• Gajah Mada
  • Makar Dharmaputra
  • Langit Kresna Hariadi @lkh
  • Tiga Serangkai, 2017


Saya sudah suka dan mengenal cerita tentang Kerajaan Majapahit sejak masih kecil, tapi baru kali ini saya membacanya lebih dalam. Om Langit terkenal dengan detail tulisannya, dan masuk ke cerita ini saya merasa seperti benar-benar berada di sana.

Cerita dimulai dari perkenalan beberapa tokoh penting kerajaan yang sempat membuat saya berpikir, "Waduh, bisa hafal namanya gak, ya?" Tapi makin ke dalam, ternyata saya makin paham karena tokoh-tokoh yang muncul pun mengerucut.

Gajahmada, seorang pemimpin pasukan Bhayangkara, pasukan yang paling digdaya milik Majapahit, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan bahwa besok pagi akan ada serangan dari para pemberontak kerajaan. Pesan ini disampaikan oleh seseorang yang menyamar dan memiliki kata sandi 'Bagaskara Manjer Kawuryan'.

Siapakah para pemberontak ini? Taktik perang apa yang akan mereka pakai? Bagaimana harus menyelamatkan Raja Jayanegara beserta keluarga kerajaan yang lain?

Gajahmada harus berpikir cepat karena waktunya tidak banyak. Dengan bantuan para Bhayangkara, akhirnya mereka mengetahui bahwa para Rakrian Dharmaputra Winehsuka-lah pelakunya, dengan Ra Kuti sebagai otaknya.

Maka dimulailah kehidupan perang di Majapahit. Keluarga diungsikan, termasuk Raja Jayanegara. 

Bedanya, penyelamatan Sang Raja dilakukan sendiri oleh Gajahmada. Berdua dengan Sang Raja, mereka memulai gerilya penyelamatan. Masuk ke lubang bawah tanah, menyelam di sungai, menyamar sebagai rakyat jelata, sampai membenamkan diri di lumpur mereka lakukan. Mengungsi ke Kabuyutan Mojoagung sampai ke Kedadu. 

Gajahmada tidak melepas pikir sedetik pun tentang bagaimana membalas perlakuan pada Winehsuka. Dengan mengerahkan pada Bhayangkara tentunya, walaupun sebenarnya Gajahmada tahu bahwa ada pengkhianat di dalam Bhayangkara.

Satu demi satu permasalahan teratasi sampai akhirnya mereka bisa merebut kembali Majapahit. Ra Kuti dan tiga Winehsuka lainnya terbunuh. Tinggal Ra Tanca, si ahli racun dan pengobatan dicebloskan ke dalam penjara. 

Kenapa Gajahmada memilih hal itu? Siapa sebenarnya Ra Tanca? Bagaimana nasib Raja Jayanegara selanjutnya?

Ini bukan buku fiksi sejarah yang membosankan dan akan membuat kita mengantuk saat membacanya. Melainkan inilah buku referensi yang diperlukan kaum muda untuk lebih memahami sejarah. Bahasanya mudah dimengerti dan sangat detil penggambarannya.

---------------------

  • Gajah Mada 2
  • Takhta dan Angkara
  • Langit Kresna Hariadi
  • Tiga Serangkai, 2017.


Seri kedua buku Gajah Mada ini mengambil setting waktu 9 tahun setelah pemberontakan para Dharmaputera terjadi. Saat itu, Ra Tanca yang tidak dibiarkan mati oleh Gajahmada dan dibiarkan hidup di wilayah Majapahit telah beristri, bahkan menjadi orang terpercaya untuk masalah pengobatan juga pembuatan racun.

Suatu hari, terdengar kabar bahwa Raja Jayanegara sakit, Ra Tanca dipanggil untuk melihat keadaan Jayanegara. Alih-alih mengobati, ramuan obat dari Ra Tanca malah membunuh Jayanegara. Hal ini dilakukannya di depan kedua adik Jayanegara dan Gajahmada.

Gajahmada murka, Ra Tanca mati terkena pisau Gajahmada.

Majapahit berduka. Di dalam kedukaan, Ratu Gayatri yang disepakati mengambil alih pemerintahan Jayanegara sebelum diadakan penunjukan siapa dari kedua adik perempuan Jayanegara yang akan menjadi pengganti kakaknya memimpin Majapahit. Apakah Sri Gitarja ataukah Dyah Wiyat?

Ratu Gayatri memerintahkan Gajahmada untuk mempersiapkan pernikahan Sri Gitarja dengan Cakradara dan Dyah Wiyat dengan Kudamerta. Selagi jenazah kakaknya belum dilayon.

Tak disangka, setelah kematian Jayanegara dan Ra Tanca, terjadi beberapa pembunuhan di luar gerbang istana. Satunya mati terbakar di kobaran api, yang diduga adalah Panji Wiradana, orang kepercayaan Kudamerta, calon suami Dyah Wiyat. Dan satunya lagi mati terkena gigitan ular adalah Lembang Laut, salah satu prajurit Bhayangkara.

Tidak berhenti di situ, satu per satu mayat ditemukan terbunuh. Saat diperiksa, hampir semuanya adalah orang-orang dari pihak Kudamerta. Puncaknya, saat upacara penghormatan terakhir untuk Jayanegara dilaksanakan, salah seorang dari kerumunan orang melemparkan pisaunya ke arah Kudamerta. 

Untunglah hal ini sempat diketahui oleh Pradhabasu, mantan prajurit Bhayangkara yang lalu meringkus orang itu. Untungnya pisau itu tidak mengenai titik vital Kudamerta.

Apakah semua hal yang terjadi ini dilandasi karena perebutan tahta Majapahit? Atau ada alasan lain?

Overall, bagi saya, buku kedua ini lebih ayem dibaca karena lebih menjurus ke arah drama, tidak seperti buku pertama yang sarat adegan perang.