Mahasiswa
2 bulan lalu · 143 view · 8 min baca · Sosok 30128_76369.jpg
Foto: PBS

Gadis Tiri Paman Sam

Sepak Terjang Wanita Pembangkang

Si manis Yahudi ini lahir jauh sebelum tensi abad 19 mencapai puncaknya. Angan kekanak-kanakannya menari di antara dongeng Jerman dan kebaikan-kebaikan heroik kesatria Kurland, di tengah-tengah keluarga normal, dengan impian layaknya keluarga-keluarga lain pada umumnya. 

Imajinasi yang dimanjakan dengan kisah-kisah indah ini tak berlangsung lama hingga ia menyadari akan hadirnya mendung bayangan gelap kehidupan. 

Mata mungil penuh impian itu berkali-kali menjadi saksi bagaimana sentimen rasial bermain di lingkungannya, bagaimana lelaki muda yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga diseret ke barak demi 'membela' tanah air, bagaimana seorang pelayan perempuan disiksa oleh majikannya hingga jatuh sebagai pemuas nafsu belaka. 

Telinganya sudah tidak merasa asing lagi dengan tangisan petani wanita miskin yang kehilangan putranya, dengan ungkapan patriarkis sang ayah bersamaan dengan cambuk yang berusaha memenjarakan angan liar muda itu.

"Kamu hanya perlu memotong mi dengan rapi dan melahirkan banyak anak untuk lelaki!" 

Tentu saja, layaknya keluarga pada umumnya, mereka tidak menyadari bahwa segala pemandangan 'indah' masa kanak-kanak yang dikonsumsi si kecil sedang merangkai hasrat yang akan memberontak dan menggegerkan dunia di kemudian hari. 

Layaknya keluarga pada umumnya yang mendambakan keluarga religius, dan melahirkan cucu yang religius, keluarga sejahtera yang bermoral dan etis, mereka sama sekali tidak menyangka akan melahirkan musuh abadi mereka sendiri, yang menentang segala fondasi etis mereka sampai ke akar-akarnya. 

Takdir mengantarkan si gadis ke rumah neneknya di timur Prusia, Konigsberg, kota Immanuel Kant. Kali ini, si manis tumbuh layaknya Cinderella di antara bibi-bibi yang lebih memedulikan kegiatan praktis daripada khayalan utopis, dan berbagai macam hal-hal etis yang mengikat. Ini berlangsung sejak dia berusia 7 tahun. 

Kemudian, semua berubah saat orang tuanya tiba ketika dia berusia 13 tahun. Kehidupan layaknya Cinderella pun ditinggalkannya. Suasana sekolah yang ceria, les privat tambahan, musik, dan kehidupan gadis remaja kelas menengah pada umumnya kini menanti, membawa angin segar untuk angan liar kekanak-kanakannya. 

Angin segar yang menghampiri ternyata tidak seperti yang diharapkan. Di tengah-tengah perjuangan hidup dan mati otokrasi dan intelektual, di mana kehidupan intelektual dipenuhi dengan semangat ilegal, gadis yang rela mengambil koin orang tuanya secara diam-diam untuk diberikan kepada wanita malang yang berlindung dari kejaran majikan bejatnya ini tampaknya dihampiri angin segar yang ilegal pula. 

Ketika keluarganya menyadari kecenderungannya, dia pun dikirimkan ke luar negeri, jauh di dunia yang konon berbanding terbalik dengan dunianya, tanah kebebasan, Amerika Serikat. Oh ya, saya lupa menyebutkan bahwa dia bernama Emma Goldman dan Emma kecil yang malang bukan anak yang diharapkan.

Selamat Datang di Tanah Kebebasan 

Aroma kebebasan menanti, negeri surga pembela kedamaian dunia, tanah yang menjunjung tinggi kebebasan. Pandangan umum mereka yang berada jauh dari negeri Paman Sam, termasuk Emma, memberi harapan akan hidup yang lebih baik, lebih waras dari sebelumnya. 


Harapan itu sirna ketika dia mulai menjalani hidup baru tersebut. Eksploitasi yang sejak awal diwanti-wanti pun makin terasa. Suasana kekeluargaan yang penuh canda kini tinggal khayalan. Kini Emma sendiri, di tengah-tengah kerumunan manusia yang berbahasa asing, hanya menuruti apa yang diperintah para mandor yang kasar, perbudakan era modern. 

Gadis-gadis penjahit yang malang harus mengayuh mesin jahit dengan kaki mereka dari pagi hingga malam demi 2,5 dolar per minggu, tanpa penerangan, tanpa canda tawa. Bukan hanya tujuan ekonomi saja, tapi juga sebagai komoditas seksual para mandor dan bos mereka.

Jika mereka tersinggung, mereka akan dipecat dan dengan mudah mendapatkan pengganti mengingat tingginya permintaan pekerjaan pada masa itu. 

Ternyata angin segar ilegal yang mengguncang tanah kelahiran Emma tidak berhenti di sana. Tentu saja tanpa kekangan ayah patriarkisnya ia menjadi lebih leluasa untuk mempelajari banyak hal baru. Sementara dunianya makin keruh dengan perbudakan era modern, dia telah membiasakan dirinya dengan literatur-literatur pembangkang.

Dia pun menjadi saksi dari hiruk pikuk perjuangan gigih antara para pemogok dan aparat keamanan, tragedi haymarket  yang banyak memakan korban di mana para penguasa tidak menyadari bahwa darah yang tumpah di tangan mereka adalah syarat untuk lahirnya jiwa-jiwa baru yang lebih panas. 

Emma makin menyadari bahwa kebebasan yang selama ini digembar-gemborkan bukanlah untuk wanita miskin seperti dia. Dan dengan dieksekusi matinya pemimpin-pemimpin kaum miskin setelah tragedi berdarah itu, mengharapkan belas kasih pada penguasa sama saja dengan bunuh diri. 

Kini lengkap sudah komposisi peledak di dalam jiwanya. Emma yang beranjak dewasa dengan kenangan pahit hanya butuh pemantik.

Lahirnya Sang Agitator

Pemantik itu hadir dalam wujud pria karismatik dengan orasinya yang menggebu-gebu. Sosok yang penuh energi dan siksaan yang pernah ia alami selama perjuangannya membangkitkan simpati yang besar pada kaum muda, tidak terkecuali Emma. 

John Most tiba di New York sebagai pencari suaka politik yang kehilangan kedudukannya di parlemen Jerman, sebagai akibat dari pengesahan undang-undang Anti-Sosialis kemudian hadir memberi api antusiasme baru di negeri 'Paman Sam' kala itu. 

Pada periode yang sama, Emma juga bertemu dengan sosok sahabat yang akan berperan penting sepanjang perjuangannya ke depan, Alexander Berkman. Ia seorang pembangkang yang terusir dari Russia, dengan membawa paspor serigala yang membuat semua peluang lapangan pekerjaan tertutup untuknya.

Di bawah pengaruh John Most, di tengah-tengah pekerjaan yang buruk, sang agitator muda dengan sumpahnya yang teguh untuk bergabung ke dalam barisan kaum miskin dan mendedikasikan seluruh kemampuannya demi tercapainya emansipasi dari perbudakan upah. Dengan kekasihnya Alexander 'Shasha' Berkman, mereka aktif dalam mempropagandakan gagasan-gagasan keadilan sosial dan pembebasan kaum buruh.

Hubungan baik mereka dengan John Most tidak berlangsung lama. Emma dan Sasha memisahkan diri dengan kelompok John akibat perbedaan pandangan permasalahan taktis, kemudian bergabung dengan kelompok Autonomy.  

Pada periode tersebut, Emma bertemu dengan Robert Reitzel. Melaluinya, ia mulai mengenal penulis-penulis sastra terbaik di era modern.

Namanya kian mencuat di kalangan pemuda radikal, sang orator muda dengan visi luar biasa, terlalu indah untuk bisa hinggap pada kepala manusia modern pada umumnya. Agitator yang namanya akan selalu membekas dalam dunia pembangkang telah lahir.

Datangnya Cuaca Buruk

"Saya lebih memilih melihat setiap pemogok terbunuh daripada memenuhi satu tuntutan dari mereka!" Pernyataan publik Henry Clay Frick ini akan menjadi awal dari kejadian-kejadian pahit yang akan datang. 

Angin panas pembangkangan merasuki kesadaran para buruh baja. Pemogokan Homestead Steel terjadi saat Andrew Carnegie selaku pemiliknya berada di
Skotlandia. 


Sementara itu, tanggung jawab diberikan kepada Henry Frick yang memerintahkan para penembak secara membabi buta menembaki sebelas pemogok yang di antaranya adalah bocah berumur 10 tahun. 

Seluruh media bahkan pers konservatif mengecam tindakan Frick. Seluruh negeri dipenuhi amarah terhadapnya, namun hanya satu yang mengambil tindakan. Sasha, kekasih Emma, terlalu manusiawi untuk tabah mendengar kabar pahit tersebut. 

22 Juli 1892, Alexander Berkman memasuki kantor Henry Frick, menembaki 3 peluru, mencoba menghabisi 'Sang Gessler dari Pittsburg', namun ia gagal. 

Pers konservatif berbalik menyerang Emma. Dia dituduh berperan dalam menghasut Berkman yang menghadapi hukuman selama 22 tahun penjara. Aksi Berkman bahkan dikecam oleh John Most dan kelompoknya. Dalam rapat-rapat privat, Emma diserang dari berbagai penjuru karena mendukung aksi kekasihnya.

Kini sang orator berjalan sendiri. Salah satu seniman yang tinggal bersamanya pun meninggalkannya setelah gagal dalam usaha bunuh diri. Terlalu gengsi untuk mencari perlindungan membuatnya menyendiri, berkemah liar di taman-taman umum. Namanya kian familiar di tanah Paman Sam, namun penuh dekat kabut. 

Tidak! Gadis pembangkang kita tidak patah semangat. Dia hanya butuh lebih banyak energi untuk kembali membakar amarah Paman Sam. 

Setelah lelah dengan kemah liarnya di taman-taman umum, Emma menemukan rumah di mana dia diterima dengan hangat. Di antara orang-orang yang dibuang oleh warga moralis, para pekerja seks menerimanya dengan tulus ketimbang warga kota moralis yang 'baik', di mana dia dapat beristirahat dan bekerja dengan mesin jahitnya kembali. 

Setelah kelelahan dan serangkaian penderitaan yang panjang, dokter mendiagnosa penyakitnya sebagai tuberkulosis. Emma meninggalkan New York, menuju Rochester, dengan harapan suasana keluarga dapat membantu kesembuhannya, di mana beberapa tahun sebelumnya orang tua Emma telah pindah ke situ. 

Emma tetap diterima oleh orang tuanya walaupun pola pikir mereka benar-benar berseberangan. Kali ini Emma dapat benar-benar beristirahat dan mendapatkan kembali energinya setelah penderitaan fisik dan mental yang cukup panjang. 

Perjuangan Seumur Hidup 

Tidak, perjuangannya belum selesai di sini. Emma tidak mengenal lelah. Dia telah dikutuk dengan watak idealis dan pekerja keras. 

Setelah sembuh, ia kembali ke New York, diundang sebagai pembicara pada pemogokan besar-besaran pekerja pembuat mantel di Union Square. Agitator telah kembali dengan pidato membakar jiwa-jiwa yang tertindas.

"Kemiskinan tidak mengenal hukum, dan orang yang kelaparan memiliki sifat alami untuk membagi roti dengan tetangganya. Mintalah pekerjaan. Jika mereka tidak memberimu pekerjaan, mintalah roti. Jika mereka tidak memberimu keduanya, rebutlah roti itu!"

Media kembali menyoroti Emma, tentu saja dengan gambaran yang gelap, terus menyerang Emma dari segala penjuru. Dia kemudian ditahan dan ditawarkan imbalan yang sangat besar untuk mengkhianati para buruh, menunjukkan betapa miskinnya akal penguasa yang mengharapkan pengkhianatan seorang pemuda idealis yang telah mengorbankan segala kepentingan pribadinya demi keadilan sosial. 

Oktober 1893, ia dibawa ke pengadilan atas tuduhan menghasut terjadinya kerusuhan dengan 1 bukti melawan 12 saksi mata yang membelanya. 


Ia bebas pada Agustus 1894, sebagai tokoh penting bagi kaum radikal, dihormati atas kesetiaannya terhadap perjuangan. Banyak orang meminta bantuannya untuk kepentingan isu-isu sosial lainnya. 

Emma meninggalkan Amerika Serikat demi mempelajari kondisi di Eropa yang makin memanas, bertemu dengan para sastrawan terkemuka Eropa: Nietzche, Ibsen, Hauptmann, dan sastrawan pemberontak lain yang memberinya inspirasi.

Ia kembali ke New York pada musim gugur 1896 dan melancarkan propaganda besarnya hingga California, membantu penerbitan media-media pemberontak, mengumpulkan dana untuk kaum revolusioner Kuba, lalu meneruskan ceramah panjangnya hingga ke pantai pasifik pada tahun 1899, lalu kembali mempropagandakan gagasannya ke Eropa di tahun yang sama, hingga mengakhiri ceramah panjangnya pada kongres internasional Paris. 

Selain itu, dia menghadiri berbagai macam kongres internasional lainnya, mengumpulkan dana bagi kaum revolusioner Russia, mengecam perang dunia dan wajib militer lewat propagandanya, juga mengatur berbagai macam perjalanan tokoh-tokoh radikal termasuk Kropotkin, John Turner, dan tokoh-tokoh radikal lainnya. Dia bahkan menjadi saksi runtuhnya kekaisaran Tsar Russia oleh kaum Bolshevik.

Perjalanan panjangnya dipenuhi dengan berbagai macam dakwaan yang terus menyerangnya walau tidak satu pun terbukti, termasuk salah satu yang paling berat adalah tuduhan bahwa dia adalah otak dari terbunuhnya Presiden McKinley pada 6 September 1901. Penderitaan fisik, hinaan, dan namanya yang buruk telah dilekatkan erat oleh media, bahkan oleh kerabatnya sendiri.

Demikian ringkasan perjalanan panjang si gadis kecil, yang mencuri koin ibunya untuk diberikan kepada wanita miskin. Ia pun tumbuh menjadi pembangkang yang mengguncang otoritas dunia pada masanya.

Gadis tiri Paman Sam. Dia bahkan tidak peduli jika Paman Sam mencabut kewarganegaraannya. Karena bukanlah suatu bangsa yang diperjuangkan, melainkan ibu bumi yang diperkosa oleh anak-anaknya, dan anak-anak lainnya yang tersingkirkan. 

Apa yang dilakukan wanita muda masa kini? 

"Manusia telah membeli otak, tetapi jutaan orang di dunia telah gagal membeli cinta."

Artikel Terkait