Penulis
1 tahun lalu · 1093 view · 4 menit baca · Ekonomi 22249_66750.jpg
https://pixabay.com/en/chavez-venezuela-president-president-161913/

Gagalnya Proyek Sosialisme Venezuela

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat menonton sebuah video yang memperlihatkan kerumunan manusia sedang membunuh seekor sapi yang sedang makan dilapangan terbuka. Deskripsi dalam video tersebut menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi di Venezuela.

Setelah saya cek, penyebab para orang-orang tersebut membunuh sapi karena mereka kelaparan yang diakibatkan oleh tidak adanya bahan makanan yang dijual di pasar.

Di ibukota Venezuela pemandangan para ibu-ibu yang mengantre di supermarket untuk membeli makanan menjadi hal yang biasa. Mereka harus mengantre pagi-pagi buta demi membeli barang kebutuhan sehari-hari.

Ibu-ibu tersebut juga harus membawa uang dalam jumlah berkarung-karung hanya untuk membeli beberapa bahan makanan. Semenjak tahun 2012, inflasi di Venezuela tak terkendali. Bahkan pada tahun 2017, angka inflasi menyentuh level 4000%.

Semenjak meninggalnya Hugu Chaves tahun 2013, Venezuela mengalami krisis ekonomi parah. Krisis yang bermula dari jatuhnya harga minyak dunia dan berujung pada instabilitas politik dalam negeri Venezuela.


Padahal Venezuela sebelumnya selalu mendapat pujian dari para pengamat internasional sebagai negara yang sukses memberikan jaminan sosial bagi warganya. Mengapa semua hal itu bisa hilang dalam waktu yang singkat?

Negeri Utopia

Gambaran orang tentang negeri utopia adalah sebuah negeri dimana manusia hidup dalam kesejahteraan, tidak ada kesenjangan antara yang kaya dan miskin, semua kebutuhan dapat terbeli, negara memberikan subsidi pada segala hal. Intinya semua aspek kehidupan diatur oleh negara secara adil.

Hal ini lah yang Hugo Chaves coba wujudkan semenjak terpilih sebagai presiden pada tahun 1998. Chaves melakukan program yang disebut Bolivarian Revolution. Tujuannya adalah mewujudkan masyarakat sosialis seperti yang pernah diidamkan oleh Karl Mark.

Guru dari Chaves adalah Fidel Castro. Castro memberikan beragam ide-ide program kesejahteraan kepada Chaves seperti mengatur harga di pasar, memberikan subsidi, menggratiskan pendidikan dan kesehatan. Chaves tahu bahwa semua program ini hanya mungkin dilakukan manakala ada dana yang mencukupi.

Pada tahun 2007, harga minyak dunia menyentuh level $.100/barel. Hal tersebut menyebabkan Venezuela kebanjiran uang dalam jumlah besar. Chaves pun bisa mewujudkan upaya sosialismenya dalam waktu singkat berkat adanya limpahan petro dollar.

Hal yang tidak disadari oleh Chaves adalah petro dollar hanya bisa membiayai program sosialismenya manakala harga minyak cukup tinggi. Jika harga minyak turun, maka akan terjadi krisis karena pengeluaran akan lebih besar dari pendapatan.

Pemerintah Venezuela tidak tertarik untuk melakukan diversifikasi ekonomi, seperti yang dilakukan oleh Uni Emirat Arab atau Kanada. Tetapi malah terus menggantungkan negaranya pada minyak. 95% GDP Venezuela berasa dari minyak.

Pada tahun 2012, mulai terjadi krisis di Venezuela yang disebabkan karena harga minyak dunia yang turun drastis. Rakyat pun marah dan mulai turun kejalan karena negara tidak bisa membeli (impor) barang-barang kebutuhan pokok karena menurunnya sumber pendapatan. Tapi penerus Chaves, Nicolas Maduru tetap merasa jalan sosialisme ala Chaves adalah yang terbaik bagi Venezuela.

Sumber Kejatuhan Sosialisme

Dalam buku, Mengapa Negara Gagal, karangan Acemoglu dan Robinson dijelaskan bahwa penyebab dari failed-state adalah dikarenakan suatu negara gagal dalam membangun institusi politik yang demokratis dan sistem ekonomi yang inklusif.

Apa itu institusi demokrasi? Sistem demokrasi adalah sistem yang menghendaki adanya pembagian kekuasaan dan akuntabilitas publik. Jika suatu negara menerapkan sistem yang demokratis, maka semua aktivitas pemerintah akan dipantai melalui mekanisme check and balances. Tidak akan ada pemusatan kekuasaan, sehingga kesalahan dalam mengambil kebijakan dapat diminimalkan.

Sebelum Chaves berkuasa, Venezuela memiliki semua kemewahan untuk dapat disebut sebagai negara demokratis. Tapi semenjak tahun 1998, Chaves terus melakukan beragam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai satu-satunya King MakerĀ di Venezuela.


Chaves melakukan amandemen konstitusi yang menyebabkan dirinya bisa menjadi presiden seumur hidup, melakukan pembungkaman terhadap oposisi, dan mengatur institusi negara yang seharusnya independen dibawah kendalinya. Fakta yang menyedihkan adalah, semua hal itu dia lakukan dengan cara demokratis, yaitu melalui referendum.

Menjadi pertanyaan? Mengapa rakyat yang telah hidup dalam alam demokrasi ingin berada dalam sistem diktaktor. Freedom House (2017) menjeskan proses ini sebagai Democracy Backsliding. Proses ini umumnya diawali dengan adanya upaya penciptaan ketakutan dan musuh bersama, sehingga rakyat akan menuruti segala kemauan pemerintah.

Melalui orasinya yang menggebu-gebu, Chaves sukses meyakinkan rakyatnya bahwa Venezuela akan diserang oleh Amerika Serikat dan para kapitalis asing akan menjajah kembali Venezuela. Dengan kampanye teror semacam ini, Chaves berhasil menggalang dukungan rakyat dan menjadikan dirinya sebagai pemimpin otoriter di Venezuela.

Ketika institusi demokratis di Venezuela sudah hilang, Chaves juga melakukan upaya untuk menghancurkan sistem ekonomi inklusif yang sudah ada menjadi sistem ekonomi terkontrol. Apa itu sistem ekonomi inklusif? Sistem ekonomi inklusif singkatnya adalah sistem ekonomi yang menghendaki adanya kebebasan berwirausaha. Dengan adanya kegiatan kewirausahaan, maka akan ada semangat inovasi. Inovasi ini lah yang menjadi sumber dari pertumbuhan ekonomi dan perubahan kondisi kehidupan masyarakat.

Negara Venezuela diubah menjadi negara ekstraktif yang hanya bisa mengeruk sumber daya alam yaitu minyak oleh Chaves. Ketergantungan Venezuela terhadap minyak, bukannya dicegah Chaves, tapi malah dibiarkan. Chaves bahkan sampai mengatur harga makanan, gaji dan segala aktivitas ekonomi. Akibatnya, rakyat Venezuela menjadi rakyat yang tidak inovatif dan hanya bergantung kepada negara.


Pelajaran dari Venezuela

Tidak ada yang salah dengan negara yang berupaya membangun jaminan sosial bagi warga negaranya. Hal yang menjadi masalah di Venezuela adalah sosialisme yang dijalankan dengan mengorbankan demokrasi dan sistem pasar bebas.

Sistem sosialisme yang baik menurut saya adalah sistem negara kesejahteraan yang diterapkan oleh Jerman dan negara-negara Skandinavia. Model dalam sistem tersebut adalah tidak segala hal harus diatur oleh negara. Ada beberapa hal yang harus diatur negera seperti menggratiskan pendidikan dan kesehatan, tapi aspek ekonomi lainnya tetap dibiarkan bebas dan mengikuti mekanisme pasar.

Indonesia dapat belajar banyak dari Venezuela, dimana banyak pihak yang semakin ingin negara mengatur segalanya. Ketika kita, meminta negara mengatur segalanya seperti yang terjadi di Venezuela. Hal yang akan kita dapatkan dalam jangka pendek adalah sifat manja dan dalam jangka panjang adalah gagalnya negara karena rakyatnya menjadi tidak inovatif dan sangat bergantung pada pemerintah.

Artikel Terkait