Kecipak air dipijak beban berat. Berlari tanpa arah di samudera dengan ombak besar. Tubuh beratnya seperti ringan di atas air. Setelah merasuk hutan, memangkas sungai, kini ia berharap jawaban yang dicarinya ditemui di laut.

Mungkin yang menyuruhnya cengengesan sambil nyeletuk, “Ke laut aja kamu, Bhimasena.” Tentunya cengengesannya diikuti oleh Duryodhana yang memohon Bhimasena dijauhkan dari Pandawa agar kekuatan dari keturunan Raja Pandu itu rapuh. Hingga akhirnya Kaurawa bisa menguasai Astina dengan leluasa.

Bagi Bhimasena, tak ada kata gagal dalam kamus hidupnya. Badannya besar, otaknya cupid. Tetapi gegara konsistensinya, berkembang kecerdasan spiritual yang tak dinyana didapatnya. Utamanya ketika perintah itu datang dari sang gurunya, Bhatara Durna, yang berat sebelah menyayangi karena ia hidup dari harta dan kekuasaan Kaurawa.

Di samudra, dalam kelelahannya, Bhimasena berhenti, berusaha mengapung sambil berpikir keras mencari keberadaan Tirta Prawidhi, sebuah titah yang dianggapnya berbentuk benda fisik.

Seorang berjalan di atas air. Kecil wujudnya. Bahkan lebih mirip kurcaci. Pembawaannya tenang dengan busana serba putih. Ada cahaya yang mengurungnya seperti dome. Ia menghampiri Bhimasena yang kelelahan. “Aku sang penguasa samudera,” ujarnya memperkenalkan diri.

Bhimasena tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin samudra seluas itu dikuasai oleh orang kecil yang mengenalkan dirinya sebagai Dewa Ruci?

***

Tidak ada satu pemerintahan dalam suatu daerah atau negara didukung 100% rakyatnya. Bahkan ketika Rasulullah memimpin Madinah, mayoritas penyukanya harus berhadapan dengan minoritas yang tak menyukainya. 

Hal yang sama terjadi pada negara demokrasi maupun kerajaan sekalipun. Ketidaksukaan terhadap figur maupun cara memerintah sang pemimpin dominan menjadi alasan tiada dukungan baginya.

Yang membedakan antara rakyat tidak suka atau benar-benar tidak suka adalah dengan diam atau bicara. Diam karena tak ingin menimbulkan konflik yang berujung pada keselamatannya sendiri. Bicara karena ia benar-benar ingin menyuarakan ketidaksukaannya dengan cara lantang dan sengit.

Meski yang tak menyukainya bersikap diam, kebanyakan tunduk pada kewajibannya. Berbeda dengan yang tak suka hingga bicara lantang, ia akan cenderung melakukan pemberontakan terhadap kewajibannya.

Pemicu orang diam hingga akhirnya harus bicara bukan disebabkan karena tekanan politik atau kekuasaan. Sebab tekanan ini sifatnya bukan mendiamkan, tetapi membuat rakyat yang tak suka, benar-benar diam. Sekali berujar, maka akan timbul sanksi yang cepat sekali dijatuhkan.

Sejak Desember 2011, sering terjadi aksi demo menentang ketidakadilan ekonomi di Amerika Serikat. Demo tersebut diberi nama Occupy Wall Street, digelar di New York, dan menyebar kemudian di hampir seluruh negara bagian AS. Mereka mendemo Wall Street yang sudah sangat rakus dan menyebut gerakannya itu “We’re the 99%”.

Penyebutan itu mengkritik kekayaan nasional 40%-nya dikuasai 1% orang kaya dan 60% kekayaan nasional sisanya dibagi-bagi kepada 99% rakyat Amerika. Gerakan itu harus menerima pukulan balik dari aparat keamanan.

Demo semirip terjadi di Roma, Italia, hingga mengerahkan 200.000 massa. Aksi represif dilakukan aparat keamanan sangat keras. Di Inggris, delapan orang ditahan karena nekad masuk ke dalam kawasan Paternoster Square tempat London Stock Exchange berada.

Dan di Suriah, kejadian yang sama memicu perang saudara dan masuknya pihak-pihak lain yang memperkeruh suasana hingga kini telah menghancurkan negeri kaya akan peradaban manusia tersebut.

Isu kesenjangan ekonomi paling seksi menggerakkan nalar massa di samping isu SARA yang sering turut larut menambah keruh. Mudah-mudahan Indonesia mampu menanganinya jauh lebih baik.

***

Bhimasena masuk ke dalam telinga Dewa Ruci. Di dalamnya, ia melihat esensi kesejatian manusia. Tentang kesegaran dan kedamaian nurani. Apa yang dimaksud Bhatara Durna tentang tirta prawidhi ternyata adalah itu. Dan masing-masing manusia memilikinya sebagai anugerah Illahi.

Teringat akan turunnya wahyu paska perang badar yang diterima Rasulullah. Bahwa perang terbesar dalam hidup ini adalah perang terhadap hawa nafsu.

Seorang teman sedang duduk sambil menyorot tajam matanya. Ekspresinya sedang tak senang. Saya mendekatinya, menanyakan ada apa.

Teman bertutur singkat-singkat. Tentang kegundahannya terhadap kecurangan yang terjadi pada pilpres kali ini. Ia tak terima pilihannya dikalahkan oleh paslon yang dibencinya sejak 2014 lalu. Tangannya berkali-kali mengangkat smartphone-nya. Sepertinya hendak mengetik membuat status di media sosialnya.

Memang, sudah lama ia sering menyebar status kebencian di media sosialnya. Saya sering membacanya meski unfollow dirinya. Kadang geleng-geleng kepala melihat ulah orang membenci. Dalam diamnya memang ia tak bicara, tetapi gemuruh amarahnya ramai di benaknya. Ia menyiram minyak di hatinya hingga tak sempat menimbang-nimbang tentang bisikan nuraninya.

Sambil meninggalkannya, saya berujar padanya, “Tenang, bro. Apa pun yang terjadi, gagal bukan berarti berhasil. Karena paslon-mu adalah orang berhasil untuk gagal.”

Ia melempar saya dengan kerikil. “Rese!”

“Hey, emangnya saya Jamarat pakai dilempar jumroh segala...”