Kuliah itu senangnya waktu pengumuman diterima saja. Tulisan dalam sebuah stiker WhatsApp yang dikirim teman saya. Tampak lucu, tetapi memang benar adanya. Bagi yang sudah mengalami, pasti tahu rasanya.

Melihat nama kita tertulis dalam pengumuman masuk perguruan tinggi memang sangat menyenangkan hati. Perjuangan masuk yang tak semulus kulit bayi akan terkenang dalam sanubari.

Gagal, kata mengerikan tanpa keindahan. Masuk begitu saja dalam kehidupan manusia. Merasakan kegagalan pertama mungkin akan membuat seseorang semakin termotivasi. Akan tetapi, bagaimana ketika gagal lagi dan lagi? Haruskah menyerah atau tetap melangkah?

Siapa sih yang tidak pernah gagal? Hebat sekali mereka. Cerita kegagalan yang mungkin akan membuat orang tertawa atau merangkul saya. Sebelum itu, saya mau sedikit berbagi tentang kebahagiaan sebelum kegagalan menyerang, yaitu pencapaian.

Pencapaian pertama saya ketika kelas 4 SD. Untuk pertama kalinya saya naik ke panggung untuk mendapat penghargaan. Saat itu ada Try Out untuk kelas 4 SD. Beruntungnya, saya mendapat juara ke-4. Ayah yang hadir sangat antusias dan mengambil video dengan menggendong adik saya. 

Pencapaian yang selanjutnya terjadi saat SMA. Pada bulan September 2019, rombongan teater SMA saya menyabet juara dalam dua lomba. Lomba pertama, Festival Ketopak Pelajar tingkat provinsi, diadakan di Klaten. Juara satu bahkan umum pun kami raih. Banyak kategori yang juga kami menangi.

Lomba kedua Festival Seni Tradisi Lisan diadakan di Blora. Hanya berselang satu minggu dari lomba sebelumnya. Dengan cerita yang sama, kami memenangkan juara kedua. Sangat senang karena lomba tersebut tingkat nasional.

Mars SMA kami menjadi penutup malam itu. Sebagai salah satu pemain, saya sangat bangga pada teman-teman dan crew tentunya. Keluar dari zona nyaman dengan memilih mengikuti teater, bukan pengalaman yang buruk. Pengalaman bermakna justru menjadi feedback yang luar biasa.

Saya sudah terlanjur nyaman dengan keteraturan dan mungkin monoton. Entah mengapa tergerak untuk masuk dalam dunia teater yang penuh kebebasan dengan imajinasi mendalam. Cukup sulit menyesuaikan, tetapi teman-teman sangat perhatian. 

Setelah mendapat beberapa ilmu dari teater, saya dapat memanfaatkannya. Suatu acara perkemahan menjadi pelampiasannya. Salah satu lomba perkemahan angkatan tersebut adalah drama. Ditunjuklah saya oleh teman-teman kelas untuk menjadi sutradara. 

Naskah sudah saya selesaikan, tinggal pemain yang mulai terpikirkan. Bersyukurlah saya karena teman-teman antusias. Juga asisten sutradara yang siap membantu saya. Sungguh baik sekali Tuhan. Piala juara kedua ada dalam genggaman. 

Entah kenapa saya selalu merasakan kelancaran dalam rintangan sebelum-sebelumnya. Peringkat sepuluh besar selalu saya kuasai. Teman sefrekuensi juga sudah pasti. Menjadi anggota teater yang sebelumnya tidak terbayang pun saya jalani.

Mungkin karena telah mendapat banyak kesenangan dan akhirnya Tuhan menguji kesabaran. Kegagalan yang menguras pikiran dan menghambat kemajuan mulai datang. Bukan hanya satu atau dua, semoga sudah cukup kegagalan itu saja.

Kegagalan pertama saya saat berjuang masuk perguruan tinggi adalah SNMPTN. Mungkin sedikit meremehkan dengan menunda-nunda belajar SBMPTN. Tuhan tidak merestui jalan pertama saya. Yang pada tanggal 22 Maret 2021,  menangis sejadi-jadinya karena tidak lolos SNMPTN.

Butuh waktu satu minggu untuk dapat bangkit dari kesedikan itu. Sampai akhirnya tepat seminggu, kabar baik datang dari jalur PMDK bahwa saya diterima. Semangat timbul dan rasa bersalah perlahan sirna. Yang terpikirkan saat itu adalah sudah bisa kuliah.

Seperti hujan pada siang hari cerah, pengumuman UKT mengiris hati saya. Merasa bersalah kepada orang tua karena memilih prodi dengan UKT cukup tinggi. Senyum orang tua terkadang membuat hati tegar tetapi sedikit menjadi tamparan.  

Perjuangan belum selesai, karena saya akan mengikuti tes UTBK. Satu bulan dengan program super intensif dari bimbel, saya mempersiapkannya. Alhamdulillah, Tuhan memberi kemudahan. Pada tanggal 14 Juni 2021 kabar baik datang dari SBMPTN. Kali ini dengan suka cita saya menyambutnya.

Ibu saya yang sedang tidur, bangun dengan kabar gembira. Anaknya akan menjadi calon sarjana. Senyum air mata turut menghiasi wajah ibu saya. Pintu gerbang dunia nyata telah terbuka untuk saya. Tinggal bagaimana saya menangani dan menghadapi. Satu hal yang harus pasti adalah ketetapan hati.

Hari-hari masa orientasi, berdandan rapi layaknya mahasiswi. Penugasan yang sedikit menguras energi tetapi tetap melaksanakan dengan senang hati. Berkenalan dengan teman baru, kakak tingkat, dosen-dosen, dan seluruh bagian prodi bahkan kampus tercinta ini.

Diterima lewat jalur SBMPTN, saya sangat berharap lolos seleksi KIP-K juga. Akan tetapi, itu menjadi kegagalan selanjutnya. Merasa sangat bersalah kepada orang tua karena gagal berjuang dalam KIP-K. Merasa jadi beban. Curhat ke beberapa teman, bahkan kakak tingkat. 

“Hei semangat, kamu hebat sudah masuk universitas”, kata motivasi dari mereka. Bersyukurlah karena diberi kesempatan berkuliah. Tamparan buat saya.

Kegagalan yang berikutnya. Wah, sudah seperti absen saja. Gagal menjadi panitia acara. Sebenarnya saya cukup menyukai acara yang satu ini. Pastinya akan banyak pengalaman dan teman. Ya Tuhan, lapangkanlah hati saya.

Kegagalan selanjutnya dan semoga menjadi yang terakhir. Gagal menjadi anggota paduan suara mahasiswa. Saya memiliki minat dan bakat dalam bernyanyi dan ingin menyalurkannya lewat paduan suara. Akan tetapi, baru audisi pertama saya sudah kecewa.

Introspeksi diri dari saya. Kegagalan yang telah saya alami memiliki variabel yang sama. Ketika saya mementingkan dunia dan bersenang-senang cukup lama. Lebih memilih menonton drama daripada belajar. Kalau sebagai healing tidak apa-apa menurut saya.

Apa sih yang membuat kalian bangkit dari kegagalan? Kalau saya tentunya motivasi dari orang tua dan teman-teman. Menemukan sebuah gambaran dan hikmah dari setiap kegagalan. Jangan takut untuk memulai dan istirahatlah sebentar menenangkan pikiran.

Semangatlah teman-teman, kegagalan adalah awal dari keajaiban. Mungkin saya belum menemukan titik keajaibannya. Akan tetapi, saya akan menembus zona nyaman dan berlari membawa harapan. Percayalah pada Tuhan yang Maha Baik dan luar biasa. Salam sang pemimpi.