Memiliki pasangan hidup yang sesuai dengan keinginan hati merupakan idaman setiap orang. Pasangan yang saling memahami satu sama lain, baik dalam urusan rumah tangga maupun urusan lainnya.

Umumnya lelaki memegang peranan dalam memilih calon istri, meski perempuan juga tak dilarang memilih. Lalu kriteria yang umumnya diinginkan lelaki selain cantik apa sih. 

Ketika saya coba lemparkan dua pilihan kriteria calon istri, pertama pendidikannya lebih tinggi atau yang gajinya lebih tinggi, teman-teman serentak memilih yang pertama.

Meski pada dasarnya perempuan dengan pendidikan lebih tinggi berpeluang memilih gaji yang lebih tinggi pula. Lalu ketika saya tanya pilih wanita karir atau non-karir, umumnya mereka memilih non-karir.

Sementara itu penelitian yang dilakukan Yue Qian di Cina, menyebutkan bahwa, semakin tinggi pendidikan seorang perempuan semakin sulit mendapatkan pasangan hidup. Hal ini berbanding terbalik dengan pria dalam mendapatkan pasangan hidup.

Dalam penelitian itu seorang wanita berpendidikan tinggi sekaligus sebagai wanita karir. Lalu mengapa pria di Cina cenderung tidak memilih wanita karir? 

Sebabnya peran istri dalam rumah tangga adalah mengurus suami, anak, dan rumah. Suami masih dianggap pencari nafkah tunggal. Muncul pula ketakutan nantinya tugas seorang istri akan terbengkalai apabila ditambah mencari nafkah.

Saya kira pemikiran itu bukan hanya di Cina, para pria di Indonesia masih banyak yang berpikir demikian. Meski pemikiran itu lambat laun mulai tergantikan dengan pemikiran yang lebih terbuka.

Saat ini istri bekerja sudah lazim. Selain faktor ekonomi, istri bekerja mencari nafkah merupakan kesetaraan gender yang belakangan giat diperjuangkan. Wanita bukan lagi second class dalam kehidupan bernegara maupun di rumah tangga.

Karenanya istri bekerja bukan hal yang aneh lagi meski dikalangan tradisional masih ada yang menolak. Dengan alasan-alasan agama atau alasan sebagaimana pria-pria di Cina berargumen.

Kesetaraan gender dalam urusan mencari nafkah ternyata memunculkan fenomena menarik. Ada kalanya seorang istri memiliki gaji yang lebih tinggi dari suami, atau karirnya lebih hebat dari sang suami.

Dengan patriarki yang masih kuat di tengah masyarakat, istri bergaji lebih tinggi dapat menjadi persoalan rumah tangga. 

Penelitian Universitas Cornell menunjukkan pria cenderung akan melakukan selingkuh bila gaji istrinya lebih tinggi, atau istrinya lebih sukses dalam karir. Biasalah, ego laki-laki yang merasa perlu membuktikan maskulinnya, dan selingkuh menjadi pilihan.

Bahkan dalam penelitian lain disebutkan bahwa gaji istri yang lebih tinggi dapat mempengaruhi psikis seorang suami. Dapat mengakibatkan impotensi, penelitian ini tampak sedikit paradoks dengan penelitian pertama.

Meski sebenarnya tidak, selingkuh pada penelitian pertama bukan pada orientasi seks. Namun lebih pada keinginan menunjukkan maskulinitas. Lebih pada bentuk merasa gagal atas kesuksesan sang istri.

Tekanan batin itu yang kemudian dapat mengganggu urusan ranjang. Disfungsi seksual yang pada akhirnya akan menggangu kehidupan rumah tangga.

Karenanya perlu sebuah pemahaman bersama bahwa lelaki memang bertanggung jawab atas nafkah keluarga. Namun bukan berarti istri tak boleh bekerja dan kalau pun bekerja bukan berarti tidak boleh memiliki gaji yang lebih tinggi.

Saya menilai kesama pahaman pasangan dalam melihat persoalan ini harus dimulai sejak awal pernikahan. Harus dikomunikasikan terlebih dahulu. Agar tidak muncul persoalan serius di masa mendatang.

Istri yang berpenghasilan lebih tinggi sebaiknya tetap bersikap wajar. Tetap menerima uang yang diberikan suaminya. Jangan pernah menganggap sepele sekecil apapun pemberian nafkah dari suami.

Hindari sikap arogan karena gaji yang lebih tinggi dari suami. Tetap hormat pada suami serta semaksimal mungkin menjalankan tugasnya sebagai seorang istri maupun ibu.

Suami juga tak boleh memaksakan istri seperti istri orang lain yang tak bekerja di luar rumah. Pembagian tugas rumah tangga menurut saya dan agama tidak akan menjatuhkan marwah seorang suami.

Membersihkan rumah dan mengurus anak menurut saya bukanlah tugas istri semata. Suami punya tanggung jawab yang sama, anak adalah amanah untuk orang tua bukan istri saja. Yang artinya suami sebagai kepala rumah bertanggung jawab atas pertumbuhan anak.

Menghindari kecenderungan suami selingkuh karena penghasilan istri lebih tinggi haruslah dilakukan bersama-sama. Suami-istri harus memiliki sikap bijak melihat perbedaan itu, bahkan harusnya disyukuri bukan dimusuhi.

Iklim demokrasi yang tercipta di dalam keluarga akan menciptakan suasana harmonis. Setiap persoalan dibicarakan dan dimusyawarahkan agar mencapai mufakat. 

Mencari uang agar keluarga dapat bahagia merupakan cita-cita namun jangan sampai mengorbankan kebahagiaan yang sebenarnya. Silakan istri bekerja mencari nafkah untuk membantu suami namun jangan sampai mengorbankan ikatan kebahagiaan (suami-istri).

Konflik dalam rumah tangga merupakan hal wajar namun tidak wajar apabila konflik dibiarkan berlarut. Bicarakan dan selesaikan, raih kebahagiaan bersama. Jangan sampai gaji menjadi pengendali rumah tangga, apalagi merusak.

Istri boleh bergaji lebih tinggi namun suami tetap kepala rumah tangga, setuju?