5 bulan lalu · 372 view · 3 min baca · Kesehatan 32721_44017.jpg

Gagal Kontrol Urin, Berbahayakah?

Inkontinensia Urin Akibat Stress

Menjaga kesehatan diri merupakan hal yang penting dan mendasar bagi semua orang. Tidak hanya tentang makanan yang dikonsumsi, ternyata proses pembuangan zat sisa dari tubuh (dikenal dengan ekskresi) tak kalah pentingnya. 

Ini bisa diwujudkan melalui kebiasaan yang sehat mengatur waktu istirahat dan menyeimbangkan aktivitas berolahraga. Berolahraga secara rutin akan membantu lancarnya proses metabolisme dalam tubuh dengan memperbaiki sistem dan sel sesuai dengan kebutuhannya.

Akan tetapi, apakah anda sudah tahu, bahwa proses pembuangan zat sisa dari dalam tubuh bisa menimbulkan gangguan? Salah satu yang sering terabaikan adalah pembuangan urin atau air kencing. 

Pada dasarnya pembuangan air kencing selalu ditandai oleh keinginan untuk pergi ke toilet. Namun, tak jarang timbul masalah apabila hal tersebut tidak dapat ditahan. Masalah ini dalam dunia kesehatan disebut dengan istilah inkontinensia urin.

Ada banyak jenis inkontinensia urin, namun yang paling umum terjadi adalah inkontinensia akibat stress. Menurut jurnal NCBI (National Library of Medicine Amerika) inkontinensia akibat stress adalah keadaan saat keluarnya air kencing secara involunter (tidak disadari) melalui uretra selama peningkatan tekanan abdomen (otot sekitar perut) dan hilangnya peranan otot detrusor. 

Uretra merupakan saluran yang mengalirkan urin keluar dari dalam tubuh. Otot detrusor memegang peranan penting bagi kemampuan kita menahan kencing. 

Secara ringkas, inkontinensia urin terjadi saat kita tidak mampu mengontrol keluarnya urin, baik pada siang atau malam hari. Kelemahan otot detrusor dan uretra dapat disebabkan oleh gangguan pada proses persalinan, penyakit parkinson, pasca operasi, dan obesitas.

Inkontinensia urin akibat stress memiliki gejala. Urin keluar ataupun merembes saat tekanan tertentu terjadi pada kandung kemih (bladder), seperti saat batuk, bersin, tertawa keras, bahkan saat mengangkat beban. Semakin penuh kandung kemih, jumlah urin yang keluar juga semakin banyak. 

Bayangkan ketika hal ini terjadi, permasalahan yang ditimbulkan akan sangat merugikan baik diri pribadi, mulai dari rasa nyeri pinggang sampai kehidupan sosial dan interaksi bersama orang lain.

 Sebenarnya inkontinesia ini memiliki beberapa faktor resiko. Adapun beberapa faktor tersebut yang memperbesar resiko seseorang bisa terkena inkontinensia urin, yaitu:

  • Kelebihan berat badan. Peningkatan berat badan akan berdampak terhadap membesarnya tekanan pada kandung kemih, menyebabkan otot abdomen dan pelvis mengalami kelemahan.
  • Bertambah usia. Semakin tua seseorang, maka kemampuan otot akan berkurang. Khususnya pada wanita lansia, setelah masa menopause maka hormon akan berkurang dan berdampak bagi sistem tubuh.
  • Penyakit saluran kemih (bladder)
  • Berjenis kelamin wanita. Hal ini terjadi karena wanita mengalami kehamilan, melahirkan, dan menopause.
  • Penyakit lainnya. Jenis penyakit yang menyerang sistem neurologis dapat meningkatkan faktor resiko.

Jika mengalami gangguan yang mengarah pada inkontinensia urin, apa yang dapat anda lakukan? Segeralah periksakan sedini mungkin untuk menghindari progresivitas masalah yang mungkin akan timbul. 

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan pemeriksaan fisioterapi. Melalui pemeriksaan ini akan diketahui penyebab inkontinensia yang dialami berdasarkan gejala dan pengalaman pasien sehari-harinya. Selanjutnya pemeriksaan otot akan dilakukan, begitu juga dengan koordinasi, kekuatan, fleksibilitas dari otot pelvis.


Terapi pada inkontinensia akan membantu dalam mengontrol gejala yang ditimbulkan dan mengurangi kebutuhan obat-obatan, bahkan operasi. Fisioterapi juga akan membantu dalam memberikan latihan yang dapat dilakukan dengan mudah dan memberikan dampak pada otot terkait. 

1. Latihan kegel, yaitu mengaplikasikan kontraksi otot spinchter atau keadaan saat hendak menahan kencing. 

2. Biofeedback merupakan alat untuk mendeteksi aktivitas dari otot panggul dan dapat digunakan tegantung gejala. 

3. Penggunaan electrical stimulation untuk membantu meningkatkan kinerja otot tersebut. 


4. Penguatan otot (muscle strengthening) dilakukan untuk mendukung kinerja saluran perkemihan dan otot yang lemah.

Apakah kondisi ini dapat dicegah? Tentu saja pencegahan sangat disarankan, khususnya saat sekarang dengan mobilitas tinggi dan kesibukan, kita perlu memperhatikan hal-hal berikut.

  • Nutrisi dan diet yang baik. Ini berkaitan dengan makan dan minuman yang dapat mengiritasi kandung kemih (bladder).
  • Kurangi kebiasaan tidak baik yang berkaitan dengan timbulnya gejala.
  • Mengatur pola toiletting (ke toilet). Jangan menahan keinginan kencing terlalu lama, karena akan berdampak pada kelemahan akibat tekanan di kandung kemih (bladder).
  • Konsumsi air sesuai kebutuhan tubuh untuk mengatur pasokan air dalam tubuh dan memperlancar metabolisme.
  • Lakukan teknik latihan terkait otot pelvis, yang meliputi penguatan (strengthening) dan penguluran (stretching).
  • Aturlah kebiasaan olahraga dan aktivitas fisik secara aktif.

Dalam mengaplikasikan latihan terkait otot dan tekniknya, anda dapat merujuk kepada latihan secara mandiri. Anda juga dapat menemui fisioterapis untuk pengaplikasian latihan secara lebih detail untuk mencapai tujuan yang tepat dan baik.

 Jadi, masalah kencing atau inkontinensia urin akan berdampak buruk secara progresif, namun mampu diatasi dengan tindakan pencegahan dan pemulihan secara tepat. 

Tolong jangan biarkan tubuh anda menderita karena anda yang kurang peduli, mari belajar menjaga kesehatan secara mandiri.

Artikel Terkait