Mahasiswa
6 hari lalu · 126 view · 3 min baca · Puisi 22834_80724.jpg

Gadisku Jangan Beranjak Dewasa

Beban Waktu

Takutku berkembang menjadi bara api, mengingat kau akan menjadi gas diantaranya

Kau akan membakar seluruh hutan kewibawaan.

Senyapmu menjadi surga sementara, karena kutahu kau juga akan beranjak dewasa

Seperti batu yang semakin membesar di atas pundak, dan pasak kakiku semakin menyusut

Waktu diantara kita menjadi jalan kembalinya pahit masa laluku

Yang memburu seperti busur yang tidak mempunyai tuan


Singa Lapar

Nak! Di luar sana singa sedang kelaparan

Menunggu beningnya air wajahmu

Menanti hangatnya tubuhmu

Maka jangan sekali-kali darahmu kau perlihatkan, dia suka dan dia cinta

Cintanyanya itu palsu belaka, ia bukan pencari nikmat senja

Tapi pencari sunyinya malam

Ia kedingin, butuh hangatnya api neraka.


Pemberianku Sia-Sia

Halulisanasi ini harus segera berakhir, aku tersadar aku sedang di dalam peluk lautan buas

Tarikan tanganku dan dorongan kakiku membawamu ke ujung kemunafikan

Peluh keringat dan pompa paruku sia-sia

Entah aku salah membawamu, atau salah apa yang kuberi.

Ternyata betul, pemberianku membuat ku terhina

Ku kumpulkan segala awan supaya kau teduh, namun kau beranggapan aku yang berniat membuat langit mendung.

Dan besi yang ku pukul itu akan jadi mahkotamu, bukkan pedang yang menembus robekan perutmu.


Malam Itu Kejam

Setiap detik berlalu jantungku selalu berdetak kencang

Iya, senja mulai malu-malu menghilangkan batang hidungnya.

Malampun tiba

Malam yang selalu ingin setiap bunga yang sedang wangi-wanginya menjadi layu

Walaupun ku akui, bagiku dulu malam adalah surga segenap surga yang ada di bumi

Serigala-serigala jantan bertumpahan air liurnya, mereka haus dan kelaparan

Dari tadi pagi taring meraka sudah siap digunakan dan lidah meraka siap digunakan untuk menjilat segala yang ada.

Juga jangan berharap kepada bukit, dia hanya indah jika bulan purnama tiba.

Dan angin-angin di sanayang menyampaikan pesan kau sudah siap untuk dihina.


Biarkan Aku Saja

Semua hal di sini menyakiti sukmaku, pelukmu menjadi penawar kapanpun

Kalaupun kau menginginkan biarkan aku saja

Sedihku tidak kutahu harus kubawa kemana

Hutan persembunyian tidak  hadir di sini

Hujanpun tak berpihak menyabotase air mata ini

Kita biarkan semua berlalu, kita indahkan malam ini

Kau harus siap menganggap aku bukan siapa-siapa

Hanya tetesan hujan di antara tumpukan salju

Dan jangan biarkan matamu tertuju padaku.

Jangan biarkan aku hidup lebih lama.


Harapan

Dalam lingkaran sepi ini, aku bernyanyi

Lirik dari sedih yang menggunung dan irama dari capaian dosa

Hangatnya malam berubah seketika  menjadi kawanan pembawa bara api

Aku dihidangkan serangkaian  gerak-gerik hinaku dulu

Terlambat aku sadari

Semua ini bukan salahmu, atau juga aku yang berlebihan dalam mendongeng

Karma yang telah menyelimuti, karena aku membangkang kepada hukum bulan bintang

Bukan bintang yang kubuat tersenyum, begitu juga bulan

Ini hanya sekedar ingin melihat dunia tersenyum

Melihat malam hangat tanpa bara api, yang membuat malam tersenyum

Dan menghibur setiap nyawa, nyawa antara luka dan kecewa

Semoga mimpi yang muncul penuh cahaya

Mengingat ini hanya sekali, mungkinpun tidak.

Kuharap ini tidak tertunda.


Kata-Kataku Masih Ada

Menunggu lagi

Mungkin jarak kebahagian ini  tidak terlalu jauh

Juga tidak lama terlalu lama dia hadir, dan jangan katakan kepadaku dia hilang rasa

Atau dia sudah trauma.

Kata-kataku sedang hangat-hangatnya menunggu yang mungkin ada kepastian di sana.

Jangan katakan juga ada kebencian di sana.

Aku bicara aku lupa arti, biarkan hati yang mengartikan

Biar rindu yang menafsirkan, ia akan melihat dalam gelapnya malam.


Handuk Hijau

Bukan awal segalanya

Hanya penyebab terbesar atas segalanya

Kontras warna kulit dan handuk itu membuat hidungku melebar dan pupilkan mata menjadi pekat kehitaman.

Ada sesuatu yang merangkak  ingin melompat keluar

Menampakkan kebringasan yang hikiki.

Dan dia menipuku, atau aku yang ingin ditipu

Hanya beberapa detik terasa begitu lama

Aku ingin segera menyesudahi ini

Dan kumaki diri sendiri

Ternyata semua telah terjadi.

Rambutpun diam menjadi kaku membisu

Dia tidak ingin menasehati dan menolak tawaran

Berbeda dengan lidah yang menari kegirangan.


Peluk Yang Dirindukan

Sendal murahan saja ditemani oleh kasih sayang

Menjalin kasih di antara jalan berliku

Memberi makna setiap dorongan langkah

Memuncak kepada yang dirindui.

Luka yang dulu kau persilakan beristirahat sejenak

Sedangkan luka kau bangunkan dengan kericuhan asmara

Batinku batinmu terlarang sejak waktu ada

Namun peluk kita tidak.

Kakiku kakimu tidak bisa searah dan selangkah

Namun tujuan kita sama.

Lidahku lidahmu tidak sama dalam berucap

Namun mereka berada dalam satu ruang.

Bagi meraka keindahan akan selalu nyata

Mereka hanya memandang tanpa memahami

Namun bagi kita keindahan itu hanya rencana

Rencana di antara rindu-rindu bersemai

Dalam saingan takdir, di lingkaran bisu tanpa mendengar.

Artikel Terkait