Kata “gagal” adalah kata yang membuat jantung setiap orang berdetak lebih kencang, Karena begitu kata gagal kita ucapkan, segala pikiran yang negatif langsung saja menyeruak masuk, dan diikuti oleh ketakutan-ketakutan yang mungkin harus dihadapi.

Umumnya orang beranggapan persoalan gagal erat hubungannya dengan kesialan. Kita sering mendengar orang mengatakan, “Apa pun yang dikerjakan mengalami kegagalan, apakah saya sial?”, "Apakah memang ada orang yang ditadirkan selalu gagal atau saya hanya ketiban sial?"

Benarkah kegagalan memiliki kekerabatan bersahabat dengan kesialan? Apakah orang-orang yang mengalami kegagalan alasannya mereka sial? Apakah orang-orang yang bekerja keras, tetapi tidak pernah berhasil, alasannya memang mereka sial?

Dari dua pertanyaan di atas seperti kegagalan memiliki pengaruh yang besar terhadap kesialan, padahal kenyataannya tidak. Faktanya, seseorang yang sudah gonta-ganti pekerjaan, entah berapa kali, tak pernah beruntung dengan pekerjaannya. Jangankan beli rumah, cicil motor pun susah. 

Apa pun yang dikerjakannya selalu mengalami kegagalan. Mencoba buka warung, hasilnya tidak cukup untuk bayar sewa tempat, listrik, dan air. Mencoba jualan pulsa, keuntungannya untuk makan siang saja tidak cukup. Kemungkinan orang yang bernasib seperti ini ada puluhan bahkan ratusan ribu orang. Bahkan mungkin bisa jadi jutaan orang.

Lalu mengapa ada orang yang gagal padahal sudah berjuang keras? Apakah mereka lagi ketiban sial? Di mana letak masalahnya?

Sebenarnya kegagalan terjadi bukan alasannya ketiban sial, dan kegagalan tidak ada kaitan dengan sial, tapi alasannya banyak faktor, antara lain:

Setengah Hati

Mengerjakan sesuatu dengan setengah hati, sehingga menghadirkan rasa malas terselubung dalam diri. Akibatnya, tidak fokus pada apa yang sedang dikerjakan. 

Mengharapkan keajaiban (over expectation), sehingga ketika baru saja mulai berusaha dan belum menampakkan hasilnya terus merasa gagal dan meloncat ke pekerjaan lainnya. Ibarat induk ayam yang tidak betah mengerami telurnya, maka telurnya bukannya bermetamorfosa menjadi anak ayam, malah membusuk dan terbuang sia-sia.

Menuntut Hak, tapi Lupa Kewajiban

Mencoba menjadi karyawan, tapi dalam benaknya hanyalah kapan terima gaji atau kapan gaji dinaikkan atau kapan akan dapat bonus dari perusahaan. Tak terpikirkan untuk melakukan kewajiban terlebih dulu. Lupa bahwa hak itu baru ada ketika kita sudah melakukan kewajiban kita.

Khawatir dan Cemas Berlebihan

Rasa khawatir dan cemas adalah manusiawi. Khawatir tak mampu mencukupi kebutuhan hidup. Khawatir karena usia makin bertambah, sementara isi tabungan makin berkurang. 

Kecemasan yang berlebihan menjadi penyebab orang menjadi gelisah, galau, dan tidak mampu berpikir secara arif. Apa pun yang dilakukan, bersifat asal-asalan.

Ketakutan akan Kegagalan

Justru ketakutan itu sendiri sesungguhnya adalah biang dari kegagalan. Akibat dihantui rasa takut, cemas dan khawatir, maka pikiran tidak lagi terbuka untuk sebuah perubahaan. Malahan kesempatan yang disodorkan di depan mata dibiarkan berlalu begitu saja.

Kebanyakan Berpikir

Pikir itu adalah pelita hati, tapi terlalu banyak berpikir membuat orang tidak melakukan apa pun dalam hidupnya. Mungkin saja ia menjadi pemikir dan ahli dalam berteori, tapi nihil dalam praktik ilmu kehidupan.

Kurang Percaya Diri

Kalau kita tidak percaya pada diri sendiri, siapa lagi yang akan percaya pada kita? Orang yang tidak percaya diri sesungguhnya adalah orang yang secara tanpa sadar melecehkan dirinya sendiri dengan berbagai alasan. Misalnya: saya bukan sarjana, saya masih terlalu muda atau saya sudah terlalu tua, dan seterusnya

Takut Mengambil Risiko

Mau sukses, tapi tidak takut akan risikonya, mana mungkin? 

Sukses dan kegagalan itu adalah ibarat sekeping mata uang yang selalu memiliki dua belah sisi. Dan kita tidak mungkin hanya mengambil salah satu sisi saja. Meraih sukses berarti siap menghadapi tantangan karena harapan untuk sukses mengandung dua hal, yakni tantangan dan risiko.

Beranilah mengambil risiko untuk dapat meraih kesuksesan hidup. Karena yang terburuk dalam hidup ini bukanlah orang yang gagal dalam usahanya, melainkan orang yang hanya melamun ingin sukses, tapi tidak berani melangkah keluar dari zona aman dan kenyamanannya, karena tidak berani mengambil risiko.

Jadi faktor yang membuat seseorang menjadi gagal kemungkinan besar penyebabnya datang dari diri sendiri. Maka, cobalah jauhi kata kesialan. 

Alasannya, kata ini sering kali membuat banyak orang terjerumus dalam keterpurukan. Orang yang selalu mengatakan sial sering mengalami depresi, galau, khawatir, dan putus asa. Ia bertumpu pada ketidakpastian.

Ketika gagal, ia kecewa, mengeluh, dan menyalahkan keadaan. Ketika berhasil, ia berbangga diri dan menyatakan bahwa keberuntungan telah menghampiri dirinya. Padahal kenyataannya, keterpurukan memiliki probabilitas lebih tinggi untuk ia rasakan dibandingkan keberhasilan.

Jangan hingga kita percaya kegagalan karena kesialan. Alasannya, pada hakikatnya, tidak ada kegagalan di dunia ini. Semuanya telah diatur oleh sang Pencipta.

Bahkan hingga sehelai daun jatuh dari pohon pun semuanya telah diatur dengan sempurna. Peran insan ialah berjuang keras. Alasannya, kita diberikan kehendak di bawah kendali Tuhan untuk membangun hidup yang lebih baik.

Jangan hingga kita yakin dengan kegagalan karena kita sial. Alasannya, keyakinan terhadap kesialan ialah mindset para penjudi. Mereka selalu percaya kegagalan karena disebabkan kesialan. Mereka mengharapkan kemujuran di balik ketidakpastian.

Alih-alih bukannya bekerja keras untuk membangun hidup yang lebih baik, tapi ibarat bayangan disangka tubuh, bagaikan absurd di abun-abun.

Hindari kata sial di balik kegagalan. Bangun definisi yang benar terhadap kegagalan. Buat visi, misi, perencanaan, dan target yang matang untuk sukses. 

Singsingkan lengan baju, jalankan perencanaan dengan penuh keikhlasan dan kerja keras. Evaluasi hasil kerja secara periodik. Bantu dengan doa yang sungguh sungguh. Setelah itu, bertawakkal.

Jangan mengalah dan yakinlah dengan apa yang Anda usahakan. Alasannya, tidak ada kerberhasilan tanpa kegagalan. Kegagalan adalah cambuk untuk meraih impian demi impian.