Penulis Lepas
3 bulan lalu · 207 view · 4 menit baca · Politik 56345_41029.jpg
Tribunnews.com

Gagalnya Marketing Politik Debat Perdana

Debat perdana Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 telah terlaksana pada Kamis 17 Januari 2019 di Hotel Bidakara Jakarta, disiarkan oleh empat stasiun televisi yaitu; TVRI, RRI, Kompas TV dan RTV. Debat perdana di moderatori oleh Ira Koesno dan Imam Priono berdasarkan hasil kesepakatan kedua tim sukses pasangan calon.

Sebelum dimulai debat, kedua pasangan calon mendapatkan testimoni karpet merah ketika memasuki Hotel Bidakara. Prabowo-Sandi yang datang lebih awal dari Jokowi-Ma’ruf mendapatkan pertanyaan seputar persiapan debat. 

"Sudah mempersiapkan diri secara matang, dengan mendatangkan para pakar hukum, HAM, korupsi dan terorisme untuk sharing. Saya hanya menyesuaikan dengan wakil saya yang lebih muda”.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf tiba di Hotel Bidakara pukul 19.30, mendapatkan testimoni karpet merah sebelum menuju ruangan debat. Keduanya menggunakan dress hitam putih dan Kiai Ma’ruf dengan hiasan kain batik yang dililitkan pada pinggang.

Jokowi menjawab pertanyaan testimoni sebelum memasuki ruangan debat. 

"Tidak ada perisapan khusus, kami menyampaikan hasil kerja selama ini”. Sedangkan Kiai Ma’ruf: “Saya mendukung Pak Jokowi”.

Pukul 20.06 debat dimulai, kedua pasagan diperisilahkan untuk menyampaikan visi-misi ketika menjalankan pemerintahan lima tahun kedepan jika terpilih nantinya. Jokowi-Ma’ruf mendapatakan kesempatan pertama untuk menyampikan visi-misi diikuti oleh Prabowo-Sandi.

“Indonesia Maju, kami menawarkan optimisme dan masa depan Indonesia yang berkeadilan, Indonesai yang semakin maju, demokratis dan moderen, penegakan hukum dan HAM yang semakin baik. Pemenuhan hak ekonomi menjadi pilihan kami memajukan Indonesia. Kita masih memiliki beban pelanggaran HAM masa lalu, tidak mudah karena kompleksitas hukum pembuktian, harusnya sudah selesai. Kami tetap komitmen selesaikan masalah HAM”

Setalah pasangan nomor 01 menyampaikan visi-misi, moderator mempersilahkan pasangan nomor 02 untuk menyampaikan visi-misi. 

Dalam menghadapi masalah hukum, HAM, korupsi dan terorisme, kami selesaikan dari muara masalah. Kita harus cukup uang untuk menjamin kualitas hidup semua petugas yang berwenang mengambil keputusan sehingga mereka tidak digoda koruptor yang menyogok mereka. Hukum bukan untuk orang kaya, keadilan untuk semua, keamanan untuk semua”. 

Sandiaga menambahkan:

Bersama Prbowo-Sandi Insyaallah kita tegakan hukum, kita pastikan tidak ada koruptor lagi, kita pastikan Indonesia jaya”.

Empat sesi selanjutnya adalah sesi untuk memperkuat visi-misi dengan menjawab pertanyaan yang telah dirangkum dari para panelis debat dan pertanyaan dari kedua pasangan calon sendiri, sedangkan sesi terakhir adalah closing stetmen.

Tetapi debat kali ini dinilai tidak sampai pada substansi sebagaimana permasalahan yang dihadapi. Beberapa menilai bahwa debat kali ini tidak mempengaruhi tren pemilih, bahkan swing voters tidak merubah pilihanya setelah melihat debat perdana tersebut. Jika ditinjau debat perdana tidak mampu meyakinkan para pemilih dan tidak mampu mengambarkan permasalahan secara gamblang juga penyelesaian masalah secara baik.

Pada dasarnya political marketing bertujuan menjadikan voters sebagai subyek bukanlah obyek yang pasif, maka jangan menjadi heran jika debat perdana ramai ditanggapi oleh masyarakat sebagai debat yang selevel dengan debat masyarakat bahkan debat presiden mahasiswa lebih baik.

Sepanjang debat, kedua pasangan calon tidak mampu menarik benang merah dari persoalan yang mendasar sehingga uraian visi-misi tidak menjawab kompleksitas yang di hadapai Indonesia. Padahal, tujuan political marketing adalah menyaring permasalahan yang ada di masyarakat dan menyusun menjadi sebuah visi-misi besar dan dilaksanakan ketika terpilih (Dermody & Scullion, 2001). 

Meskipun political marketing tidak menjamin kemenagan kedua pasangan calon, tetapi marketing politik menyediakan alat untuk menjaga hubungan dengan pemilih agar membangun kepercayaan, sehingga selanjutnya dapat memperoleh dukungan masyarakat (O’Shaughnessy 2001).

Debat pada tanggal 17 Januari 2019 cenderung mempertanyaakan sikap personal satu sama lain, sehingga tidak ditemukan gagasan besar tentang hukum, HAM, korupsi dan terorisme. Di lain sisi, debat terbilang pasif karena panggung hanya dikuasi oleh salah satu orang saja, bahkan tameng keduanya tidak mampu memasarkan diri secara baik, teruatam ide mereka tentang masalah besar yang dihadipi saat ini dan kdepan.

Tentang isu-isu yang didebatkan antara kedau pasangan, pada isu hukum tidak ada ide yang jelas dari pasangan Prabowo-Sandi, isu hukum tidak dapat diselesaikan dengan menaikan gaji para hakim dan kepolisian karena permasalahanya adalah lemahnya lemabaga hukum, hukum yang tidak terintegrasi, pengawasan yang tidak efektif, mental para penegak hukum juga independensi hakim. Sehingga hal-hal tersebut yang dicari jawabanya.

Pada isu HAM Prabowo gagal dalam mencari isu keadilan gender, bahwa perempuan punya peran penting dalam proses public policy, dari sini Prabowo tidak punya isu yang spesifik tentang perempuan dan juga keadlian bagi perempuan.  

Korupsi, tentang biaya politik murah, Jokowi menyampaikan untuk pejabat birokrasi dan politik dilakukan recruitment secara transparan dengan standar yang jelas melalui penyederhaan sistem sehingg pemilu menjadi murah. Tetapi Jokowi lupa menggaris bawahi biaya politik yang murah, bahwa dana kampanyenya berasal dari pihak ketiga sebagaimaan laporan Indonesian Corruption Watch (ICW)

Sedangkan pada isu terorisme, Kiai Ma’ruf tidak memberikan ide sebagaiman seorang peace maker, bahwa tahapan penyelesaian konflik bukan hanya melakukan deralikasasi dan juga menyediakan lapangan pekerjaan, ide ini juga diamini oleh Prabowo sebagai proses penyelesaian konflik. Keduanya melupakan tahapan mendasar dalam menyelesaikan konflik dan terorisme yaitu; peace building, peace keeping, dan conflict management, karena masalah terorisme adalah masalah keamanan negara.

Selain tidak mengupas secara tuntas permasalahan Indonesia, debat perdana belum mampu meyakinkan masyarakat Indonesia.

Agar dapat menyakinkan pemilih, maka dimulai dengan menampung permasalahan dan mencari solusi baru, bukan memberikan pandangan yang terbatas terhadap masalah tersebut, karena lima tahu kedepan adalah perjalanan yang panjang, maka perlu ide-ide besar untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Tujuan kampanye pemilu adalah menggiring pemilih ke biliki suara untuk memilih, lalu bagaimana cara menggiringnya! adalah dengan memberikan janji dan harapan berupa program kerja yang meyakinkan masyarakat dengan begitu pemilih dapat menentukan pilihan diantara keduanya, bukan menjadi golput karena keduanya sama saja.