Izin kepada langit yang tinggi, pada bumi yang bijak nan dipijak tapi memberi biji, tumbuh-menumbuh. Juga pada laut yang lapang tempat segara penat dilabuhkan. Dan sebagian lain yang senantiasa hidup-menghidupi. 

Sederet gunung, selapang hati seorang ibu, sejingga senja, secangkir kopi, seutas tali, sejuta harapan, tak akan pernah mampu mewakili terjemahan dari nilai kemanusiaan jutaan orang yang bernaung di bawah water cannon dan gas air mata. 

Tetasan keringat perjuangan, bara api perlawanan, serta mimpi akan kemerdekaan seutuhnya yang mereka perjuangkan tidaklah akan sia-sia. Harapan akan kesejahteraan lewat kekuatan massa. Meyakinkan setiap insan, lepas dari zona nyaman. Tumpah darah pun jadi taruhannya. 

Sejak mentari menyembul, beberapa hari sebelumnya, hingga saat ini, Sabtu, 28 September 2019 (malam Minggu), seperti biasanya, momentum remaja bercumbu. Sayangnya keadaan tak selalu sama. Malam yang sebelumnya menjadi pelepas penat, kini diisi dengan pergolakan fisik, jiwa, dan mental di ruang-ruang terbuka melawan tirani. 

Antara siang, juga malam. Mereka masih serupa di tempat yang sama, di persimpangan jalan-jalan raya meminta keadilan dan tanggung-jawab sebuah negara.

Betul, mahasiswa membuktikan kekuatannya. Menentang revisi UU KPK, serta RKUHP lainnya, yang mereka nilai melenceng dari nilai-nilai demokrasi. Mereka menolak tegas dengan turun ke jalan.

Terlihat dari jauh, satu simpul dalam gerak berurutan, serentak di setiap daerah. Teriak lantang seragam, "salam mahasiswa", sontak jawaban menggema di langit luas, "Salam".

Tak peduli jurusan apa, dari kampus mana. Mereka terikat satu dalam perjuangan bersama, TOLAK REVISI UU KPK dan banyak tuntutan lainnya terlampir di setiap jargon yang dibawanya. 

Tak bernostalgia, tak pula bercumbu dengan kekasih. Memperjuangkan rakyat lebih penting bagi mereka. Daripada tunduk patuh pada penguasa, atau di selangkangan perempuan tercinta. 

Waktu ke waktu. Membuat beberapa mahasiswa lelah tapi tetap berdiri tegak menenteng toak dengan teriak lantang. Satu-dua nyawa terenggut. Mereka tumbang, namun tak benar-benar mati. 

Jiwa besar mereka menggelora di langit ke tujuh. Tentang kematian yang benar-benar menjadi jawaban atas semua kebenaran. Mereka tak menyesal, sama sekali tidak! Mereka justru sangat bangga, mati dalam keadaan melawan di garis perjuangan. 

Sejarah baru dimulai, catatan tokoh bertambah atas matinya pemuda lewat terobosan peluru di dada. Setiap tahun kematiannya akan diperingati sebagai tragedi berdarah di negeri demokrasi yang bimbang ini.

Sudah lumayan lama, perjuangan tanpa henti, memantik semangat, sontak publik mulai mendukung. Era baru akan dimulai. 

Jerih-payah petani di desa, sembari berdoa meminta keselamatan anaknya yang sedang demonstrasi di kota. Sebab anaknya memperjuangkan banyak orang. Beberapa dosen memindahkan ruang kuliahnya di halaman DPRD di daerah masing-masing. 

Tetapi di atas sana, di gedung megah itu, di ruang-ruang yang setiap sudutnya memiliki AC. Dengan pongah, ongkang-ongkang kaki, pejabat kita banyak yang sedang asik berpangku tangan seolah menyaksikan drama korea yang endingnya mengingatkan masa lalu, sesak di dada dan menyakitkan, tapi bukan hal penting.

Pejabat kita banyak tak berubah, menganggap demonstrasi sebagai hal yang biasa dan wajar. Sehingga mereka tak mau tulus menyambut. Sebaliknya, sepatu booth dan laras panjang diperintah membubarkan paksa tontonannya bila lekas sudah membosankan. 

Para demonstran tetap tegar dan sangat sadar, bahwa kalau bukan mereka, siapa lagi? Perubahan tak jatuh dari langit. Ia adalah buah dari pohon yang lama tumbuh bernama perjuangan. 

Kesadaran atas rujukan persis mendekam lama dan tanggal di benak mereka, seperti bayangan Tan Malaka, "Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda".

Seirama getaran perjuangan itu menumbuh makin besar di jalanan. Layaknya hipnotis seumpama meresap kutipan Che Guevara, "Bila hatimu bergetar melihat penindasan, maka kaulah kawanku".

September 2019. Menjadi sejarah baru dengan sebutan yang entah apa pun itu, akan dikenal sebagai satu tragedi arus sejarah yang tak akan padam. 

Entah pemerintah akan mengambil sikap, atau membiarkan pertumpahan darah terus berlanjut, demi demokrasi dan keadilan yang utuh. Namun, satu hal yang pasti, mahasiswa dan seluruh elemen yang sadar akan tanggung bernegara, akan terus berjuang hingga titik darah penyelesaian.

Kepedulian pada nilai A tak lagi tampak, hegemoni akademik hilang ditelan arus semangat perjuangan. Rakyat lebih utama, baginya urusan nilai adalah perihal individu. Rakyat menggugat, mahasiswa harus turun menyalurkan keluh-kesah yang telah menggunung itu.

Berbahagialah mereka yang demi kebenaran dan kemanusiaan, mati tertembak. Bergembiralah para mahasiswa, pemuda dan seluruh rakyat yang menggugat. Memang hidup hanya tentang perjuangan atas kebenaran. 

Jelas orang-orang seperti itu adalah pahlawan, bila tidak dicatat oleh sejarah, ia akan dicatat alam semesta atas kemuliaan tindakannya.

Singkat kata: Panjang umur perjuangan, hidup hanya soal benar, waktu tak menunggu. Maka melawan adalah mutlak untuk merdeka.