I : Perjalanan Singkat

Di antara laut dan pemakaman kita berjalan beriringan di jalanan berpasir putih turut serta menempel di kaki kita. Melihat ombak dan perahu. Merasakan hempasan angin di wajah yang sesekali menerbangkan rambut panjangmu.

Inginku seka rambut itu. Kurapikan sedikit, kusematkan di balik telingamu dan kutambahkan bunga di sana, layaknya di film-film roman. Namun di sepanjang kita berjalan hanya kutemukan bunga kamboja di kompleks pemakaman desa yang kita lewati. Maka jadilah inginku itu hanya sebuah imaji. Memang tak semua keinginan dapat kita wujudkan. Apalagi keinginan untuk serupa dalam film-film, susah. Film memang kebanyakan terinspirasi dari kehidupan nyata, tapi yakinlah kau akan kesulitan jika hidupmu ingin seperti yang terjadi dalam film.

Tapi apa salahnya mencoba mewujudkan keinginan, meski keinginan itu serupa di film? Tak salah. Namun sore itu kuurungkan untuk melakukannya. Kubiarkan beberapa helai rambut panjangmu berkibar dikibas angin. Sesekali kunikmati adegan itu dari sudut mataku. Hanya itu yang kulakukan. Tak berani sampai menyekanya.

Dan saat ujung rambutmu mengenai bahuku, kutatap kau. Kita saling pandang untuk beberapa saat. Lalu kau bergegas merapikannya. Mencoba menggulungnya namun urung. Sebab tak kau temui ikat rambutmu.

Reflek ku sodorkan karet yang semula di pergelangan kiriku. Kau masih dengan satu tangan menahan rambutmu, satu tangan lain meraih karet itu. Dan aku yang terdiam melihatmu menggulung dan mengikat rambutmu. Ternyata kau tampak lebih mempesona dengan rambut terikat seperti itu.

Lalu kau tersenyum. Dan kita kembali berjalan.

“Enak, ya, orang sini. Kalau nongkrong bisa di samping kuburan.” Candamu, mengusir kegugupan yang menyertai kita, setelah melihat bapak-bapak duduk di pos ronda dekat pemakaman.

Perjalanan sekejap itu berhenti di depan rumahmu yang menghadap langsung ke laut. Dan aku harus terus berjalan. Hanya disertai pandangan dan senyummu yang membuat jalanku makin kaku.

Perjumpaan itu singkat. Serupa kedipan. Namun saat mata ini terbuka kau tinggal di ujung kelopakku meski hanya sebagai bayangan.



II : Berpisah

Di perjalananku yang sendiri, setelah kau berhenti di depan rumahmu dan mengikutiku dalam pandangan, tahukah kau tentang debar ini? Serupa ombak, menggulung dan menerjang. Menggoyang-goyangkan dalam dadaku. Seperti kebanyakan perahu yang juga bergoyang menyambut air dan angin sore itu. Hanya karang yang tak goyah oleh gelombang. Tapi di hadapanmu hatiku bukanlah karang. Hatiku hanya sebatang kayu yang terbawah ombak dalam laut matamu.

Di hati ada desir yang terasa getir. Di benak ombak bak arak, memabukkan. Semakin jauh langkahku menjauhi rumahmu, semakin memanjang ingatan tentang rambut panjangmu yang berkibar. Dengan kulit yang tak serupa sawo matang, melainkan layaknya pohon sawo yang terkelupas : bening, langsat, tak seperti kebanyakan kulit orang pesisir yang bersahabat erat dengan matahari.

Jalanku semakin jauh. Kau kian mengganggu, di pikiran. Mengingat jalan sempit berliku yang kita lewati sebelum sampai jalanan dekat pemakaman. Kau dengan mudah menunjukkan jalan itu. Padahal besar harapan kita berbelok atau salah masuk gang, sehingga memperlama kebersamaan kita dan sedikit menunda perpisahan ini.

Meski perpisahan itu pasti, serupa kematian. Namun apa salahnya jika berharap kedatangannya agak terlambat, agar bisa lebih lama menikmati fase sebelum hadirnya.

Aku kembali melewati pemakaman itu, sendiri. Entah masih atau tanpa pandangmu mengikutiku. Aku tak lagi berani menengok ke belakang.

Ku tengok pemakaman di samping. Beberapa bunga kamboja jatuh di samping maesan. Asap dari pembakaran ikan mbelo terbawa angin sampai padaku.



III : Ombak setelah Perpisahan

Kau gadis yang sejak perjalanan beriringan kita yang singkat itu, menjelma ombak. Menyeretku tuk larut dalam ingatan tentangmu.

Tawa pelanmu yang terus bergema di rongga kepala, mengalahkan debur gelombang yang pecah. Sorot mata yang sedikit mencuri sudut tuk menatapku, mampu memantik kesadaran : terlena.

Maka malam itu, genap dua belas hari setelah perjumpaan singkat kita, aku kembali ke pesisir. Bukan tuk menemuimu, melainkan ke sudut jauh di mana rumahmu hanya terlihat seukuran kamboja.

Lalu kuceburkan diri ke ombak di gelap malam. Di sana, sumber cahaya hanya lampu perahu. Berharap ingatan tentangmu tanggal dan tenggelam. Tak lagi menggumpal di pikiran ini. Sebab kutahu - dan kurasa kau pun tahu - bahwa perjalanan itu tak kan terulang kembali. Kecuali jika hanya dalam mimpi.

Setelah sekujur tubuh basah, mata gelap dan perih akibat air asin laut yang juga memenuhi hidung dan mulut. Suara bapak-bapak menyadarkanku, “Nak... Tangi, Nak”.

Aku tergagap bangun dari mimpi tidur. Beberapa detik gelap. Pertama yang mampu ditangkap mataku ialah sosok Bapakmu. Lalu kutengok bajuku yang kuyup oleh keringat. Perlahan kesadaranku kembali. Ternyata Bapakmu yang membangunkanku. Dan kau mendekap tas menanti di ambang pintu kamar di belakang Bapakmu.

“Ayo, Mas. Jadi nganterin to?” Katamu, dengan mata penuh harap.

***

Beberapa menit kemudian, kita sudah keluar dari rumah. Berjalan beriringan. Melewati ombak, perahu, dan kompleks pemakaman dengan kamboja yang berguguran diterpa angin yang juga membawa aroma dari pembakaran mbelo.