilin, membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan orang lain." Tapi, apakah tega lilin membakar lilin lainnya?

Setidaknya pertanyaan tersebut yang tebersit di dalam benak saya setelah membaca pernyataan Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendy, dalam acara Hari Guru Internasional 2019 pada tanggal 10 Oktober di Graha Utama Kemendikbud.

“Saya ‘agak’ yakin bahwa orang yang pertama masuk surga itu adalah guru. Kalau sekarang gajinya sedikit, apalagi kalau honorer (gajinya) seratus lima puluh ribu. Nikmati saja, nanti masuk surga.” (detik)

Mendengar kata surga dengan segala keindahannya memanglah menjadi harapan bagi hampir semua umat beragama. Cerita tentang bidadari, makan dan minuman terenak, sungai yang jernih dan memiliki rasa, bahkan hingga harumnya tanah memang akan membuat kita dapat membayangkan betapa nikmatnya hidup di surga kelak setelah hari kiamat. 

Namun, apakah itu satu-satunya cara para guru honorer untuk berbahagia? Tidak adakah cara guru yang sering kita sebut sebagai pahlawan ini menikmati hidupnya dengan bahagia selama di dunia?

Yang terhormat Bapak Muhadjir, mungkin bapak lupa, pada tahun 2017, bapak sendiri yang menyerukan tema hari pendidikan dengan tema “Percepatan Pendidikan yang Merata dan Berkualitas”. 

Kita semua tahu, bahwa cepat, merata, dan berkualitas adalah kata-kata yang dapat bersinggungan dengan adanya biaya yang besar, termasuk gaji seorang guru yang merupakan garda terdepan yang berhadapan langsung dengan objek pendidikan Indonesia.

Yang terhormat Bapak Muhadjir, mungkin bapak lupa, yang menentukan seseorang masuk surga adalah amalnya, bahkan pelajaran ini bukan hanya ada di agama Islam. Tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan bahwa untuk masuk surga itu harus mendapatkan gaji kecil terlebih dahulu.

Yang terhormat Bapak Muhadjir, entah bapak sedang bercanda atau tidak, tapi para guru honorer yang setiap bulannya harus menerima pahitnya slip gaji bukanlah bahan bercandaan bagi bapak yang hidup di menara gading sana. 

Setiap hari harus bergelut dengan segala macam hiruk pikuk kehidupan sekolah dengan segala administrasi, kegiatan belajar mengajar, dan dinamikanya, bukanlah menjadi hal yang mudah untuk menerima kenyataan pahit untuk menerima gaji bahkan hanya dikisaran 1% dari gaji bapak atau 10% jika beruntung.

Yang terhormat Bapak Muhadjir, entah bapak dalam keadaan sadar atau tidak ketika berucap. Tapi, guru honorer yang setiap hari mengajar harus selalu dalam keadaan sadar untuk tetap tegar dalam mengajar di depan kelas. Bapak-ibu guru honorer tidak dapat memberikan sekadar ucapan-ucapan penenang kehidupan di hadapan muridnya, akan tetapi meraka harus tetap tersenyum dan memberikan pengajaran semampu yang mereka bisa.

Yang terhormat Bapak Muhadjir, ayolah, sampai kapan polemik tentang pahitnya kehidupan guru honorer di Indonesia terus berlanjut? 

Pak Muhadjir diangkat menjadi Menteri bukan untuk bercanda, melainkan memberikan solusi bagi guru yang semasa hidupnya harus menerima gaji ratusan ribu. Pak Muhadjir diangkat menjadi Menteri bukan untuk sekedar berkata, tapi untuk menjadikan guru yang dimanusiakan.

Yang terhormat Bapak Muhadjir, sampai kapan cerita seperti Ibu Nining Suryani, seorang guru honorer di Pandeglang yang bahkan tidak dapat membayar kontrakan dan terpaksa tinggal di toilet sekolah tetap ada di negeri ini? Sampai kapan cerita tentang guru yang tiap bulannya ketakutan karena tidak mampu membayar hutang akan terus ada di negeri ini? 

Sampai kapan cerita seorang guru yang menahan lapar karena harus menunggu 3 bulan sekali untuk menerima gaji yang besarannya hanya ratusan ribu akan tetap ada di negeri ini? 

Guru honorer tidak hanya membutuhkan harapan di akhirat saja, tapi perut mereka juga perlu di isi, anak dan istri mereka perlu dinafkahi, dahaga mereka perlu dicukupi, dan yang paling terpenting adalah keringat mereka perlu dihargai, sehingga mereka akan dapat hidup tenang tanpa memikirkan hal-hal yang dapat mengacaukan fikiran mereka sehari-hari.

Saya sendiri sudah mulai jengah dengan kata-kata “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”, seakan guru adalah profesi yang harus selalu ikhlas tanpa harus memikirkan kesejahteraannya. Surga dan neraka mungkin saja buah dari kesabaran seorang guru honorer selama di dunia. Tapi, kesejahteraan seorang guru akan membuat hidupnya lebih tenang tanpa adanya keluhan sedikit pun di dalam hatinya.

Jika surga adalah jawaban dari tangisan para guru honorer di dunia, maka untuk apa lagi ada Bapak Muhadjir sebagai Menteri Pendidikan di negeri ini? Pak, tolonglah turun dari menara gading dan rasakan pahitnya menjadi guru honorer. 

Terakhir, Pak Muhadjir seharusnya menjadi panglima yang mendengar dan menyuarakan nasib dari para pion-pion kecilnya, bukan malah membiarkan mereka tetap menjadi lilin yang terbakar begitu saja tanpa penghargaan.