Lecturer
2 bulan lalu · 555 view · 3 menit baca · Pendidikan 23167_30529.jpg
Sumber: Dokumen Pribadi

Gagalnya Perguruan Tinggi

Karena Parkir Motor

Seorang anak kecil, sebut saja Si Bocah, -berusia tujuh tahun dan saat ini duduk di kelas satu di sebuah sekolah dasar- mungkin harus berpikir dengan serius untuk menjawab pertanyaan yang muncul di dalam benaknya tentang wujud 'sepeda motor' yang sesungguhnya. 

Hal itu terjadi ketika kami berjalan pulang dari jumatan di masjid di fakultas tetangga dan melintasi areal parkir menuju ruang kerja saya di sebuah kampus atau perguruan tinggi. Dalam keluguan dan kepolosannya, karena mungkin tidak menemukan jawaban yang pas bahkan mengimajinasikannya, maka bertanyalah dia. "Pa, bentuk sepeda motor itu kayak mana?".

Tentu saja saya terkejut dan kebingungan, bukankah di depan dan di sekitar kami banyak sepeda motor yang sedang diparkir? Pertanyaan itu disampaikan dengan ekspresi yang lugu dan polos. 

Saya sempat berpikir itu pertanyaan yang lucu, konyol, bahkan...ini menguji atau apa? Saya pun belum bahkan tidak sempat menjawab ketika Si Bocah berkata lagi. "Di papan itu tertulis 'sepeda motor dilarang parkir di sini', tapi kok banyak yang parkir...jadi sepeda motor itu gimana bentuknya?"

Saya akhirnya menyadari, ada semacam upaya menalar realitas yang seutuhnya ada didasarkan pada pengalaman inderawi Si Bocah. Ketika ada papan pengumuman bertuliskan seperti itu, berarti meniadakan sepeda motor yang sesungguhnya memang ada. Namun 'kebenaran' tentang tidak adanya sepeda motor itu meragukannya. 

Sayapun mencoba untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Bahwa yang diparkir, ada di depan, dan di sekitar kita itulah yang selama ini disebut dan dimaksud 'sepeda motor' di papan pengumuman itu. Jadi, begitulah bentuk sepeda motor itu. Namun yang kemudian terjadi dan membingungkannya adalah adanya pelanggaran atas aturan tentang larangan parkir sepeda motor yang ditulis di papan itu. 

Penjelasan itu saya rangkai dalam kalimat sebagai berikut, "itu semua sepeda motor nak, tapi sebenarnya tidak boleh diparkir di situ, orang-orang yang punya atau make sepeda motor itu mungkin ngga bisa baca atau kalaupun bisa baca mungkin ngga bisa mikir...".

Mendengar jawaban dari saya yang cukup panjang itu, Si Bocah mungkin hanya menangkap dengan inderanya yang paling mudah direkam dipikirannya: "tidak bisa membaca"? Hal itu saya pahami setelah Si Bocah bertanya lagi dengan santai tidak kurang lugu dan polosnya, "tu apa gunanya kampus ini, pa?" Hah...! Saya pun mencoba memahami mengapa pertanyaan itu bisa muncul setelah pertanyaan tentang 'bentuk sepeda motor' dan jawaban saya tadi.

Mungkin Si Bocah berpikir bahwa para pemilik dan pengguna sepeda motor itu ke kampus untuk urusan kuliah. Baginya, kuliah adalah tentang belajar, tentang membaca. Kampus adalah tempat belajar dan tentu saja kegiatan utamanya membaca. 

Ketika ada di kampus, mengapa mereka tidak bisa membaca? Mengapa mereka memarkir sepeda motor di tempat yang dilarang itu? Untung Si Bocah tidak terus bertanya tentang "mengapa kampus gagal membuat orang berpikir?"

Percakapan atau dialog dengan Si Bocah ini akhirnya membuat saya merenung dan berpikir. Kenyataan itu akhirnya membuat saya berefleksi sekaligus mendatangkan keprihatinan. Ada fakta tentang kegagalan kampus atau perguruan tinggi dalam mendidik orang-orang yang ada di dalamnya. 

Ditandai dengan warga kampus atau civitas akademika yang melanggar aturan sederhana tentang memarkir sepeda motor dengan benar dan baik. Tidak benar karena memarkir di tempat yang salah, sebab sudah ada larangan memarkir sepeda motor di situ. Tidak baik karena sudah salah mengambil atau menyerobot tempat parkir, ditambah pula dengan memarkir secara asal-asalan dan sembarangan dalam memposisikan sepeda motor. Tampak dari susunan sepeda motor yang berantakan penempatannya. Sehingga terkesan bahwa sepeda motor-sepeda motor itu bagaikan sampah yang berserakan.

Sampah? Ya, ternyata menyampah atau menjadikan segala sesuatu tidak berguna alias melakukan hal-hal yang sia-sia itu sangat mudah dilakukan manusia. Bukankah harus disadari dan diakui bahwa yang sering menyampah sembarangan itulah yang sesungguhnya sampah di muka bumi dan alam semesta?

Apakah dengan demikian maka kampus atau perguruan tinggi dapat diartikan atau dimaknai hanya menghasilkan sampah? Ketidakmampuan menalar sebuah teks dan konteks dengan baik dan benar dengan menganggapnya 'hanya soal parkir' membuat banyak orang menjadi manusia-manusia dengan ketidakmauan untuk mengelola egonya sekaligus mengontrol perilakunya dengan baik dan benar. Bukankah itu kemudian berdampak pada persoalan moralitas karena melangar aturan, menyalahi norma sosial, dan menciderai nilai-nilai kemanusiaan? 

Terbukti bahwa persoalan moralitas bukanlah persoalan langitan yang datang dari ide atau gagasan bahkan pemikiran yang abstrak. Tapi persoalan moralitas adalah persoalan membumi yang hadir dan tercipta dari realitas atau kenyataan material yang nyata.

Memarkir sepeda motor dengan tidak benar dan tidak baik bukan saja melanggar aturan, namun juga merusak pemandangan, dan tentu saja kenyamanan bahkan keamanan. Kerugian ada pada diri sendiri juga pada orang lain. 

Ketika itu terus menerus dibiarkan, maka itu membuktikan kegagalan berpikir dan menalar. Sekaligus membuktikan kegagalan pendidikan di kampus atau perguruan tinggi yang akhirnya hanya menghasilkan peradaban sampah sekaligus sampah peradaban! Na'udzubillaahi min dzalik.